Ada Masalah Talent Development Start-Up di Kota Bandung
Mengembangkan perusahaan rintisan (start-up) memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tak jarang, ada kendala yang harus dilalui sebelum mencapai kesuksesan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung-Mengembangkan perusahaan rintisan (start-up) memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tak jarang, ada kendala yang harus dilalui sebelum mencapai kesuksesan.
Hub Manager of BLOCK71 Danang Juffry mengatakan, salah satu masalah yang kerap menghantui para start-up di Kota Bandung yaitu pada talent development. Di mana kurangnya ketersediaan SDM yang andal.
"Masalah yang paling utama adalah di talent development. Kita ada masalah banyak talent yang dibutuhkan dan tidak tersedia," ujar Danang Juffry di sela-sela acara ulang tahun pertama BlOCK71, di Jalan Ir. H Juanda, Kota Bandung, kemarin (25/10/2019) malam.
Sekalipun ada talent yang mumpuni, dia mengatakan, dewasa ini banyak yang direkrut oleh perusahaan besar level unicorn. Hal tersebut menjadikan perusahaan rintisan yang baru memulai bisnis sulit bersaing.
Danang mencontohkan, pada 2012 lalu star-up di sektor programer mampu membayar talent sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR). Berbeda dengan saat ini, di mana gaji para talent di bidang tersebut sudah jauh di angka UMR.
"Kadang-Kadang itu tidak terjangkau oleh teman teman yang baru start. Kan gak mungkin mereka baru start itu sudah mahal. Sementara kita kalau mau bersaing dengan unicorn juga tidak mampu," paparnya.
Karena itu, menurut Danang, pendampingan kepada perusahaan rintisan mutlak harus dilakukan agar bisnis yang dijalaninya berkembang. Saat ini BLOCK71 sendiri mendampingi sedikitnya 30 start-up yang bergerak di bidang e-commerce hingga game.
"Hampir 50 persen (start-up) asli dari Bandung dan 50 persennya di luar bandung. Itu dari Jakarta dan dari luar negeri seperti Singapur, Hongkong, Australi dan dari Eropa.
Diketahui, BLOCK71 sendiri merupakan coworking spase yang diluncurkan oleh Divisi kewirausahaan Universitas Nasional Singapura (NUS) bersama Salim Group. Fungsinya untuk memfasilitasi para perusahaan rintisan yang berbasis di Kota Bandung dan sekitarnya untuk saling bertukar ide dan berkolaborasi.
Selain itu, BLOCK71 juga membatu para start up dalam urusan legal formal sebagai pendukung usaha yang mereka rintis. Bahkan apabila perusahaan rintisan tersebut menemui hambatan dalam perizinan.
"Kami di sini membantu dan memudahkan semua start up, karena Indonesia dalam urusan star-up sudah kalah dengan negara lain salah satunya oleh Vietnam yang sekarang sudah berkembang sangat cepat," kata dia.
Pihaknya juga, Danang melanjutkan, memberikan kesempatan melalui jaringan dan akses yang dimiliki, agar start up yang sudah cukup mapan dan berkeinginan untuk Go Internasional.
"Kita juga coba buka kalau ada kesempatan bisnis dari network kita, baik nasional maupun internasional. Kita ada kurasi juga mereka dimasukan ke data base," pungkasnya. (Rianto Nurdiansyah)
Editor : JakaPermana

