Yena-Atep  Siapkan Konsep Pengembangan di Kecamatan Margaasih 

Kecamatan Margaasih wilayah Kabupaten Bandung yang berbatasan dengan Kota Bandung dan Kota Cimahi, menjadi salah satu daerah yang menjadi perhatian dari pasangan calon (paslon) nomor urut 3 Yena Iskandar Ma'soem-Atep. Paslon ini memiliki konsep pengembangan pada sektor pertanian, industri dan jasa.

Yena-Atep  Siapkan Konsep Pengembangan di Kecamatan Margaasih 
Yena Iskandar Masoem (kiri). (Dani R Nugraha)

INILAH,Bandung- Kecamatan Margaasih wilayah Kabupaten Bandung yang berbatasan dengan Kota Bandung dan Kota Cimahi, menjadi salah satu daerah yang menjadi perhatian dari pasangan calon (paslon) nomor urut 3 Yena Iskandar Ma'soem-Atep. Paslon ini memiliki konsep pengembangan pada sektor pertanian, industri dan jasa.

"Sebagai wilayah yang berbatasan dengan satu kabupaten dan dua kota, tentunya akan melahirkan beragam wajah masyarakat," kata Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung, Dentarsa, usai konsolidasi pemenangan paslon nomor urut 2 di Kampung Cikuya, Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, Kamis (15/10/2020).

Menurut Dentarsa, kondisi tersebut dapat menjadi modal dasar dalam penataan pembangunan yang berpijak pada sektor jasa. 

"Seperti kita ketahui ada satu daerah di Margaasih, yaitu Cigondewah Hilir yang terkenal dengan pusat perdagangan produk tekstil. Produk tekstil tersebut dapat menjadi modal awal dalam menata masyarakat produktif,"ujarnya.

Sebagai partai pengusung, PDI Perjuangan dan Yena-Atep, lanjut Dentarsa, pihaknya telah menyiapkan model penataan masyarakat khususnya untuk masyarakat metropolis yang gandrung dengan kegiatan jasa. 

Pada kesempatan yang sama, Yena Iskandar Masoem, menyampaikan khusus untuk wilayah Margaasih sejauh pengamatannya ada tiga tipologi masyarakat berdasarkan lapangan pekerjaan, yakni sektor pertanian, industri dan jasa perdagangan. 

"Tiga tipe tersebut merupakan kekuatan yang harus diperlakukan dengan  pendekatan khusus. Karena selama ini masyarakat Margaasih di biarkan tumbuh dengan sendirinya tanpa hadirnya pemerintah kecuali untuk soal-soal yang formal adminsitratif,"katanya.

Dikatakan Yena, hal ini tentunya akan lebih baik bagi Margaasih, jika kehadiran pemerintah daerah di semua ruang yang dapat menggairahkan interaksi ekonomi masyarakat. Ini sangat penting untuk mendorong berkembangnya suatu daerah. 

"Kami telah membuat model pembangunan yang berpijak pada kondisi masyarakat, yaitu one village one produk menjadi perhatian khusus dalam menerapkan gagasan pembangunan berbasis desa," ujarnya. 

Menurut Yena, model masyarakat Margaasih yang sudah cenderung metropolis meminta fasilitas sistem informasi yang ramah UMKM, pemahaman sistem informasi harus dipahami sebagai fasiltas infrastruktur dan suprastrtuktur. 

"Infrastruktur terkait ketersediaan jaringan pendukung informasi dan supratrukktur berupa paket kebijakan yang membuat para pelaku ekonomi khusunya UMKM nyaman untuk dibuatkan," katanya. 

Yena mencontohkan, misalnya kebijakan permodalan, perizinan dan fasilitasi informasi pasar. Dalam hal perwujudan kenyamanan UMKM, UU Cipta Kerja yang telah disahkan DPR dan Pemerintah Pusat akan mendapat ruang praktek yang nyata di Margaasih. 

"Saya mengajak kita semua untuk menguji fungsi undang-undang tersebut bersama-sama. Konsep pembangunan yang dibuat Yena-Atep, menitik beratkan pada ketiga variable tersebut dan haqul yakin tidak akan bertentangan dengan UU Cipta Kerja serta mengikat sangat kuat dengan kehendak masyarakat Margaasih," ujarnya.

Yena melanjutkan, kata dia, hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah mempertahankan wilayah pertanian. Itu dianggap penting karena sumber energi pokok yang dapat menggerakkan masyarakat datang dari sektor tersebut. 

"Margaasih tercatat ada kurang lebih 28 persen wilayahnya berupa lahan petanian sawah, potensi ini mutlak dikembangkan. Pilihannya adalah meningkatkan produktivitas lahan, turunannya dapat berupa pemilihan bibit padi yang berkualitas atau menambah keragaman tanaman yang di tanam terutama yang memiliki potensi pasar yang potensial," katanya. 

 Yena menegaskan, poin penting yang harus dikuatkan dari kebijakan pembangunan Margaasih adalah fasilitas infrastruktur dan suprastrtukturnya harus memiliki ikatan kuat dengan kondisi objektif masyarakat, agar fungsinya menjadi mesin penggerak perekonomian dapat maksimal dan membahagiakan segenap warga Margaasih khusunya dan warga Kabupaten Bandung pada umumnya.(rd dani r nugraha).


Editor : Bsafaat