Warga Terdampak Bencana Pergerakan Tanah di Rongga  Masih Numpang Selama Delapan Bulan

Korban pergerakan tanah di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB) hanya bisa pasrah lantaran keinginan untuk bisa mendapatkan tempat tinggal yang laik tak kunjung terealisasi.

Warga Terdampak Bencana Pergerakan Tanah di Rongga  Masih Numpang Selama Delapan Bulan
Korban pergerakan tanah di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB) hanya bisa pasrah lantaran keinginan untuk bisa mendapatkan tempat tinggal yang laik tak kunjung terealisasi./Agus Satia Negara

INILAHKORAN, Ngamprah - Korban pergerakan tanah di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan rongga, kabupaten bandung barat (KBB) hanya bisa pasrah lantaran keinginan untuk bisa mendapatkan tempat tinggal yang laik tak kunjung terealisasi.

Alhasil, mereka kini mulai merasa malu lantaran terlalu lama menumpang di rumah orang lain lantaran tempat tinggal yang dijanjikan pemerintah tak pernah ada kepastian.

Diketahui, bencana alam pergerakan tanah di Cigombong menyebabkan 47 rumah terdampak  dan satu sekolah yaitu SDN Talang pada Februari 2024 mengalami rusak berat.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sudah menyatakan Cigombong tak layak untuk ditinggali. Meski begitu, hampir 8 bulan berlalu warga yang rumahnya terdampak bencana belum mendapatkan kejelasan.

Sebanyak 48 kepala keluarga (KK) atau 192 jiwa harus meninggalkan tempat tinggalnya lantaran berada di zona berbahaya. Sampai saat ini mereka ada yang mengontrak rumah dan tinggal di rumah kerabatnya.

"Saya terus-terusan ditanya warga Cigombong. Mereka menagih janji pemeriksaan yang hingga kini belum ada kabar baik," kata Kepala Desa Cibedug, Engkus Kustendi belum lama ini.

Menurutnya, baik uang sewa rumah maupun relokasi warga yang terdampak bencana pergerakan tanah belum ada kabar terbaru.

"Warga kan sudah tak bisa kembali ke Cigombong karena memang masuk zona berbahaya. Sehingga sampai sekarang mereka bertahan di lokasi pengungsian," tuturnya.

Padahal, ungkap Engkus, sudah ada dua lokasi untuk tempat tinggal  warga. Baik di lahan perkebunan ataupun tanah carik.desa.

"Sayangnya sampai sekarang tidak ada kepastian, nasib warga menjadi terkatung-katung," katanya. ***


Editor : JakaPermana