6 Mitos Gerhana Bulan yang Masih Dipercaya, dari Batara Kala hingga Tanda Bencana
Dari kisah raksasa pemakan bulan hingga anggapan sebagai pertanda musibah, berikut sejumlah mitos gerhana bulan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - gerhana bulan selalu menjadi fenomena langit yang memikat perhatian masyarakat.
Selain penjelasan ilmiah, peristiwa ini juga dibalut berbagai mitos yang berkembang di banyak budaya, termasuk di Indonesia.
Dari kisah raksasa pemakan bulan hingga anggapan sebagai pertanda musibah, berikut sejumlah mitos gerhana bulan yang masih dipercaya hingga kini.
Bulan Ditelan Batara Kala
Dalam tradisi Jawa, gerhana bulan sering dikaitkan dengan sosok raksasa bernama Batara Kala. Ia dipercaya mencoba menelan bulan sehingga cahayanya perlahan menghilang dari langit.
Masyarakat zaman dahulu biasanya memukul kentongan, lesung, atau alat dapur untuk menciptakan suara keras. Tujuannya agar Batara Kala melepaskan bulan dan cahaya kembali muncul.
Ibu Hamil Dilarang Melihat Gerhana
Di sejumlah daerah di Indonesia, terdapat kepercayaan bahwa ibu hamil tidak boleh keluar rumah atau melihat gerhana bulan secara langsung. Konon, pelanggaran terhadap pantangan ini bisa berdampak pada kondisi bayi yang dikandung.
Walau tidak memiliki dasar ilmiah, mitos ini masih diwariskan secara turun-temurun dalam beberapa komunitas.
Naga Langit Menelan Bulan
Legenda dari Tiongkok kuno juga menyebut gerhana bulan terjadi karena seekor naga langit menelan bulan. Untuk mengusirnya, masyarakat membuat kegaduhan dengan memukul drum atau alat musik tradisional agar sang naga pergi.
Cerita ini menjadi bagian penting dari warisan budaya Asia Timur.
Serigala Raksasa dalam Mitologi Nordik
Dalam mitologi bangsa Viking, gerhana bulan terjadi ketika serigala raksasa mengejar dan menggigit bulan. Kisah ini berkaitan dengan legenda tentang akhir zaman yang dikenal sebagai Ragnarok.
Kepercayaan tersebut mencerminkan cara masyarakat kuno menjelaskan fenomena alam yang belum dipahami secara ilmiah.
Pertanda Bencana dan Musibah
Fenomena bulan yang berubah merah saat gerhana total sering disebut sebagai Blood Moon. Di masa lalu, warna merah ini dianggap sebagai simbol darah dan pertanda akan datangnya perang, wabah penyakit, atau kematian tokoh penting.
Anggapan tersebut muncul karena perubahan warna bulan dianggap tidak biasa dan menakutkan.
Energi Kosmik Tidak Stabil
Dalam sebagian kepercayaan spiritual modern, gerhana bulan diyakini sebagai momen energi alam semesta yang tidak stabil. Ada yang menganggapnya waktu kurang tepat untuk mengambil keputusan penting, sementara lainnya melihatnya sebagai kesempatan untuk introspeksi dan membersihkan energi negatif.
Penjelasan Ilmiah gerhana bulan
Secara astronomi, gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan sehingga bayangan Bumi menutupi permukaan Bulan. Warna kemerahan muncul akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi, mirip dengan proses yang membuat langit tampak jingga saat matahari terbenam.
Editor : Firda Rachmawati


