1,29 Juta Warga Terdampak Kekeringan, BPBD Jabar Waspadai Ancaman Longsor Saat Hujan
Sebanyak 1.294.655 jiwa di Jabar terdampak kekeringan akibat kemarau panjang yang diperparah fenomena El Nino.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Sebanyak 1.294.655 jiwa di Jabar terdampak kekeringan akibat kemarau panjang yang diperparah fenomena El Nino.
Memasuki masa peralihan menuju musim hujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar mengingatkan potensi bencana hidrometeorologi, terutama tanah longsor.
Berdasarkan data hingga 13 Oktober 2026, kekeringan tersebut berdampak terhadap 394.052 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 276 kecamatan dan 840 desa serta kelurahan.
Guna memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, pemerintah bersama sejumlah instansi telah menyalurkan 38.695.275 liter air bersih ke berbagai wilayah terdampak.
Kabupaten Bekasi menjadi daerah dengan distribusi air bersih terbanyak, yakni 15.869.275 liter. Berikutnya, Kabupaten Bogor menerima 7.615.000 liter, Kabupaten Ciamis 3.003.000 liter, dan Kabupaten Pangandaran 2.393.000 liter.
Sementara itu, penyaluran air bersih di Kabupaten Purwakarta mencapai 1.787.000 liter dan Kota Tasikmalaya sebanyak 1.404.000 liter.
Kepala Pelaksana BPBD Jabar, Teten Ali Mulku Engkun mengatakan, distribusi air bersih dilakukan untuk membantu warga yang kesulitan mendapatkan air akibat kekeringan berkepanjangan.
"Untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat terdampak, pemerintah bersama sejumlah instansi telah mendistribusikan 38.695.275 liter air ke berbagai daerah," ujar Teten, Kamis (15/10/2026).
Di tengah penanganan dampak kekeringan, BPBD Jabar mulai mengantisipasi perubahan cuaca. Berdasarkan prakiraan sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan diperkirakan mulai turun di wilayah selatan Jabar pada minggu ketiga Oktober 2026, kemudian meluas ke wilayah tengah hingga utara.
"Jadi, sekarang Jawa Barat berada dalam masa peralihan. Berdasarkan hasil sementara BMKG yang disampaikan kemarin, diprediksi pada minggu ketiga Oktober hujan mulai terjadi dari wilayah selatan, kemudian ke tengah hingga utara," ucapnya.
Meski sejumlah daerah mulai diguyur hujan, Teten menegaskan Jabar belum resmi memasuki musim penghujan. Saat ini, sebagian wilayah masih berada dalam periode kemarau sehingga perkembangan kondisi cuaca perlu terus dipantau.
"Puncak musim hujan diperkirakan pada akhir tahun sampai awal tahun depan," katanya.
Teten menambahkan, prakiraan tersebut masih dapat berubah mengikuti perkembangan dinamika atmosfer. Karena itu, BPBD terus berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau pembaruan informasi cuaca, baik melalui prakiraan bulanan maupun tiga bulanan.
"Prediksi ini akan terus berkembang seiring waktu. Nanti ada perkiraan tiga bulanan atau perkiraan bulanan, tergantung situasi yang terjadi," tuturnya.
Selain memantau ketersediaan air bersih, BPBD Jabar juga mewaspadai dampak peralihan musim terhadap kondisi tanah. Setelah mengalami kemarau panjang, sejumlah wilayah berpotensi menghadapi risiko pergerakan tanah ketika hujan mulai turun.
Teten menjelaskan, tanah yang mengering selama musim kemarau akan menyerap air pada awal hujan. Namun, karakteristik tanah yang relatif gembur di sejumlah wilayah Jabar perlu menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan risiko longsor.
"Ibarat spons, kalau kering, air yang masuk pada awalnya akan terserap terlebih dahulu," ucapnya.
Editor : Doni Ramdhani
