Kemarau Keringkan Hijauan Pakan, Dispernakan KBB Imbau Peternak Siapkan Cadangan

Kepala Dispernakan KBB Wiwin Aprianti mengingatkan para peternak agar tidak menunggu sampai rumput habis baru mencari solusi sudah terlambat.

Kemarau Keringkan Hijauan Pakan, Dispernakan KBB Imbau Peternak Siapkan Cadangan
Salah satu lokasi peternakan sapi perah di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (agus satia negara)

INILAHKORAN.ID - Ketersediaan hijauan pakan ternak mulai menurun drastis seiring berlangsungnya kemarau panjang, bukan hanya soal jumlah namun juga kualitas nutrisinya. 

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB Wiwin Aprianti mengingatkan para peternak agar tidak menunggu sampai rumput habis baru mencari solusi sudah terlambat. 

"Kami juga meminta seluruh peternak, terutama pemelihara ruminansia, mulai membangun cadangan pakan dari sekarang dan memanfaatkan sumber daya lokal dan teknologi pengawetan agar usaha tetap berjalan dan ternak sehat," kata Wiwin, Jumat (25/9/2026).

Wiwin menjelaskan, dampak kemarau tak sekadar menyusutkan jumlah rumput yang dapat dipetik. Hijauan yang tumbuh dalam kondisi kering maupun yang sudah terlalu tua mengalami penurunan kandungan gizi secara nyata.

Sehingga pakan yang dikonsumsi ternak tidak lagi memenuhi kebutuhan pertumbuhan maupun produksi susu.

"Kondisi kemarau yang berlangsung saat ini mulai memberikan dampak terhadap ketersediaan hijauan pakan, khususnya bagi peternak yang masih mengandalkan rumput segar sebagai sumber pakan utama," jelasnya.

"Ketika ketersediaan hijauan menurun, peternak tidak hanya menghadapi persoalan jumlah pakan, tetapi juga kualitasnya. Hijauan yang terlalu tua atau mengalami kekeringan dapat memiliki nilai nutrisi yang berbeda dibandingkan hijauan dalam kondisi optimal," paparnya.

Menurutnya, sikap menunggu hingga pakan sulit didapat adalah kesalahan yang harus dihindari. Kabupaten Bandung Barat sebenarnya kaya akan bahan pakan alternatif yang tersedia dari sektor pertanian dan limbah pengolahan, selama dikelola dan diawetkan dengan tepat.

"Kami mengimbau peternak untuk mulai menyiapkan cadangan pakan sejak sekarang dan tidak menunggu sampai kondisi hijauan benar-benar sulit diperoleh," ucapnya.

"Peternak dapat memanfaatkan sumber pakan lokal yang tersedia serta mengolahnya menjadi pakan awetan seperti silase atau hay," imbuhnya.

Bahan pakan alternatif yang sudah terbukti dapat dimanfaatkan meliputi jerami padi, tebon jagung, limbah hasil pertanian, ampas tahu, hingga pakan konsentrat. Selama ini banyak bahan tersebut terbuang atau dijual murah, padahal dapat diolah menjadi cadangan bernilai gizi tinggi jika diproses tepat waktu.

Pihaknya melalui UPTD, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dan jajaran penyuluh lapangan akan memperkuat pemantauan langsung ke sentra-sentra peternakan. 

Tujuannya untuk mendeteksi tanda-tanda kekurangan pakan sejak dini, sehingga bantuan maupun arahan teknis dapat disalurkan sebelum kerugian meluas.

"Ke depan, kita perlu membangun sistem ketahanan pakan ternak, sehingga cadangan pakan sudah tersedia sebelum memasuki periode kemarau. Selain pakan, peternak juga perlu memastikan ketersediaan air minum yang cukup bagi ternak, terutama pada periode dengan suhu lingkungan tinggi dan curah hujan rendah," tegasnya.

Wiwin menyebut, upaya jangka panjang yang disusun pihaknya, mulai dari memperkuat sosialisasi saat musim hujan, justru saat pakan berlimpah agar peternak terbiasa menyimpan cadangan, bukan baru berpikir saat kemarau datang. Pemanfaatan pakan alternatif yang sesuai kebutuhan ternak juga akan diperluas agar tidak bergantung pada satu sumber saja.

"Kepada seluruh peternak ruminansia, Dispernakan mengingatkan untuk memantau kondisi tubuh dan produktivitas ternak secara berkala," ungkapnya.

"Jika berat badan turun, produksi susu menurun, atau kesulitan mencari pakan, segera hubungi penyuluh maupun petugas di wilayah masing-masing. Penanganan dini jauh lebih mudah dan murah dibandingkan saat ternak sudah lemah," pungkasnya.


Editor : Doni Ramdhani