Antisipasi Kekeringan, Pemkot Cimahi Hentikan Izin Pengeboran Sumur Artesis Baru

Pemkot Cimahi menghentikan izin pengeboran sumur artesis baru sbeagai langkah antisipasi kekeringan dan penurunan air tanah

Antisipasi Kekeringan, Pemkot Cimahi Hentikan Izin Pengeboran Sumur Artesis Baru
Kondisi sumur bor di tengah pesawahan yang ada di Kota Cimahi. Antisipasi kekeringan dan penurunan air tanah, Pemkot menghentikan izin pengeboran sumur artesis baru. Foto ilustrasi

INILAHKORAN.ID - kemarau panjang diprediksi hingga akhir tahun. Kekeringan ekstrem dan ancaman air bersih 'menghantui' Kota Cimahi. Pemkot pun mengeluarkan kebijakan dengan menhentikan pengeboran sumur artesis baru.   

Wilayah yang paling rentan terdampak, yakni tiga kelurahan di Kecamatan Cimahi Selatan, mulai dari Utama, Melong, dan Leuwigajah, yang secara historis kerap mengalami kesulitan pasokan air saat curah hujan menurun drastis. 

Kondisi ini kian memburuk akibat eksploitasi air tanah yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh kebutuhan industri dan rumah tangga yang membebani cadangan air bawah permukaan.

Kajian dari Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGL) Badan Geologi mencatat situasi yang mengkhawatirkan, di mana muka air tanah di kawasan Bandung Raya telah turun hingga kedalaman 60 hingga 100 meter. 

Menanggapi hal ini, Pemkot Cimahi mengambil langkah tegas dengan menghentikan sepenuhnya perizinan pengeboran sumur artesis baru untuk mencegah penurunan yang lebih parah. 

"Kebijakan ini didasarkan pada evaluasi empat tahun terakhir yang menunjukkan bahwa sektor industri menjadi penyumbang utama terbebaninya sumber daya air tanah di wilayah tersebut," kata Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Cimahi, Amy Pringgo Mardani, Rabu (1/7/2026).

Amy menjelaskan, fokus kebijakan kini beralih sepenuhnya dari pengambilan air tanah menuju pemanfaatan sumber air permukaan seperti aliran sungai. 

"Air sungai tersebut nantinya akan diolah melalui instalasi pengolahan air minum milik pemerintah kota sebelum disalurkan lewat jaringan perpipaan ke rumah warga," jelasnya.

Sementara itu, ungkap Amy, sumur artesis yang masih tersedia jumlahnya sangat terbatas, kurang dari sepuluh titik dan sebagian besar dimiliki oleh sektor industri, sehingga pengelolaannya diawasi ketat.

"Soal eksploitasi air tanah, intinya itu berdasarkan kajian empat tahun ke belakang. Terparah memang oleh industri, pemerintah sudah tidak ada pengeboran sumur artesis," ungkapnya.

Selain mengurangi ketergantungan pada air tanah, terang Amy, pemerintah juga gencar melaksanakan program pemulihan lingkungan melalui pembangunan sumur resapan, lubang biopori, hingga sumur imbuhan atau injeksi. 

"Sarana ini bertujuan untuk mengembalikan air hujan ke dalam tanah guna memulihkan cadangan yang telah menipis. Kami berharap langkah mitigasi ini mampu menyeimbangkan kembali siklus hidrologis sekaligus menekan risiko krisis air bersih yang kian mengancam di tengah musim kemarau yang panjang," terangnya.

Amy mengimbau seluruh lapisan masyarakat dan pelaku usaha untuk turut serta menjaga keberlanjutan sumber daya air dengan menggunakan air secara bijak dan tidak boros. 

"Kesadaran kolektif dinilai sangat penting agar cadangan air yang ada dapat bertahan hingga masa transisi ke sumber air permukaan berjalan lancar dan dapat dinikmati secara merata oleh seluruh warga," ujarnya.


Editor : Ahmad Sayuti