El Nino Tekan Produksi Pertanian Jabar, Luas Baku Lahan Sawah Juga Menyusut

Produksi pertanian di Jabar menghadapi tekanan akibat kekeringan yang dipicu fenomena El Nino. Dampaknya dirasakan di sejumlah wilayah sentra produksi.

El Nino Tekan Produksi Pertanian Jabar, Luas Baku Lahan Sawah Juga Menyusut
Dampak kekeringan itu terutama dirasakan di sejumlah wilayah sentra produksi padi yang bergantung pada ketersediaan air untuk menjaga produktivitas lahan persawahan. (dok)

INILAHKORAN.ID - Produksi pertanian di Jabar menghadapi tekanan akibat kekeringan yang dipicu fenomena El Nino. 

Dampak kekeringan itu terutama dirasakan di sejumlah wilayah sentra produksi padi yang bergantung pada ketersediaan air untuk menjaga produktivitas lahan persawahan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar Margaretha Ari Anggorowati mengakui, kondisi kekeringan menjadi salah satu kendala dalam produksi pertanian. Namun, faktor cuaca bukan satu-satunya penyebab perubahan capaian produksi.

Menurut Ari, penurunan luas baku lahan pertanian di Jabar turut memengaruhi penghitungan produksi. Terlebih, terdapat perubahan dasar penghitungan luas baku lahan berdasarkan ketentuan yang berbeda.

"Jadi, selain karena kekeringan, memang ada penurunan luas lahan yang menjadi dasar penghitungan produksi pertanian," ujar Ari usai pemaparan Berita Resmi Statistik di Kantor BPS Jabar, Kamis (5/11/2026).

Dia menjelaskan, dampak kekeringan paling terasa di kawasan yang menjadi sentra produksi padi. Keterbatasan pasokan air berpotensi mengganggu aktivitas pertanian di wilayah persawahan tersebut.

"Jelas ada dampaknya, terutama di sentra-sentra produksi padi atau persawahan. Wilayah yang menjadi sentra produksi padi cukup terdampak oleh kekeringan," ungkapnya.

Di sisi lain, perubahan luas baku lahan pertanian juga menjadi aspek penting dalam membaca perkembangan produksi pertanian Jabar. Perbedaan ketentuan penghitungan menyebabkan basis data luas lahan yang digunakan mengalami perubahan.

Ari menyebutkan, BPS telah merilis data terbaru mengenai luas baku lahan pertanian pada 1 November 2026. Publikasi tersebut turut memuat perubahan dan perbedaan data dibandingkan sebelumnya.

"Luas baku lahan tersebut sudah dirilis pada tanggal 1 kemarin, termasuk perubahan dan perbedaannya," pungkas Ari.


Editor : Doni Ramdhani