Ah Mourinho... Bak Detektif Masuk Keranjang Cucian ke Ruang Ganti Tim
BANYAK cerita kontroversial dari sosok Jose Mourinho. Juga, terselip cerita kocak nan menggelikan. Ini salah satunya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
BANYAK cerita kontroversial dari sosok Jose Mourinho. Juga, terselip cerita kocak nan menggelikan. Ini salah satunya.
Pada 2005 lalu, Mourinho masih menangani Chelsea. Dia dilarang masuk Stadion gara-gara menuding pelatih Barcelona, Frank Rijkaard dan wasit Anders Firsk.
Masalah bermula ketika Chelsea takluk 1-2 di kandang Barcelona, tim besutan Rijkaard ketika itu. Laga berlangsung panas, dengan striker Chelsea, Didier Drogba dikartu merah wasit, Aners Firsk.
Mourinho menuding Rijkaard masuk ke ruang ganti wasit ketika laga memasuki masa jeda babak pertama. Dan Mourinho, benar-benar yakin kartu merah Drogba keluar setelah keduanya bersekongkol di ruang ganti wasit.
Nah, karena tudingan itu Frisk menjadi bulan-bulanan para suporter. Bahkan, dia mendapat teror ancaman pembunuhan. Frisk pun memutuskan pensiun dini sebagai wasit.
Di sisi lain, UEFA tak mau tinggal diam. Otoritas sepak bola tertinggi di Eropa itu menghukum Mourinho berupa larangan dua pertandingan.
Nah, Chelsea pada akhirnya berhasil maju ke perempat final lantaran menang 4-2 melawan Chelsea. Tapi, mereka harus menghadapi Bayern Muenchen. Mourinho pun tak bisa mendampingi timnya karena hukuman itu.
Ketika itu di leg pertama, Chelsea bisa menang 4-2 di kandang sendiri, Stadion Stamford Bridge. Usut punya usut, sejumlah media memberitakan sebuah aksi rahasia dari seorang Mourinho.
The Times dan Daily Mail, menyebut Mourinho telah masuk ke ruang ganti dengan cara menyelinap untuk memberi instruksi. Dia melakukannya sebelum laga, dan ketika jeda babak pertama.
Selama bertahun-tahun, tudingan media di Inggris itu hanya jadi rumor. Sampai kemarin, Mourinho mengakuinya. Dia membeberkan bagaimana cara cerdiknya mengelabui para petugas UEFA.
"Saya masuk ruang ganti pada siang hari. Jadi saya ada di sana sejak tengah hari dan pertandingannya baru digelar jam tujuh malam. Saya cuma ingin berada di ruang ganti ketika para pemain tiba," ungkapnya kepada Sky Sports.
"Saya masuk ke sana dan tak ada seorang pun yang melihat saya. Masalahnya adalah bagaimana pergi setelah itu. Dan Stewart Bannister, kit man tim, memasukkan saya ke keranjang. Keranjangnya sedikit terbuka jadi saya bisa bernapas."
"Tapi ketika dia membawanya ke luar ruang ganti, orang-orang UEFA mengikuti dan berusaha menemukan saja. Jadi dia menutup rapat kotaknya dan saya tak bisa bernapas. Ketika dia membuka kotaknya, saya seperti mau mati! Serius lho! Saya punya klaustrofobia, sungguh. Itu benar terjadi," pungkasnya.
Editor : inilahkoran


