Bandung Raya Mulai 'Gerah', BMKG: Puncak Kemarau, Dipicu Awan Konvektif dan El Nino

Cuaca di Bandung Raya belakangan terasa lebih panas dan gerah, meski masih berada di puncak musim kemarau. BMKG memastikan fenomena itu dampak atmosfer lokal.

Bandung Raya Mulai 'Gerah', BMKG: Puncak Kemarau, Dipicu Awan Konvektif dan El Nino
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Edi Wibowo menjelaskan, peningkatan suhu yang dirasakan masyarakat dipengaruhi pertumbuhan awan konvektif di wilayah Bandung dan sekitarnya. Kondisi ini membuat suhu minimum tetap hangat serta kelembapan udara relatif tinggi. (net)

INILAHKORAN.ID - Cuaca di Bandung Raya belakangan terasa lebih panas dan gerah, meski masih berada di puncak musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan, fenomena tersebut bukan pertanda datangnya musim hujan, melainkan dampak kondisi atmosfer lokal yang memicu udara panas dan lembap.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Edi Wibowo menjelaskan, peningkatan suhu yang dirasakan masyarakat dipengaruhi pertumbuhan awan konvektif di wilayah Bandung dan sekitarnya. Kondisi ini membuat suhu minimum tetap hangat serta kelembapan udara relatif tinggi.

"Mengenai suhu udara akhir ini, yaitu terdapat pertumbuhan awan konvektif secara lokal, suhu udara minimum cukup hangat 2 hari terakhir pada kisaran 21-22°C, kelembapan udara cukup lembap 55-80 persen, sehingga kondisi udara terasa panas, lembap," ujar Edi, Jumat (21/8/2026).

Menurutnya, sejumlah faktor atmosfer masih mendukung pasokan uap air dan pembentukan awan konvektif di sebagian wilayah Jawa Barat. Selain suhu muka laut yang relatif hangat, aktivitas gelombang Kelvin juga berkontribusi terhadap munculnya awan hujan lokal.

"Dalam beberapa hari ini, terdapat beberapa dinamika atmosfer yang diprakirakan masih mendukung suplai uap air serta pertumbuhan awan konvektif secara lokal di sebagian wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung dan sekitarnya, yaitu suhu muka laut yang masih relatif hangat di sebagian perairan Indonesia, gelombang Kelvin diperkirakan aktif di wilayah Jawa Barat," ucapnya.

Meski berpotensi memunculkan hujan sesaat di sejumlah wilayah, BMKG menegaskan kondisi tersebut belum mengarah pada transisi musim.

"Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor lokal, belum menuju ke peralihan musim," katanya.

Data BMKG kata dia, menunjukkan suhu maksimum di Kota Bandung selama Agustus 2026 mencapai 32 derajat Celsius, sementara suhu minimum tercatat sekitar 18 derajat Celsius.

"Temperatur maksimum Kota Bandung tercatat 32⁰C," ungkapnya.

El Nino Sangat Kuat, Ancaman Kekeringan Tetap Mengintai

Di tengah udara gerah yang dirasakan masyarakat, BMKG mengingatkan musim kemarau 2026 masih dipengaruhi fenomena El Nino yang berada pada kategori sangat kuat.

Berdasarkan analisis anomali suhu muka laut (SST) wilayah Nino 3.4 untuk periode Juni-Agustus-September 2026, indeks El Nino tercatat mencapai +2,02. Kondisi tersebut berpotensi menekan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.

"Berdasarkan analisis iklim global terkini, fenomena El Nino yang ditunjukkan oleh indeks Nino 3.4 sebesar +2.02 yang mengindikasikan potensi pengurangan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, termasuk di wilayah Jawa Barat," ujarnya.

Sebab itu, BMKG meminta masyarakat tidak terlena dengan munculnya hujan lokal dalam beberapa hari terakhir. Risiko kekeringan, krisis air bersih hingga kebakaran hutan dan lahan masih menjadi ancaman utama selama puncak kemarau berlangsung.

BMKG juga mendorong masyarakat memanfaatkan peluang hujan lokal, untuk menambah cadangan air melalui berbagai sarana penampungan.

"Baik itu melalui penampungan-penampungan air dan sebagainya dan masyarakat diharapkan tetap dapat lebih bijak dalam menggunakan air bersih," ucapnya.

Selain itu, kewaspadaan terhadap titik panas dan potensi karhutla perlu terus ditingkatkan oleh masyarakat maupun pemerintah daerah.

"Masyarakat dan instansi terkait diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau, seperti penurunan ketersediaan air bersih, kekeringan pada lahan pertanian, serta potensi peningkatan titik panas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)," tandasnya. 


Editor : Doni Ramdhani