Perlintasan MA Salmun Bogor Ditutup untuk Proyek JPO, Warga Ardio Dapat Akses Khusus

Perlintasan sebidang MA Salmun, Bogor, ditutup untuk pembangunan JPO. Warga Ardio mendapat akses khusus, sementara pengendara umum diminta menggunakan tiga jalu

Perlintasan MA Salmun Bogor Ditutup untuk Proyek JPO, Warga Ardio Dapat Akses Khusus
Perlintasan sebidang MA Salmun, Bogor, ditutup untuk pembangunan JPO. Warga Ardio mendapat akses khusus, sementara pengendara umum diminta menggunakan tiga jalu

INILAHKORAN.ID– Perlintasan sebidang kereta api di Jalan MA Salmun, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, resmi ditutup untuk mendukung pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO).

Penutupan yang dilakukan sejak Senin (26/10/2026) tersebut ditandai dengan pemasangan seng pembatas di kedua sisi perlintasan. Kebijakan ini membuat pengendara sepeda motor maupun mobil tidak lagi dapat melintasi akses tersebut.

Berdasarkan pantauan di lapangan, Selasa (3/11/2026), masih terdapat pintu kecil di kedua sisi pembatas yang memungkinkan pejalan kaki melintas. Sementara itu, di sisi Jalan Dewi Sartika menuju Jalan MA Salmun, sejumlah pedagang kaki lima (PKL) masih terlihat menggelar dagangan.

Camat Bogor Tengah, Dheri Wiriadirama, mengatakan penutupan dilakukan untuk mendukung proses pembangunan JPO. Sosialisasi kepada masyarakat juga telah dilakukan sebelum kebijakan tersebut diterapkan.

"Ya hari ini kami melakukan penutupan perlintasan kereta api karena ini memang sudah disosialisasikan sebelumnya dan sudah disepakati," ungkap Dheri, Selasa (3/11/2026).

warga Ardio Dapat Akses Khusus

Dheri menjelaskan, kawasan Jalan MA Salmun yang menjadi lokasi pembangunan JPO akan disterilkan dari PKL dan kendaraan umum, baik roda dua maupun roda empat.

Namun, warga yang tinggal di kawasan Ardio tetap diberikan akses khusus untuk keluar masuk permukiman. Akses tersebut menggunakan pintu buka-tutup yang dijaga oleh warga setempat.

"Mereka diberikan akses kendaraan roda empat dan dua keluar masuk, bedanya ada pintu buka tutup yang nanti dijaga oleh warga sendiri," terang Dheri.

Menurut Dheri, terdapat delapan warga yang ditugaskan menjaga pintu akses tersebut. Pengaturan khusus itu diberikan karena warga Ardio tidak memiliki jalur lain untuk menuju permukiman mereka.

Ia mengakui, rencana penutupan perlintasan sebelumnya sempat mendapat penolakan dari sebagian warga. Namun, persoalan tersebut disebut berkaitan dengan komunikasi dan pemahaman mengenai pengaturan akses.

"Mereka berfikir awalnya kendaraan roda empat tidak bisa masuk sama sekali, motor juga tidak bisa, tapi itu tidak, khusus mereka diberi pintu sendiri," jelasnya.

Dheri mengimbau pengguna jalan lain untuk memanfaatkan jalur alternatif. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak lagi menyeberang melalui perlintasan tersebut, terutama setelah pemasangan pembatas.

"Termasuk pejalan kaki juga idealnya tidak nyebrang lagi di lintasan, karena setelah ada TPT tidak ada opsi untuk pejalan kaki," paparnya.

KAI Siapkan Tiga Jalur Alternatif

Terpisah, Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, mengatakan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 1 Jakarta bersama Pemerintah Kota Bogor telah menutup perlintasan sebidang JPL Nomor 1 di Km 54+416, Jalan MA Salmun, sejak Senin (26/10/2026).

Menurutnya, penutupan tersebut merupakan bagian dari sinergi untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan, sekaligus mendukung penataan akses transportasi di sekitar Stasiun Bogor.

"Penutupan itu juga menjadi bagian dari upaya mendukung penataan akses transportasi di sekitar Stasiun Bogor. Dengan diberlakukannya penutupan tersebut, masyarakat tidak lagi dapat menggunakan JPL Nomor 1 untuk melintasi rel kereta api," ungkap Franoto.

KAI meminta masyarakat menggunakan jalur alternatif yang telah disiapkan. Terdapat tiga pilihan rute untuk menggantikan akses perlintasan MA Salmun yang ditutup.

Rute pertama dapat ditempuh dari Jalan MA Salmun menuju Jalan Mayor Oking, Kapten Muslihat, Djuanda, Sudirman, Sawojajar, hingga Dewi Sartika.

Alternatif kedua melalui Jalan Dewi Sartika, Pengadilan, Sudirman, RE Martadinata, Merdeka, kemudian berakhir di Jalan MA Salmun.

Sementara rute ketiga menghubungkan Jalan Ciwaringin dengan Jalan MA Salmun.

Franoto menjelaskan, perubahan akses tersebut membutuhkan penyesuaian dari masyarakat. Karena itu, pengguna jalan diimbau mengikuti rekayasa lalu lintas yang telah disiapkan dengan tetap mengutamakan keselamatan dan memperhatikan kebutuhan mobilitas sehari-hari.***


Editor : JakaPermana