Aksi Perang Sarung Bikin Resah, Polres Cimahi Imbau Orang Tua Awasi Anak-anaknya
Menyikapi dampak negatif aksi perang sarung tersebut, Polres Cimahi terus berupaya mencegah terjadinya perang sarung saat bulan Ramadan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Maraknya aksi perang sarung yang kerap terjadi di bulan suci Ramadan membuat masyarakat resah.
Pasalnya, aksi perang sarung tersebut kerap memakan korban jiwa dan tak jarang merusak berbagai fasilitas umum.
Menyikapi dampak negatif aksi perang sarung tersebut, Polres Cimahi terus berupaya mencegah terjadinya perang sarung saat bulan Ramadan.
Selain itu, pihaknya pun mengimbau para orang mengawasi aktivitas anak-anaknya lantaran beberapa waktu lalu masyarakat Kota Cimahi digemparkan dengan aksi sekelompok remaja yang diperkirakan akan melakukan perang sarung.
"Kami minta orang tua mengawasi anaknya yang masih di bawah umur agar tidak terpengaruh ajakan tindakan negatif, seperti perang sarung," kata Kepala Satuan Sabhara Polres Cimahi AKP Duddy Iskandar.
"Selain itu, orang tua diimbau menjaga anak-anak agar tidak keluar rumah pada malam hari hingga dini hari," sambungnya.
Menurutnya, tradisi perang sarung dahulu berbeda dengan sekarang ini. Sebab, kalau dulu yang digunakan hanyalah sarung. Sedangkan, sekarang ini ada yang melindunginya dengan batu.
"Bahkan senjata tajam. Jadi, layaknya tawuran," tuturnya.
Tak hanya itu, lanjut dia, perang sarung saat ini juga bisa melibatkan warga dari luar daerah.
“Sekarang yang kami amankan di luar wilayah Cimahi, seperti dari Kota Bandung,” imbuhnya.
Ia menuturkan, pengamanan sejumlah kelompok remaja yang diduga akan melakukan tindakan perang sarung merupakan tindaklanjut dari laporan warga masyarakat sekitar yang merasa resah dengan aksi mengganggu masyarakat tersebut.
“Kami dapat melaporkan masyarakat, ada informasi sekelompok pemuda mau perang sarung. Saya sama tim ke sana. Di situ ada anak-anak yang diamankan, kurang lebih sebelas orang,” tuturnya.
Usai diamankan, lanjut dia, para remaja tersebut didata dan diambil sidik jarinya. Selain itu, mereka meminta tes urin. Sebab, ada yang hasil tes urinenya positif obat keras.
“Dari sebelas orang, satu orang positif,” sebutnya.
Ia menyebut, satu orang yang hasil tes urinenya positif itu diproses lebih lanjut. Sementara, sepuluh orang lainnya dikembalikan kepada orang tua mereka.
Oleh karenanya, tambah dia, jajarannya setiap hari rutin melakukan patroli untuk mengantisipasi aktivitas yang dapat mengganggu keamanan dan menahan masyarakat, termasuk tindak kejahatan.
"Jika ditemukan unsur pidana akan diproses lebih lanjut oleh Satuan Reserse Kriminal," tandasnya.*** (agus satia negara)
Editor : Ahmad Sayuti

