YKI Jabar: Deteksi Dini Kanker Bisa Dilakukan dengan Lakukan Perilaku CERDIK

Yayasan Kanker Indonesia atau YKI Jabar menilai, tingginya penderita kanker di negeri ini lantaran masih lebarnya kesenjangan informasi faktor risiko yang sebenarnya bisa dicegah dengan deteksi dini kanker.

YKI Jabar: Deteksi Dini Kanker Bisa Dilakukan dengan Lakukan Perilaku CERDIK
Ketua YKI Jabar Dradjat R Suardi mengatakan, pola deteksi dini kanker itu dilakukan agar terwujud diagnosis dini. Ujungnya, pengobatan relatif lebih efektif sesuai target dan manajemen pasien pun terbilang lebih baik. (doni ramdhani)

INILAHKORAN, Bandung - Yayasan Kanker Indonesia atau YKI Jabar menilai, tingginya penderita kanker di negeri ini lantaran masih lebarnya kesenjangan informasi faktor risiko yang sebenarnya bisa dicegah dengan deteksi dini kanker.

Ketua YKI Jabar Dradjat R Suardi mengatakan, pola deteksi dini kanker itu dilakukan agar terwujud diagnosis dini. Ujungnya, pengobatan relatif lebih efektif sesuai target dan manajemen pasien pun terbilang lebih baik.

Dia menyebutkan, lantaran kesenjangan informasi itu tak sedikit pasien yang terlambat mendapatkan penangan medis sejak dini. Padahal, ada upaya preventif yang bisa dilakukan untuk deteksi dini kanker. 

YKI Jabar mengedepankan deteksi dini kanker dengan perilaku CERDIK. Yakni, Cek kesehatan secara teratur, Enyahkan asap rokok, Rajinlah berorahraga, Diet yang seimbang, Istirahat yang cukup, dan Kendalikan stress.

Dradjat pun menuturkan, kesenjangan informasi itu pun diakibatkan adanya sejumlah mitos yang dipercaya mayoritas masyarakat terkait kanker.

"Mayoritas masyarakat percaya, kanker merupakan penyakit turunan. Padahal, jika melihat statistik, penyakit kanker yang dipicu faktor genetik turunan hanya 5%. Selebihnya, 95% bukan akibat faktor turunan. Untuk itu, kita terus menyosialisasikan life style yang baik agar terhindar dari risiko kanker," katanya saat media event YKI Jabar di Bandung, Selasa 22 November 2022.

Dia mengatakan, kasus kanker di Jabar itu sperti fenomena gunung es. Artinya, masih banyak kasus kanker yang belum ditemukan, sehingga butuh kerjasama dengan semua pihak guna mengungkap lebih banyak kasus penyakit kanker yang terjadi. 

"Dari tahun ke tahun jumlah kasus kanker di dunia terus mengalami peingkatan, demikian pula dengan pasien yang meningal akibat penyakit kanker setiap tahun terus bertambah," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua YKI Jabar Indra Wijaya menjelaskan terkait kanker paru-paru yang hingga kini di Indonesia merupakan salah satu jenis penyakit dengan angka kematian tertinggi. 

"85 persen kanker paru-paru berhubungan dengan eksposure rokok. Namun kanker paru-paru bisa juga terjadi pada orang yang bukan perokok atau yang sudah berhenti merokok," sebutnya.

Selain terpapar asap rokok, kanker paru-paru juga bisa dipicu konsumsi makanan tidak sehat secara berlebihan. Plus, aktivitas kurang berolahraga serta terlalu banyak mengonsumsi zat pengawet dan lainnya. 

"Karena itu, pasien penderita kanker paru-paru saat ini banyak terjadi di kalangan usia muda," kata Indra.***


Editor : Doni Ramdhani