Kemarau Bikin Irigasi Leuwikuya Kritis,Ribuan Hektare Sawah Terancam Kekeringan
Kemarau menyebabkan debit air di irigasi Leuwikuya turun drastis dan mengancam ribuan hektare sawah alami kekeringan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Musim kemarau mulai memukul sektor pertanian di Kabupaten Bandung. Debit air di Daerah irigasi (DI) Leuwikuya, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, menyusut drastis.
Kondisi tersebut membuat aliran air yang biasanya mampu mengairi ribuan hektare sawah di sejumlah desa di Kabupaten Bandung hingga Kabupaten Bandung Barat, kini hanya mampu menjangkau Desa Padasuka, Kecamatan Kutawaringin.
Ketua GP3A Mitracai Banyu Hurip DI Leuwikuya, Amat Rohimat mengatakan, penyusutan debit air tersebut membuat para petani dan masyarakat harus melakukan pengawasan secara rutin untuk mengantisipasi penyalahgunaan maupun gangguan terhadap aliran irigasi.
“Air menurun drastis hanya sampai ke Desa Padasuka saja. Kalau malam kami para petani dan masyarakat ngandir (patroli di sepanjang irigasi),” kata Amat kepada INILAHKORAN.ID di Kutawaringin, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, air dari irigasi Leuwikuya yang bersumber dari aliran Sungai Ciwidey tidak hanya dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian. Masyarakat di sepanjang jalur irigasi juga mengandalkannya untuk berbagai kebutuhan rumah tangga.
Persoalan semakin pelik karena penyusutan debit air bukan semata-mata akibat musim kemarau. Kondisi saluran irigasi yang mengalami sedimentasi cukup parah dan banyak kebocoran turut membuat distribusi air ke wilayah hilir semakin buruk.
“Sudah hampir lima tahun ini belum ada pengangkatan lumpur oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat,” ujarnya.
Amat menyebutkan, panjang saluran irigasi Leuwikuya yang melintas di wilayah Kabupaten Bandung mencapai sekitar 22 kilometer. Saluran tersebut kemudian terus mengalir hingga wilayah Kabupaten Bandung Barat dengan panjang sekitar 42 kilometer.
“Kalau kesananya sih lebih panjang lagi karena sampai ke Kabupaten Bandung Barat,” katanya.
Dibangun 1918, Belum Pernah Diperbaiki Besar-besaran
Amat mengungkapkan, persoalan DI Leuwikuya bukan hanya terjadi saat kemarau. Saat musim hujan sekalipun, wilayah hilir kerap tidak mendapatkan pasokan air secara maksimal.
Salah satu penyebabnya adalah kondisi fisik saluran yang semakin menua. irigasi Leuwikuya diketahui telah dibangun sejak 1918, pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
Ironisnya, sejak dibangun hingga saat ini, Amat menyebut belum pernah dilakukan perbaikan besar-besaran terhadap jaringan irigasi tersebut.
Akibatnya, kerusakan terjadi di berbagai titik. Mulai dari kebocoran, sedimentasi hingga pendangkalan dasar saluran yang membuat kapasitas aliran air semakin berkurang.
“Sejak dibangun tahun 1918 sampai sekarang belum pernah ada perbaikan besar-besaran. Kerusakan terus terjadi di sana-sini, termasuk pendangkalan dasar irigasi,” tuturnya.
Kondisi itu dikhawatirkan semakin memperparah ancaman kekeringan terhadap lahan pertanian, terutama ketika memasuki puncak musim kemarau.
Amat mencatat, sedikitnya 1.179 hektare sawah di Kabupaten Bandung mengandalkan pasokan air dari DI Leuwikuya.
Sementara di wilayah Kabupaten Bandung Barat, luas lahan sawah yang bergantung pada jaringan irigasi tersebut mencapai lebih dari 2.000 hektare.
Dengan demikian, total lahan pertanian di dua kabupaten yang menggantungkan pasokan air dari DI Leuwikuya mencapai lebih dari 3.179 hektare.
“Kalau air terus berkurang, bukan hanya petani di Kabupaten Bandung yang terdampak. Di Bandung Barat juga sama karena banyak sawah yang mengandalkan irigasi ini,” katanya.
Para petani berharap pemerintah segera turun tangan melakukan normalisasi saluran, terutama pengangkatan sedimentasi dan perbaikan titik-titik kebocoran.
Pasalnya, jika persoalan tersebut terus dibiarkan, ancaman kekeringan tidak hanya terjadi pada musim kemarau. Buruknya kondisi jaringan irigasi berpotensi membuat distribusi air ke wilayah hilir tetap terganggu meski curah hujan kembali meningkat.
Bagi para petani, perbaikan DI Leuwikuya bukan sekadar persoalan infrastruktur. Keberlangsungan ribuan hektare lahan pertanian dan ketahanan pangan masyarakat di Kabupaten Bandung serta Kabupaten Bandung Barat ikut dipertaruhkan.
Editor : Ahmad Sayuti

