BPBD: Lebih dari 1 Juta Jiwa Terdampak Kekeringan di Jabar
BPBD Jawa Barat menyebutkan dampak kekeringan mencapai 1 juta jiwa di beberapa wilayah hingga kekurangan air bersih
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INLAHKORAN.ID - Saat ini, Jabar mengalami krisis air akibat kekeringan. Hingga Rabu (30/9/2026) pukul 07.00 WIB, krisis ini telah berdampak pada 1.196.815 jiwa yang bernaung di bawah 361.256 Kepala Keluarga (KK).
Data BPBD Jawa Barat mencatat kekeringan ini meluas secara masif, menyentuh 781 desa atau kelurahan di 259 kecamatan. Sebagai respons tanggap darurat, pemerintah bersama berbagai elemen telah mendistribusikan total 34.219.250 liter air bersih ke wilayah-wilayah terdampak.
Pranata Humas BPBD Jabar Hadi Rahmat menegaskan bahwa operasi distribusi air bersih menjadi fokus utama saat ini. Penyaluran melibatkan kolaborasi lintas instansi untuk memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi di tengah kekeringan panjang.
"Dampak kekeringan saat ini sangat masif, merambah ratusan kecamatan dan berdampak pada lebih dari 1,1 juta jiwa. Untuk menanggulangi krisis ini, kolaborasi pentahelix berjalan optimal di mana hingga saat ini sebanyak lebih dari 34,2 juta liter air bersih telah berhasil didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan," kata Hadi Rahmat.
Volume distribusi terbesar ditangani langsung oleh BPBD yang telah menyalurkan 21.169.300 liter air bersih. Palang Merah Indonesia (PMI) dan PDAM turut berperan besar dengan penyaluran masing-masing sebanyak 3.673.250 liter dan 3.626.000 liter. Bantuan juga mengalir dari Kementerian PU (1.795.900 liter), berbagai Komunitas (1.021.800 liter), Tagana (980.000 liter), dan Dunia Usaha (930.000 liter).
Instansi lainnya yang turut berkontribusi meliputi BBWS (405.000 liter), Pemerintah Daerah (336.000 liter), BAZNAS (156.000 liter), jajaran Polres (59.000 liter), pemadam kebakaran (42.000 liter), hingga Kodim yang mendistribusikan 25.000 liter.
Dari peta sebaran distribusi, Kabupaten Bekasi menjadi daerah yang menyerap air bersih tertinggi dengan total 13.963.950 liter. Kabupaten Bogor menyusul dengan 7.306.000 liter, diikuti Kabupaten Ciamis (2.060.000 liter) dan Kabupaten Pangandaran (2.008.000 liter).
"Kabupaten Bekasi dan Bogor menjadi fokus distribusi terbesar mengingat jumlah populasi terdampak di sana sangat tinggi dan sumber air permukaan mengering drastis," jelas Hadi.
Distribusi air bersih ini juga terus digencarkan ke puluhan kabupaten dan kota lain dengan rincian: Kota Tasikmalaya (1.404.000 liter), Kabupaten Purwakarta (1.397.000 liter), Kabupaten Karawang (1.133.000 liter), Kabupaten Sukabumi (640.000 liter), Kabupaten Garut (567.000 liter), Kabupaten Bandung Barat (558.300 liter), Kota Banjar (515.000 liter), Kabupaten Bandung (428.500 liter), Kabupaten Sumedang (337.500 liter), dan Kabupaten Subang (299.000 liter).
Selain itu, pasokan juga menyentuh Kota Sukabumi (248.000 liter), Kota Cirebon (238.000 liter), Kabupaten Indramayu (227.000 liter), Kabupaten Cianjur (220.000 liter), Kota Depok (182.000 liter), titik lain di Kabupaten Sukabumi (138.000 liter), Kota Cimahi (100.000 liter), Kabupaten Cirebon (77.000 liter), Kota Bandung (75.000 liter), Kabupaten Majalengka (35.000 liter), Kota Bogor (32.000 liter), dan Kota Bekasi (30.000 liter).
Editor : Ahmad Sayuti

