Bandung Targetkan 7.893 Anak Tidak Sekolah Kembali Mengenyam Pendidikan pada 2028
Disdik Kota Bandung menargetkan 7.893 anak tidak sekolah kembali mengenyam pendidikan pada 2028 melalui program Paket A, B, dan C secara gratis.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung menargetkan, seluruh 7.893 anak tidak sekolah (ATS) kembali mendapatkan akses pendidikan pada 2028. Penanganan dilakukan melalui pendidikan kesetaraan paket A, paket B dan paket C yang diselenggarakan secara gratis.
Kepala Disdik Kota Bandung, Asep Saeful Gufron mengatakan, pihaknya telah menyusun rencana aksi dan pemetaan wilayah guna mempercepat penanganan ATS. Pemetaan, dilakukan dengan mengidentifikasi kecamatan yang memiliki jumlah anak tidak sekolah terbanyak.
"Kita sudah memetakan kecamatan mana yang jumlah ATS nya paling banyak. Penanganannya nanti akan dilakukan melalui SKB dan PKBM, karena kedua lembaga ini yang sudah menjalankan tugas tersebut," kata Asep Saeful Gufron, Selasa (3/11/2026).
Menurutnya, penanganan ATS menjadi bagian dari target penuntasan anak tidak sekolah di Jawa Barat pada 2028. Target itu sejalan dengan arahan sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, agar seluruh wilayah terbebas dari persoalan anak tidak sekolah pada tahun yang sama.
Asep menjelaskan, jumlah ATS di Kota Bandung saat ini tercatat sebanyak 7.893 orang. Angka itu merupakan hasil verifikasi ulang terhadap data awal pusat data dan teknologi informasi (Pusdatin) yang sebelumnya mencatat hampir 17.000 anak.
Dalam proses verifikasi, Disdik Kota Bandung menemukan sejumlah nama yang bukan warga Kota Bandung, sudah meninggal dunia, pindah domisili maupun telah masuk pesantren. Setelah data dibersihkan, tersisa 7.893 anak yang masih menjadi sasaran penanganan.
"Kita terus melakukan verifikasi menyeluruh. Dari data awal yang sempat tercatat sekitar 17.000 an, setelah diverifikasi ulang dan dibersihkan data yang valid saat ini adalah 7.893 orang," ucapnya.
Upaya mengembalikan anak ke pendidikan formal maupun kesetaraan juga mulai menunjukkan hasil. Sepanjang tahun lalu, sekitar 1.200 anak berhasil menyelesaikan pendidikan melalui program paket A, paket B dan paket C. Jumlah itu terpisah dari 7.893 ATS yang masih ditangani saat ini.
Dia menegaskan, pendidikan kesetaraan tidak dipungut biaya sehingga anak-anak yang putus sekolah tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan. Lulusan paket C juga memperoleh sertifikat yang sah, dan dapat digunakan sebagai salah satu syarat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
"Gratis dan wajib. Tidak dipungut biaya. Yang penting anak tetap bisa bersekolah sampai paket C," ujar dia.
Meski demikian, penanganan ATS masih menghadapi sejumlah kendala. Faktor ekonomi menjadi penyebab dominan, dengan sekitar 80 persen anak tidak sekolah berasal dari keluarga yang mengalami keterbatasan ekonomi.
"Sebagian anak, bahkan terpaksa bekerja serabutan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga," tuturnya.
Pihaknya juga menggandeng aparat kewilayahan mulai dari kecamatan, kelurahan, RT hingga RW guna meyakinkan orang tua agar kembali mendorong anak-anak mereka mengenyam pendidikan.
"Melalui pemetaan wilayah, penguatan peran SKB dan PKBM dan dukungan masyarakat, kami harapkan seluruh anak yang masih berada di luar sistem pendidikan dapat terakomodasi sesuai target pada 2028," pungkas dia.
Editor : Ahmad Sayuti

