Antisipasi Bencana di Lingkungan Pendidikan, Disdik KBB Imbau Warga Sekolah Terapkan Jurus Jitu ini Sebagai Solusi
Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung Barat (KBB) meminta seluruh kepala sekolah yang ada di Bandung Barat untuk lebih aktif dalam melihat dan mengawasi berbagai potensi bencana yang akan terjadi di lingkungan sekolahnya masing-masing.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung Barat (KBB) meminta seluruh kepala Sekolah yang ada di Bandung Barat untuk lebih aktif dalam melihat dan mengawasi berbagai potensi bencana yang akan terjadi di lingkungan sekolahnya masing-masing.
Hal itu dilakukan agar hak dan kenyamanan para siswa saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di setiap jenjang pendidikan bisa berjalan dengan lancar.
Selain itu, langkah ini dilakukan menyusul adanya laporan robohnya tembok penahan tanah (TPT) dan tembok pagar di dua sekolah yang dipicu hujan deras dengan intensitas tinggi yakni SDN 2 Parigi, Desa Tagogapu RT 02/11 Kecamatan Padalarang dan SDN 2 Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat.
"Ada beberapa jurus jitu yang bisa dilakukan kepala sekolah agar para siswa bisa tetap mendapatkan haknya untuk belajar di tengah kepungan bencana hidrometeorologi yang terjadi di Bandung Barat," kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) KBB, Asep Dendih didampingi Sekretaris Disdik KBB saat dihubungi, Minggu 14 Januari 2024.
Pertama, jelas Asep, sekolah bisa menerapkan skema shift atau jadwal masuk. Misalnya, ada kelas yang masuk pagi dan ada juga yang masuk siang.
"Kedua, KBM bisa dilakukan dengan metoda daring atau online, seperti pada saat pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu. Ketiga, bisa memanfaatkan sekolah terdekat. Namun, memang langkah ini hanya bisa dilakukan di beberapa sekolah saja," jelasnya.
Meski begitu, Asep menekankan agar kepala sekolah atau warga sekolah segera melaporkan ketika melihat adanya potensi bencana. Sebab, yang mengetahui potensi bencana apakah itu banjir atau longsor itu kepala dan warga sekolah.
"Misalnya, jika ditemukan tembok penahan tanah (TPT) yang kemungkinan akan roboh atau bangunan yang tidak layak. Itu harus dilaporkan sehingga bisa kita antisipasi bersama-sama," terangnya.
Selain itu, sebut Asep, ada dua langkah penanganan yang dilakukan, diantaranya langkah preventif sebelum dan pasca bencana.
"Untuk langkah preventif, kepala sekolah bisa melakukan sosialisasi tentang mitigasi kebencanaan bekerjasama dengan BPBD dengan menggalakkan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAD)," sebutnya.
"Langkah mitigasi bencana itu harus dilakukan untuk mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana alam dan ketika terjadi warga sekolah sudah siap," sambungnya.
Selain itu, pihak sekolah juga harus turut serta dilibatkan dan berperan aktif mengantisipasi potensi bencana lantaran tidak menutup kemungkinan sekolah tidak menyadari, namun masyarakat sekitar yang justru malah menyadari adanya potensi bencana.
"Jadi sekolah harus menjalin komunikasi dan koordinasi juga dengan masyarakat," ucapnya.
Kemudian, sambung Asep, untuk langkah pasca bencana pihaknya meminta sekolah agar semaksimal mungkin menjaga agar KBM tidak terganggu dan kalau terjadi bencana langkah penyelamatan siswa paling utama.
"Dari sisi sarana dan prasarana ketika terjadi kerusakan kita pun akan prioritaskan dibangun tahun itu juga kalau memungkinkan," paparnya.
Dengan begitu, tidak akan mengganggu pelajaran terlalu lama meski anggaran terbatas tetap diprioritaskan lantaran ini menyangkut hak dan kenyamanan siswa.
"Sejauh ini kebanyakan dampak bencana alam yang rusak itu pagar dan TPT. Tapi, tetap harus diperbaiki karena menyangkut pembelajaran siswa yang harus nyaman, aman, menyenangkan dan inklusif," ujarnya.
Asep menilai, Pemda KBB harus terus berusaha penuh, apabila ada hal-hal yang membahayakan harus segera diperbaiki. Namun, warga sekolah tentunya yang harus menjadi pemeran utama dalam melakukan langkah pencegahan guna menghindari dampak bencana.
"Setiap sekolah harus tahu potensi masing-masing kebencanaan, itu yang harus diantisipasi. Jangan dibiarkan, ketika hujan gorong-gorong yang rusak atau tersumbat harus segera ditangani sekolah," paparnya.
"Karena Disdik tidak bisa hanya menangani satu persoalan di satu sekolah saja. Jadi, selama masih bisa diantisipasi sekolah, langsung sama sekolah. Contohnya genteng bocor, bisa segera diperbaiki secara mandiri. Kalau masih bisa diperbaiki perbaiki.
Asep pun menambahkan, semua bisa diselesaikan atau diantisipasi dari hal-hal kecil karena pagar dan TPT yang roboh karena saluran airnya tersumbat.
"Makanya kepala sekolah harus aktif melihat potensi bencana sekecil apapun. Jika sudah diketahui segera antisipasi sedini mungkin," tandasnya. *** (agus satia negara)
Editor : Ahmad Sayuti
