Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Capai Cirebon, Dinkes Imbau Warga Pakai Masker N95
INILAHKORAN.ID - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak sebaran abu vulkanik Gunung
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Warga diimbau membatasi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
Kepala Dinkes Kabupaten Cirebon, Eni Suhaeni, mengatakan abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan serta menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.
“Abu vulkanik dapat berdampak pada sistem pernapasan, mata, dan kulit. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan,” kata Eni, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, partikel abu vulkanik berukuran sangat kecil sehingga mudah terhirup dan masuk ke saluran pernapasan. Paparan tersebut dapat menimbulkan sejumlah keluhan, mulai dari iritasi hidung, batuk, sakit tenggorokan hingga sesak napas.
“Partikel halus abu dapat masuk ke saluran napas dan memperburuk kondisi masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan,” ujarnya.
Selain saluran pernapasan, abu vulkanik juga dapat mengganggu kesehatan mata dan kulit.
Paparan abu dapat menyebabkan mata merah dan berair. Sementara kontak langsung dengan kulit berpotensi menimbulkan rasa gatal dan iritasi. Gesekan partikel abu juga dapat meningkatkan risiko terjadinya luka atau infeksi pada kulit.
Dinkes Kabupaten Cirebon meminta masyarakat segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala berat setelah terpapar abu vulkanik.
“Jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada, gangguan penglihatan, kejang atau penurunan kesadaran, segera datang ke fasilitas kesehatan,” ujar Eni.
Masyarakat di wilayah terdampak disarankan tetap berada di dalam rumah dan membatasi aktivitas di luar ruangan.
Jika harus keluar rumah, warga dianjurkan menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi partikel halus, seperti N95 atau KN95, serta mengenakan kacamata pelindung.
“Jika harus beraktivitas di luar rumah, gunakan masker yang mampu menyaring partikel halus dan pelindung mata,” jelasnya.
Warga juga disarankan mengenakan pakaian berlengan panjang dan sepatu tertutup untuk mengurangi kontak langsung antara abu vulkanik dengan permukaan kulit.
Sebagai langkah perlindungan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Cirebon akan segera menerbitkan Surat Edaran (SE) Bupati mengenai kesiapsiagaan menghadapi dampak erupsi dan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
“Kami akan segera membuat SE Bupati tentang kesiapsiagaan dan perlindungan masyarakat dari dampak erupsi serta sebaran abu vulkanik,” ucap Eni.
Dinkes juga meminta masyarakat menutup rapat pintu dan jendela rumah untuk mencegah abu vulkanik masuk ke dalam ruangan.
Sumber air bersih dan makanan juga perlu ditutup agar tidak terkontaminasi abu.
“Setelah beraktivitas di luar rumah, segera cuci tangan dan bersihkan wajah menggunakan air bersih,” imbaunya.
Dinkes Kabupaten Cirebon turut mengingatkan pengguna jalan untuk meningkatkan kewaspadaan.
Sebaran abu vulkanik berpotensi mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan menjadi licin. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengendara.
Eni juga mengingatkan masyarakat untuk membasahi terlebih dahulu permukaan yang tertutup abu sebelum melakukan pembersihan.
Cara tersebut dilakukan agar partikel halus abu tidak kembali beterbangan dan terhirup saat proses pembersihan.
“Basahi abu sebelum dibersihkan agar tidak kembali beterbangan. Jika gejala kesehatan bertambah berat, segera datangi puskesmas atau rumah sakit terdekat,” pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

