Kekeringan Terjang 15.613 Ha Sawah di Jabar, Ribuan Hektare Puso dan Produksi Tutun

Musim kemarau 2026 memberi tekanan serius terhadap sektor pertanian Jabar. Hingga 15 September 2026, areal pertanaman padi yang terdampak seluas 15.613,60 ha.

Kekeringan Terjang 15.613 Ha Sawah di Jabar, Ribuan Hektare Puso dan Produksi Tutun
Ilustrasi sawah kekeringan. (dok)

INILAHKORAN.ID - Musim kemarau 2026 memberi tekanan serius terhadap sektor pertanian Jabar. Hingga 15 September 2026, luas areal pertanaman padi yang terdampak kekeringan mencapai 15.613,60 hektare. 

Dari jumlah tersebut, 2.127,60 hektare di antaranya sudah mengalami puso atau gagal panen.

Kabupaten Indramayu menjadi wilayah dengan dampak terparah. Daerah lumbung padi nasional itu mencatat luas sawah terdampak kekeringan mencapai 5.263,40 hektare, sepanjang periode April hingga pertengahan September 2026.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Jabar Yanti Hidyatun Zakiah mengatakan, kekeringan masih menjadi ancaman utama bagi produksi padi di sejumlah sentra pertanian.

"Areal pertanaman padi yang terdampak kekeringan pada musim kemarau 2026 periode April 2026 sampai dengan tanggal 15 September 2026 seluas 15.613,60 hektare," kata Yanti dalam keterangan tertulisnya, Kamis (1/10/2026).

Selain Indramayu, wilayah yang mengalami dampak cukup besar adalah Kabupaten Subang seluas 2.125 hektare, Kabupaten Tasikmalaya 1.455,54 hektare, Kabupaten Karawang 1.027 hektare, dan Kabupaten Majalengka 934 hektare.

Kondisi pada paruh pertama September 2026 menunjukkan tekanan kekeringan masih tinggi. Dalam periode 1-15 September saja, luas sawah terdampak mencapai 7.430,75 hektare.

"Keadaan kekeringan areal pertanaman padi periode tanggal 1-15 September 2026 seluas 7.430,75 hektare," ujarnya.

Pada periode yang sama, luas lahan yang mengalami gagal panen akibat kekeringan mencapai 633,60 hektare. Sementara lahan dengan kategori kekeringan berat tercatat seluas 1.622,92 hektare.

Potensi kehilangan produksi 12.766 ton dampak kekeringan tidak hanya mengurangi luas tanam dan panen, tetapi juga berpotensi memangkas produksi padi Jawa Barat.

Yanti mengungkapkan, luas lahan puso atau gagal panen yang mencapai 2.127,60 hektare berpotensi menyebabkan hilangnya produksi sekitar 12.766 ton gabah.

"Jika memerhatikan areal pertanaman padi yang mengalami puso dampak kekeringan pada musim kemarau 2026 periode April 2026 sampai dengan tanggal 15 September 2026 seluas 2.127,60 hektare, maka potensi kehilangan produksi padi sebesar 12.766 ton dengan asumsi produktivitas 6 ton per hektare," katanya.

Produksi Padi Jabar Diproyeksi Menurun

Berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi Jawa Barat periode Januari-Oktober 2026 diperkirakan mencapai 8.565.668 ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka tersebut lebih rendah dibanding periode yang sama pada 2025, yang mencapai 8.831.867 ton GKG.

Menurut Yanti, penurunan produksi dipengaruhi berkurangnya luas panen sekitar 26.113 hektare dibanding tahun sebelumnya. Kondisi tersebut berkaitan dengan menyusutnya luas tanam pada periode Oktober 2025 hingga Agustus 2026 yang mencapai 28.614 hektare.

Penurunan produksi terbesar terjadi di Kabupaten Karawang, mencapai 68.843 ton GKG. Faktor utama penyebabnya adalah turunnya produktivitas panen pada Januari-April 2026 hingga 7,13 kuintal per hektare akibat banjir yang terjadi pada awal tahun.

Pemprov Optimistis Produksi Tetap Tembus 10 Juta Ton

Meski kekeringan meluas, Pemprov Jawa Barat masih optimistis target produksi padi tahun ini dapat dipertahankan. DTPH memperkirakan perubahan musim mulai terjadi pada Oktober 2026 seiring meningkatnya curah hujan di sejumlah wilayah.

“Memerhatikan kondisi dalam beberapa minggu terakhir, serta informasi BMKG bahwa di Jawa Barat bagian tengah pada bulan Oktober sudah mulai turun hujan hampir merata, kami optimis bahwa mulai bulan Oktober akan terjadi perubahan musim sehingga proyeksi produksi tahun 2026 dapat dipertahankan pada angka 10 juta ton GKG atau menurun sekitar 200 ribu ton dibanding tahun 2025,” ucapnya.

Dia menambahkan, dampak kekeringan tidak hanya memicu penurunan produktivitas tanaman yang sudah tumbuh, tetapi juga menyebabkan tertundanya penanaman baru karena terbatasnya pasokan air.

Guna mengurangi dampak tersebut, pemerintah melakukan berbagai langkah mitigasi bersama sejumlah instansi terkait, di antaranya normalisasi dan rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan jaringan irigasi air tanah, penyediaan pompa air, sistem gilir giring distribusi air, penyelamatan tanaman yang sudah ada, penundaan tanam di daerah tertentu, sosialisasi budidaya hemat air, hingga koordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk bantuan benih bagi petani terdampak bencana.

Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu menekan potensi kerugian petani, sekaligus menjaga stabilitas produksi padi Jawa Barat di tengah ancaman kekeringan yang masih berlangsung. 


Editor : Doni Ramdhani