7.520 Anak Tak Sekolah di Kota Tasikmalaya Diverifikasi, 2.764 Sudah Kembali Belajar

Pemkot Tasikmalaya terus mempercepat penanganan anak tidak sekolah (ATS) verifikasi data pun terus dilakukan

7.520 Anak Tak Sekolah di Kota Tasikmalaya Diverifikasi, 2.764 Sudah Kembali Belajar
Pemerintah Kota Tasikmalaya terus mempercepat penanganan anak tidak sekolah (ATS). N Nurohman

INILAHKORAN.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya terus mempercepat penanganan anak tidak sekolah (ATS). Dari total 7.520 anak yang masuk dalam data ATS, sebanyak 4.470 anak telah diverifikasi dalam kurun waktu sekitar satu bulan.

Dengan demikian, masih terdapat 3.050 anak yang harus dituntaskan proses verifikasinya. Pemkot Tasikmalaya menargetkan seluruh data tersebut sudah terverifikasi pada Oktober 2026.

Hal itu disampaikan Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan saat menghadiri rapat kerja penanganan anak tidak sekolah di Kantor Kecamatan Bungursari, Selasa (1/9/2026).

Viman mengatakan, percepatan verifikasi tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengetahui kondisi sebenarnya dari anak-anak yang tercatat dalam data ATS sekaligus mencari cara agar mereka dapat kembali memperoleh layanan pendidikan.

"Program untuk menekan angka anak tidak sekolah, memasukan kembali ke sekolah," kata Viman.

Menurutnya, perkembangan penanganan ATS di Kota Tasikmalaya menunjukkan hasil positif sejak rapat koordinasi yang digelar pada 7 Agustus 2026.

Kota Tasikmalaya saat ini berada di posisi ke-22 dari 27 daerah dalam pemeringkatan jumlah ATS di Jawa Barat. Menurut Viman, posisi tersebut menunjukkan perkembangan yang cukup baik karena semakin rendah peringkatnya, semakin baik kondisi penanganannya.

Dari total 7.520 anak yang tercatat, sebanyak 2.764 anak bahkan telah kembali aktif mengikuti pendidikan.

"Dan progres ini kita akan berjalan terus sampai bulan Oktober. Harapannya 7.520 ini di bulan Oktober itu sudah terverifikasi dengan baik," ujarnya.

Viman menjelaskan, proses verifikasi tidak sekadar mencocokkan nama dalam data. Petugas harus memastikan kondisi masing-masing anak di lapangan.

Sebagian anak diketahui belum tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik), sementara lainnya sudah pindah domisili tetapi masih tercatat di Kota Tasikmalaya. Ada pula anak yang memang tidak bersekolah karena bekerja, terkendala biaya, maupun persoalan lainnya.

Karena itu, hasil verifikasi akan menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan terhadap masing-masing anak.

Viman menargetkan jumlah anak yang kembali aktif bersekolah terus bertambah hingga Oktober.

"Kalau di bulan Oktober progresnya membaik, yang aktif kembali ini akan menjadi kado terindah bagi Kota Tasikmalaya," katanya.

Bungursari Jadi Wilayah dengan Verifikasi Tercepat

Dalam proses pendataan tersebut, Kecamatan Bungursari menjadi salah satu wilayah dengan progres verifikasi tercepat dibandingkan sembilan kecamatan lainnya.

Dari 185 anak yang masuk dalam data ATS di Kecamatan Bungursari, sebanyak 177 anak telah diverifikasi. Sebanyak 11 di antaranya dipastikan telah mendapat penyaluran ke Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) melalui jalur pendidikan nonformal.

Menariknya, seluruh 11 anak tersebut merupakan perempuan. Mereka tidak hanya mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan, tetapi juga diarahkan mengikuti bidang keterampilan tata rias.

"Legalitas pendidikannya dapat dan juga tersalurkan di dunia kerja," ujar Viman.

Viman menyebut data ATS Kota Tasikmalaya berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, MI, MTs, SMA hingga SLB.

Wilayah dengan jumlah ATS paling banyak berada di Kecamatan Cihideung, Tawang dan Cipedes. Sementara untuk kecepatan verifikasi, Bungursari menjadi salah satu yang menunjukkan capaian terbaik.

Pemkot Tasikmalaya pun meminta seluruh wilayah terus mempercepat proses tersebut agar target penyelesaian pada Oktober dapat tercapai.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya Rojab Riswan Taufik mengatakan, penanganan ATS merupakan pekerjaan bersama yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Menurutnya, persoalan yang ditemukan di lapangan sangat beragam sehingga verifikasi harus dilakukan secara cermat dan individual.

"Jadi memang harus kita lihat satu per satu kondisinya," kata Rojab.

Ia menegaskan, data yang tercatat harus dipastikan sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Jangan sampai pemerintah mengambil kebijakan berdasarkan data yang sudah tidak relevan.

"Jangan sampai data yang ada ini kemudian tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan," ujarnya.

Rojab mengatakan, hasil verifikasi nantinya akan menjadi pijakan bagi Dinas Pendidikan dalam menentukan bentuk intervensi yang sesuai bagi masing-masing anak.

Namun, menurutnya, keberhasilan program tidak cukup diukur dari seberapa banyak data yang telah diverifikasi. Upaya mengembalikan anak ke layanan pendidikan menjadi sasaran utama dalam penanganan ATS.

"Yang paling penting bukan hanya datanya selesai, tetapi anaknya juga bisa kembali mendapatkan hak pendidikan," katanya.

Untuk mengejar target Oktober, Pemkot Tasikmalaya akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi. Rapat koordinasi dilakukan setiap bulan, sementara pembaruan dan pemantauan progres dilakukan lebih intensif setiap pekan.


Editor : Ahmad Sayuti