Bangkitkan Motivasi Belajar Anak Tidak Sekolah, Disdik Cimahi Intensifkan Pendataan
Penyebab utama anak putus sekolah kini tidak lagi didominasi oleh faktor ekonomi, namun rendahnya minat dan motivasi untuk melanjutkan pendidikan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Penyebab utama anak putus sekolah kini tidak lagi didominasi oleh faktor ekonomi, namun rendahnya minat dan motivasi untuk melanjutkan pendidikan.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Cimahi Reni Herawati mengungkapkan, tantangan ini jauh lebih kompleks dan menuntut peran aktif semua pihak, mulai dari pemerintah, keluarga, masyarakat, lingkungan, hingga sekolah untuk bekerja sama membangun kembali keyakinan anak-anak bahwa pendidikan merupakan investasi berharga bagi masa depan mereka.
"Ketika anak sudah memilih berhenti sekolah atau bekerja, pendekatannya pun harus berubah dan tidak bisa hanya mengandalkan aturan, tetapi perlu pendekatan personal, pendampingan, serta tawaran jalur pendidikan yang lebih fleksibe," kata Reni, Selasa (13/10/2026).
Reni menyebut, pendataan anak tidak sekolah (ATS) di Kota Cimahi kini tidak lagi hanya mengandalkan data administratif dari sekolah semata.
Disdik Kota Cimahi melibatkan aparatur kecamatan, kelurahan, hingga lingkungan untuk mendata secara langsung di lapangan yang kemudian disinkronkan dengan portal data nasional ATS.
"Hal ini dilakukan agar intervensi pemerintah benar-benar tepat sasaran, menyasar anak-anak yang berdomisili di Kota Cimahi dan membutuhkan layanan pendidikan," ucapnya.
Hasil pendataan tahun 2025 mencatat sebanyak 1.509 anak tidak sekolah. Dari jumlah tersebut, 775 anak atau sekitar 51 persen menyatakan bersedia kembali bersekolah, sementara 556 anak lainnya berminat menempuh jalur pendidikan kesetaraan melalui Paket A, B, maupun C.
Merespons hal tersebut, Disdik Kota Cimahi menerapkan strategi "jemput bola" dengan melibatkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk mendatangi langsung rumah anak-anak ATS.
"Pendekatan ini tidak sekadar mengajar, namun juga membangun kembali keinginan dan kepercayaan diri anak untuk belajar," katanya.
Hingga Juni 2026, sebut Reni, tercatat 40 anak telah aktif kembali belajar melalui jalur pendidikan kesetaraan di PKBM. Dia menegaskan, pendidikan formal bukan satu-satunya jalan.
Bagi anak yang sudah bekerja atau memiliki kondisi khusus, program Paket A, B, dan C menawarkan fleksibilitas waktu dan metode yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.
"Anak tidak harus selalu kembali ke sekolah formal. Untuk anak yang sudah bekerja atau memiliki kondisi khusus, tersedia Paket A, Paket B, dan Paket C dengan pola belajar yang lebih fleksibel," jelasnya.
Tak cuma itu, pihaknya juga terus berupaya menghilangkan hambatan ekonomi melalui berbagai bentuk bantuan bagi keluarga kurang mampu serta dukungan operasional bagi penyelenggara pendidikan kesetaraan.
Namun, peningkatan akses saja tidak cukup; peningkatan kualitas juga menjadi prioritas utama. Disdik Kota Cimahi bertekad mengubah pandangan masyarakat terhadap pendidikan nonformal agar tidak lagi dianggap sebagai alternatif kelas dua.
"Penguatan sarana pembelajaran berlangsung berkelanjutan, mulai dari penyediaan laptop, papan tulis interaktif, hingga revitalisasi fasilitas belajar," paparnya.
"Peserta didik PKBM pun didorong memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi dan mengikuti berbagai ajang kompetisi pelajar resmi, sehingga mereka tidak hanya kembali belajar, tetapi juga merasa dihargai, diakui dan memiliki masa depan yang cerah," imbuhnya.
Editor : Doni Ramdhani
