Ada Darah Terinfeksi HIV, Begini Antisipasi PMI Purwakarta

Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Purwakarta, saat ini tengah mengintensifkan pendekakatan kepada masyarakat supaya bersedia mendonorkan darahnya. 

Ada Darah Terinfeksi HIV, Begini Antisipasi PMI Purwakarta
Ilustrasi/Net

INILAH, Purwakarta - Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Purwakarta, saat ini tengah mengintensifkan pendekakatan kepada masyarakat supaya bersedia mendonorkan darahnya. 

Mengingat, biasanya selama puasa nanti minat warga untuk mendonorkan darahnya cenderung menurun. Di sisi lain, kebutuhan akan darah meningkat, apalagi jelang lebaran mendatang.

Namun demikian, PMI tak begitu saja mencari darah dari pendonor. Proteksi tetap dilakukan. Karena, dikhawatirkan ada darah pendonor yang terpapar virus HIV/AIDS.
Kepala Unit Donor Darah (UDD) PMI Cabang Kabupaten Purwakarta, Fatah Hidayat, tak menapik jika darah yang diambil dari pendonor ini kerap kali ada yang terpapar virus HIV/AIDS. 

"Kami sering menemukan darah yang terpapar HIV/AIDS. Kisaran, 5-7 % dari darah yang kami dapat," ujar Fatah kepada INILAH, Rabu (1/5/2019).

Misalkan, kata dia, dalam sebulan darah yang terkumpul 100 labu dari ratusan labu itu ada yang terpapar HIV/AIDS sekitar lima sampai tujuh persen. Adapun ciri darah yang terpapar virus seperti HIV/AIDS, yakni saat diperiksa akan muncul anti HIV.

"Bila ditemukan darah yang seperti itu, maka petugas akan langsung dikarantina. Lalu, labu darah itu akan dimusnahkan. Sebab, kategorinya menjadi limbah B3," jelas dia. 

Dia menjelaskan, dalam setiap kegiatan donor darah sampai terkumpul labu-labu darah ini petugas PMI harus kembali bekerja ekstra. Dengan kata lain, tugas lain yang telah menanti.

Justru, kata dia, yang lebih berat itu proses pascapengambilan darah. Karena, harus ada pengecekan kualitas darah yang diambil dari pendonor tersebut. 

"Pengecekan ini lebih penting, karena untuk mengetahui apakah darah itu benar-benar sehat atau justru terpapar virus dan bakteri yang bisa menimbulkan penyakit tertentu," terang dia. 

Dengan begitu, sambung dia, proses pengecekan darah ini jauh lebih rumit ketimbang mencari pendonor. Sebab, kalau pendonor biasanya suka ada relawan rutin. Atau perusahaan yang telah berkoordinasi untuk ikut berkontribusi dalam menyumbangkan darahnya.

"Yang lebih kita waspadai, justru kesehatan darah tersebut. Sebab, satu tetes darah yang diberikan kepada penerimanya, harus benar-benar steril dan sehat," tambah dia. (Asep Mulyana) 


Editor : Bsafaat