Pemkot Cimahi Targetkan Seluruh Anak Tidak Sekolah Kembali Mengenyam Pendidikan

Pemkot Cimahi menargetkan seluruh anak tidak sekolah kembali mengenyam pendidikan pada 2027. Pendataan 2025 mencatat 1.509 anak tidak sekolah.

Pemkot Cimahi Targetkan Seluruh Anak Tidak Sekolah Kembali Mengenyam Pendidikan
Pemkot Cimahi menargetkan seluruh anak tidak sekolah kembali mengenyam pendidikan pada 2027. Pendataan 2025 mencatat 1.509 anak tidak sekolah.

INILAHKORAN.ID – Pemerintah Kota Cimahi menargetkan seluruh Anak Tidak Sekolah (ATS) yang telah teridentifikasi kembali mendapatkan akses pendidikan pada 2027, baik melalui jalur formal maupun pendidikan kesetaraan.

Berdasarkan hasil pendataan pada 2025, terdapat 1.509 anak tidak sekolah di Kota Cimahi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 775 anak atau sekitar 51 persen menyatakan bersedia kembali bersekolah, sementara 556 anak lainnya berminat menempuh pendidikan kesetaraan melalui program Paket A, B, maupun C.

Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada anak yang terputus dari proses pembelajaran hanya karena sistem pendidikan belum mampu menjangkau kebutuhan mereka secara menyeluruh.

Namun, upaya mengembalikan anak ke dunia pendidikan bukan perkara mudah. Persoalan di lapangan menunjukkan bahwa penyediaan ruang kelas saja tidak cukup untuk mengatasi masalah anak tidak sekolah.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Cimahi, Reni Herawati, menjelaskan bahwa kelompok yang paling sulit dijangkau adalah anak-anak yang sudah bekerja atau membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Menurutnya, meminta mereka kembali mengikuti kegiatan belajar dengan jadwal sekolah reguler bukan solusi yang realistis karena mereka memiliki kebutuhan penghasilan yang tidak bisa begitu saja dihentikan.

"Untuk kelompok ini, pendidikan kesetaraan dengan sistem belajar yang lebih fleksibel menjadi jalan keluar yang paling memungkinkan," kata Reni, Kamis (15/10/2026).

Selain persoalan ekonomi, Reni menyebut tantangan lain yang tidak kalah besar adalah hilangnya minat dan motivasi anak untuk kembali belajar.

Anak-anak yang sudah lama meninggalkan bangku sekolah, menurutnya, membutuhkan pendekatan personal dan pendampingan berkelanjutan agar kembali memiliki keinginan untuk menempuh pendidikan.

"Anak yang sudah lama meninggalkan dunia pendidikan tidak cukup hanya dipersilakan masuk, mereka membutuhkan pendekatan personal serta pendampingan yang berkelanjutan agar tumbuh kembali keinginan untuk menuntut ilmu," ungkapnya.

Reni menjelaskan, alasan anak berhenti sekolah umumnya tidak berdiri sendiri. Tekanan ekonomi keluarga, pola pengasuhan yang kurang mendukung, pernikahan pada usia anak, serta tuntutan untuk bekerja dapat saling berkaitan dan memengaruhi keberlanjutan pendidikan.

"Kemudian kondisi kesehatan, hingga pengaruh lingkungan sosial yang kurang mendukung, semuanya menjadi faktor yang mendorong anak keluar dari sekolah," sebutnya.

Karena akar persoalannya melibatkan berbagai sektor, penanganan anak tidak sekolah tidak dapat hanya dibebankan kepada Dinas Pendidikan.

Reni menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor, mulai dari kecamatan, kelurahan, dinas sosial, dinas kependudukan, dinas kesehatan, hingga lembaga pemberdayaan masyarakat.

"Jadi diperlukan kerja sama yang terpadu antara kecamatan, kelurahan, dinas sosial, dinas kependudukan, dinas kesehatan, dan lembaga pemberdayaan masyarakat agar setiap anak tidak hanya kembali terdaftar, tetapi benar-benar mampu bertahan dan menyelesaikan pendidikannya," pungkasnya.

Melalui upaya tersebut, Pemkot Cimahi diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan angka partisipasi pendidikan, tetapi juga memastikan anak-anak yang kembali belajar dapat bertahan hingga menyelesaikan pendidikannya.***


Editor : JakaPermana