Kemarau Panjang Keringkan Sumber Pakan Ternak KBB, Hijauan Turun hingga 50 Persen
Musim kemarau panjang yang mencapai puncaknya Agustus-September menekan ketersediaan hijauan pakan ternak di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Musim kemarau panjang yang berlangsung sejak Juni-Juli 2026 dan mencapai puncaknya Agustus-September kini menekan ketersediaan hijauan pakan ternak di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Imbasnya, peternak ruminansia terpaksa mengurangi porsi rumput segar hingga separuh, beralih ke pakan berkualitas lebih rendah atau mencari pasokan hingga ke Subang, Purwakarta, dan Sumedang. Bahkan, harga bahan pakan ikut melonjak.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB Wiwin Aprianti meminta seluruh pihak memperkuat cadangan pakan agar populasi ternak tetap terjaga.
"Tapi kami memastikan, kondisi sumber air untuk ternak sejauh ini masih relatif aman, tetapi memang ketersediaan hijauan menjadi tantangan untuk kami dan peternak," kata Wiwin, Kamis (24/9/2026).
Berdasarkan pemantauan lapangan, ungkap Wiwin, kemarau berkepanjangan ini membuat rumput segar dapat turun hingga 50 persen. Imbasnya, sebagian peternak sudah menggantinya dengan jerami padi kering yang kandungan gizinya jauh di bawah rumput hijau.
"Ketersediaan rumput semakin terbatas karena kebun rumput belum dikelola secara optimal dan masih sedikit peternak yang menanam hijauan unggul secara khusus," ungkapnya.
"Saat musim hujan pakan mudah dicari, tetapi saat kemarau panjang, banyak yang harus mencari ke luar daerah," sambungnya.
Wiwin menyebut, dampak kondisi ini terlihat dari lonjakan harga bahan pakan, seperti tebon jagung yang sebelumnya Rp800 per kilogram kini naik menjadi Rp900 per kilogram. Demikian pula rumput odot, dari Rp750 menjadi Rp900 per kilogram.
"Kenaikan harga belum menjamin ketersediaan, karena produsen rumput pun menghadapi penurunan produksi akibat kekeringan," ujarnya.
Lebih lanjut Wiwin mengungkapkan, populasi ternak yang terdampak meliputi sapi potong, sapi perah, kambing, dan domba. Berdasarkan data sementara 2026 mencatat, Sapi potong, 5.960 ekor, terbanyak di Cisarua (2.046 ekor) dan Lembang (1.464 ekor), tersebar di 16 kecamatan.
"Sapi perah sebanyak 26.717 ekor, jumlah terbanyak di Lembang (15.714 ekor), tersebar di Lembang, Parongpong, Cisarua, dan Ngamprah," paparnya.
"Kemudian kambing sebanyak 14.744 ekor dan domba sebanyak 184.123 ekor," sebutnya.
Contoh nyata terlihat di Kelompok Tani Jaya Siliwangi, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua yang mengelola sekitar 70 ekor sapi perah. Produktivitas kebun rumput di masa kemarau ini diperkirakan hanya tersisa 30 persen dibanding musim hujan.
"Akibatnya, peternak harus membeli jerami padi kering, ampas tahu, dan menambah pakan konsentrat berprotein tinggi untuk menutupi kekurangan nutrisi," bebernya.
Wiwin menegaskan, meskipun produksi ternak saat ini masih cenderung stabil, peningkatan biaya pakan berisiko menggerus keuntungan peternak jika tidak dikelola dengan tepat.
"Peternak sudah beradaptasi dengan pakan alternatif dan konsentrat, tetapi biaya tambahan ini harus diantisipasi," ujarnya.
"Kami mendorong penguatan cadangan pakan sejak dini, pengembangan kebun rumput yang lebih tahan kekeringan, serta diversifikasi sumber pakan agar saat kemarau datang, ternak tetap terjaga dan usaha peternakan tetap berkelanjutan," imbuhnya.
Editor : Doni Ramdhani

