Alih Fungsi Lahan Bukan Pemyebab Utama Longsor di Cisarua KBB? Begini Penjelasan Badan Geologi
Badan Geologi menjelaskan bahwa longsor di Cisarua KBB bukan karena alih fungsi lahan, tetapi memah terjadi karea morfologi lereng.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Saat ini mungkin banyak ya g menduga bahwa alih fungsi lahan menjadi penyebab utama terjadinya longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan alih fungsi lahan bukan faktor utama longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, melainkan akibat morfologi lereng yang curam dan curah hujan ekstrem dalam beberapa hari terakhir.
Namun ternyata, Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi, Anjar Heriwaseso, mengungkapkan kemungkinan fakto utama yang menyebabkan Cisarua longsor.
Anjar Heriwaseso menjelaskan bahwa hasil kajian awal menunjukkan pergerakan tanah dipengaruhi kombinasi faktor alam, mulai dari kemiringan lereng, karakter tanah, hingga sistem drainase alami di lokasi kejadian.
“Faktor alih fungsi lahan memang berpengaruh, tetapi kita melihat sumbernya. Sumbernya ini di morfologi yang sangat curam. Kita bisa melihat bahwa di samping curam tanahnya, juga sangat gembur," jelas Anjar Heriwaseso dilansir dari Antara pada Senin, 26 Januari 2026.
Setelah melakukan identifikasi, Anjas menjelaskan terdapat perbedaan morfologi yang sangat signifikan antara bagian atas dan bawah lereng dengan kemiringan mencapai 30–40 derajat di bagian atas, lalu menurun ke 20–30 derajat di bagian bawah, sehingga memicu massa tanah bergerak ke arah lembah.
Faktor material tanah juga berperan besar, karena terbentuk dari endapan vulkanik yang sangat tebal, diperkirakan lebih dari 15 meter, dengan sifat gembur dan mudah jenuh air.
“Tanah vulkanik yang tebal ini mengalami penjenuhan akibat curah hujan tinggi, sehingga kekuatan tanah melemah dan mudah terbawa ke bagian lereng bawah,” tutur Anjas.
Peran drainase alami juga disorot karena menyebabkan material longsoran meluncur dengan jarak tempuh cukup jauh.
Hal ini membuat air hujan terkumpul dalam satu jalur drainase sempit membawa tanah dan batuan secara bersamaan, sehingga menciptakan daya erosi yang kuat.
Badan Geologi menyebutkan kategori peristiwa longsor ini sebagai aliran bahan rombakan, pergerakan campuran tanah dan batuan dengan dominasi material berbutir halus menyebabkan longsoran dapat meluncur lebih jauh.
"Sumber utama longsoran berada di morfologi yang sangat curam dengan tanah yang gembur," ungkapnya.
Dia melanjutkan, "pemicu hujan ekstrem yang berdasarkan data BMKG mencapai lebih dari 200 milimeter per hari, sehingga risiko longsor menjadi sangat tinggi."***
Editor : Irma Nurfajri

