Pengakuan Warga yang Terdampak Akibat Tidak Maksimalnya IPAL TPA Sarimukti Mulai dari Pencemaran hingga Penyakit

Segudang permasalahan sebagai akibat dari tidak maksimalnya Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat telah dirasakan masyarakat di Desa Sarimukti.

Pengakuan Warga yang Terdampak Akibat Tidak Maksimalnya IPAL TPA Sarimukti Mulai dari Pencemaran hingga Penyakit

INILAHKORAN, Ngamprah - Segudang permasalahan sebagai akibat dari tidak maksimalnya Instalasi Pengolahan air limbah atau Ipal di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat telah dirasakan masyarakat di Desa Sarimukti.

Tak cuma itu, air lindi dari TPA Sarimukti tersebut mencemari sungai-sungai besar mulai dari sungai Cimeta, sungai Citarum hingga Waduk Cirata. Termasuk membuat air sungai Cipanawuan, Ciganas dan Cipicung berwarna coklat pekat, berbusa dan mengeluarkan bau menyengat. 

Hal itu disebabkan pipa pengeluaran air atau outlet instalasi pengolahan air limbah (IPAL) TPA Sarimukti masih memproduksi air lindi yang diduga merembas ke badan sungai.

Salah satunya seperti yang dirasakan Abah Sobirin, 67 tahun. Warga Kampung Cinagrog, Desa Sarimukti, Kecamatan Cipatat yang kerap menggarap ladang di sekitar TPA Sarimukti ini hampir setiap hari pulang pergi melewati sungai Ciganas dengan menahan bau.

"Bau cuma sudah terbiasa, karena hampir setiap hari kami melewati jalan pinggir sungai Ciganas dan airnya sejak lama memang warna cokelat pekat seperti ini. Mungkin disebabkan oleh limbah Sarimukti," kata Abah Sobirin belum lama ini.

Kendati berada sekitar 100 meter di atas sungai Ciganas, di area permukiman yang hanya ada 5 rumah panggung itu ketara dengan bau menyengat.

"Saya masih ingat dulu airnya bersih dan jernih. Sejak ada TPA Sarimukti air di sungai Ciganas ini jadi cokelat, berbusa dan bau," katanya.

"Memang sangat tidak nyaman, saya sering sesak mungkin terpengaruh sungai di bawah, tapi lama-lama terbiasa juga. Pengennya pindah tapi gimana lagi, ini satu-satunya tempat tinggal saya," sambungnya.

Dikatakan Diki, debit air limbah di sungai Ciganas kerap kali mendadak tinggi pada waktu-waktu tertentu. Ketika itu terjadi, dirinya menduga out fall IPAL TPA Sarimukti sengaja di buka pengelola, karena air lindi yang masuk sudah tak tertampung di tempat pengolahan tersebut.

"Memang air sungai ini kan dari TPA Sarimukti jadi airnya hitam seperti itu. Bahkan ada kalanya satu atau dua bulan sekali bendungan (IPAL) nya seperti sengaja di buka," katanya. 

"Kalau sedang di buka airnya meluap bahkan bisa mencapai jembatan yang melintasi sungai Ciganas dan baunya jauh lebih menyengat dari biasanya," ucapnya.

Tak hanya itu, Diki mengaku, baik dirinya maupun warga sekitar lebih memilih tidak menggunakan air sumur bor yang berada di aliran sungai Ciganas yang berada di sekitar TPA Sarimukti lantaran khawatir tercemar bahan berbahaya dan beracun atau B3 yang ada dalam air lindi.

Oleh karena itu, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, warga terbiasa mengandalkan air dari pegunungan.

"Kalau di sini meskipun tak banyak tapi air bersih mencukupi, sumbernya dari atas sana. Tapi kalau untuk sumur bor selain mahal juga gak ada yang berani karena takut sudah tercemar air limbah Sarimukti. Sebenarnya ada satu sumur sepertinya itu digunakan untuk mengetes kualitas sumber air," paparnya.

Selain itu, sambung Diki, dirinya dan keluarga kerap terserang sesak nafas, namun dirinya tak mengetahui secara pasti apa yang menjadi penyebabnya. Bahkan, anak-anaknya kerap terserang penyakit kulit.

"Sebenarnya kalau sudah terbiasa gak terlalu terpengaruh (keberadaan sungai air lindi) tapi memang yang paling sering itu sesak nafas udara di sekitar juga menyesakan," sambungnya.

Senada dengan Diki, Erni (44) mengatakan air di anak-anak sungai yang bermuara ke Citarum berubah warna sejak beroperasinya TPA Sarimukti. 

Menurut warga Kampung Cinagrog yang berdekatan dengan sungai Cipicung ini, kondisi sungai terpapar air lindi cukup bermasalah lantaran airnya tidak lagi bisa dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat.

"Kalau dulu di sungai Cipicung atau di Cipanawuan itu banyak yang mancing, ikannya juga banyak. Terus saya masih ingat warga tuh banyak yang nyuci di sana. Tapi sejak ada TPA Sarimukti itu airnya jadi bau dan hitam. Sejak saat itu warga mulai memasang sumur bor," ucapnya.

Bahkan, sambung Erni, di sungai Cimeta yang lebih besar tidak lagi bisa dimaksimalkan oleh warga. Warga yang kerap mencari ikan khawatir jika airnya tercemar oleh zat berbahaya dari air lindi TPA Sarimukti. 

Di sini sekarang hanya dimanfaatkan oleh masyarakat dan remaja untuk menyuci sepeda motornya.

"Apalagi kalau hujan deras dalam waktu yang lama, air lindi dari hulunya pun debitnya tinggi sekali. Nah kalau udah begitu baunya sudah enggak karuan," katanya. 

"Tapi untungnya kalau sekarang sumber air kami ada sumur bor dan memang di sini gak terkontaminasi karena jauh lebih tinggi dari pada sungai Cipicung," pungkasnya.*** (agus satia negara)


Editor : Ahmad Sayuti