Sederet Perusahaan Nasional Siap Bersaing di Mega Proyek Pemetaan ILASPP

Sebanyak 18 perusahaan Indonesia ikut bersaing dalam tender proyek pemetaan ILASPP senilai sekitar USD 298 juta, termasuk empat perusahaan nasional yang membent

Sederet Perusahaan Nasional Siap Bersaing di Mega Proyek Pemetaan ILASPP
Ilustrasi akuisisi data udara untuk peta dasar skala 1:5.000 — paket urban ILASPP dikerjakan dengan fotogrametri udara dan LiDAR. (Foto Istimewa)

INILAHKORAN.ID- Perusahaan survei dan pemetaan nasional menunjukkan kesiapan bersaing dalam proyek pemetaan berskala besar bertaraf internasional melalui Integrated Land Administration and Spatial Planning Project (ILASPP).

Proyek yang dibiayai Bank Dunia dengan nilai sekitar USD 654,63 juta itu membuka tender delapan paket pekerjaan pemetaan peta dasar skala 1:5.000 dengan nilai sekitar USD 298 juta. Tender menggunakan skema International Competitive Bidding (ICB), sehingga perusahaan dari berbagai negara dapat mengikuti proses pengadaan sepanjang memenuhi persyaratan.

Dari sedikitnya 30 perusahaan yang mengikuti tender tersebut, 18 di antaranya merupakan perusahaan Indonesia. Peserta lainnya berasal dari Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Prancis, dan Tiongkok.

Salah satu bentuk kesiapan industri nasional terlihat dari kolaborasi empat perusahaan, yakni PT Surtech Prima, PT Omni Spasial Strategis (OSSMAP), PT Geopranata Cipta, dan PT Agishta Geoinformatics. Keempatnya membentuk Joint Venture untuk mengikuti tender Urban Lot 4

Kolaborasi tersebut menjadi strategi untuk menggabungkan aset, peralatan, sumber daya manusia, pengalaman, dan modal kerja agar mampu memenuhi kebutuhan proyek berskala besar.

Pemimpin Kantor Jasa Surveyor Berlisensi (KJSB) Raden Gumilar mengatakan,pengalaman panjang industri survei dan pemetaan nasional dinilai menjadi modal penting. Menurutnya, kompetensi sumber daya manusia Indonesia sudah cukup baik. Tantangan berikutnya adalah memperkuat kapasitas perusahaan agar mampu mengambil pekerjaan berskala besar.

"SDM kita sebenarnya sudah memiliki kompetensi yang baik. Tantangannya adalah bagaimana kapasitas perusahaan, baik dari sisi aset, modal kerja, maupun pengalaman proyek, terus diperkuat sehingga semakin mampu bersaing dalam proyek-proyek berskala besar," ujar Raden Gumilar.

Dikatakannya, Urban Lot 4 mencakup 10 wilayah administratif dengan total volume pekerjaan sekitar 17.822 kilometer persegi dan masa pelaksanaan 33 bulan atau 990 hari kalender sejak kontrak ditandatangani.

Sebagian besar pekerjaan berada di Jawa Timur dengan luasan sekitar 13.386 kilometer persegi atau 75,1 persen dari total volume. Wilayah lainnya mencakup Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa Tengah, Papua Barat Daya, Papua, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara.

Untuk paket urban, lanjutnya pekerjaan menggunakan teknologi fotogrametri udara dan LiDAR. Peserta juga diwajibkan memiliki peralatan utama berupa pesawat berawak, kamera udara metrik digital, dan airborne laser scanner ber-gyro.

Penilaian tender memberikan bobot lebih besar pada aspek teknis, yakni 60 persen, sedangkan harga memiliki bobot 40 persen. Peserta tidak hanya diminta menyampaikan proposal, tetapi juga menunjukkan kemampuan teknis melalui hasil pengolahan data sampel, termasuk klasifikasi point cloud LiDAR, pembentukan DSM dan DTM, serta ekstraksi fitur bangunan.

Kondisi tersebut membuat pengalaman dan kesiapan operasional menjadi faktor penting bagi peserta. Perusahaan yang telah memiliki peralatan, personel, serta rekam jejak pekerjaan sejenis memiliki modal lebih kuat untuk memenuhi persyaratan.

Peluang Penguatan Industri Nasional
ILASPP tidak hanya menjadi proyek pemetaan berskala besar, tetapi juga membuka peluang penguatan kapasitas industri geospasial nasional.

Salah satu aspek penting adalah keterlibatan tenaga kerja dalam negeri. Untuk satu paket urban, panitia mensyaratkan sekitar 38 personel kunci, mulai dari team leader, koordinator pengolahan LiDAR, koordinator toponim, spesialis basis data hingga tenaga yang memiliki kompetensi Geo-AI. Sertifikasi kompetensi SKKNI IG juga menjadi preferensi pada sejumlah posisi kunci.

Pengolahan data proyek juga diwajibkan dilakukan melalui Map Production Center (MPC) yang disediakan Badan Informasi Geospasial (BIG). Fasilitas tersebut dirancang untuk memastikan keamanan data, integrasi proses produksi, serta kepatuhan terhadap regulasi Indonesia terkait informasi geospasial dan keamanan nasional.

Dengan mekanisme tersebut, proyek ILASPP berpotensi memberikan dampak lebih panjang bagi industri nasional, mulai dari peningkatan kapasitas perusahaan, investasi peralatan, peningkatan kompetensi dan sertifikasi tenaga ahli hingga penguatan pengelolaan data geospasial di dalam negeri.

Peta dasar skala 1:5.000 yang dihasilkan nantinya juga menjadi salah satu fondasi penting bagi kebutuhan perencanaan tata ruang, perizinan berusaha, aksi perubahan iklim, serta pengelolaan sumber daya alam.

Komposisi peserta tender menunjukkan bahwa perusahaan nasional tidak sekadar menjadi penonton dalam proyek berstandar internasional. Dengan penguatan kapasitas dan kolaborasi antarpelaku usaha, industri geospasial Indonesia memiliki peluang untuk bersaing langsung dengan perusahaan global.

Bagi perusahaan nasional, skema Joint Venture menjadi salah satu jalan untuk menggabungkan kekuatan dan memenuhi tuntutan proyek berskala besar tanpa harus mengandalkan kapasitas satu perusahaan secara mandiri.(inforial)***


Editor : Ghiok Riswoto