Kekeringan Karawang Meluas, Petani Terpaksa Pompa Air hingga Malam
Kekeringan melanda sawah di Karawang. Petani terpaksa memompa air hingga malam, sementara pasokan irigasi sekunder semakin minim.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Karawang terus memantau pemanfaatan pompa air bantuan di kawasan pertanian untuk mengantisipasi dampak penurunan debit air irigasi tersier dan sekunder.
Kabid Prasarana Pertanian Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Karawang, Lilis Suryani, mengatakan Pemkab Karawang telah menyalurkan puluhan pompa air bantuan dari Kementerian Pertanian (Kementan) kepada kelompok tani.
Bantuan tersebut diberikan sebagai upaya menangani kekeringan yang mengancam areal persawahan selama musim kemarau.
"Pompa air disalurkan untuk membantu para petani di wilayah Karawang agar tetap bisa menanam di tengah musim kemarau. Kami juga terus berkoordinasi dalam pengaturan dan pendistribusian air," kata Lilis.
Selain mengoptimalkan pompa air, penanganan kekeringan juga dilakukan dengan memperbaiki jaringan irigasi tersier yang menjadi salah satu penunjang pengairan lahan pertanian.
Namun, keterbatasan pasokan air membuat petani tetap kesulitan mengairi sawah. Para petani bahkan harus memompa air setiap hari hingga malam untuk memenuhi kebutuhan tanaman.
Saat ini, puluhan hektare areal persawahan di wilayah utara Kabupaten Karawang dilanda kekeringan akibat semakin mengeringnya saluran irigasi sekunder.
"Kekeringan sudah berlangsung selama lebih dari sebulan. Di Kecamatan Pedes hampir rata mengalami kekeringan. Tiap hari bahkan malam hari petani memompa air," kata Engkus, seorang petani di Kecamatan Pedes, Karawang, seperti dikutip dari Antara, Selasa (29/9/2026).
Menurut Engkus, persoalan yang dihadapi petani bukan hanya keterbatasan pompa, tetapi juga semakin minimnya ketersediaan air. Air dari saluran irigasi sekunder maupun sumber lainnya sudah tidak mencukupi untuk mengairi sawah.
"Masalahnya, yang mau dipompa tidak ada airnya. Sumber air kering, saluran sekunder juga kering," katanya.
Kondisi tersebut membuat petani harus berbagi dan mengatur pasokan air secara adil ketika air masih tersedia di saluran.
Keterbatasan air juga mengancam tanaman padi yang berada pada usia 20 hingga 40 hari setelah tanam (HST). Pada fase tersebut, tanaman membutuhkan pasokan air yang cukup agar pertumbuhannya tidak terganggu.
Jika kekeringan terus berlangsung, petani khawatir pertumbuhan tanaman padi terganggu dan hasil panen menurun. Sebab, usia 20-40 HST merupakan fase pembentukan anakan maksimum pada tanaman padi.
Tanpa pasokan air yang cukup, jumlah anakan padi dapat berkurang secara signifikan. Tanaman juga berpotensi menjadi kerdil, layu, dan tidak berkembang secara optimal.
Selain Kecamatan Pedes, kekeringan juga melanda sejumlah wilayah utara Karawang lainnya, seperti Kecamatan Batujaya dan Pakisjaya.
Ketua Serikat Tani Karawang Deden Sofyan sebelumnya menyampaikan bahwa musim kemarau tahun ini menyebabkan ribuan hektare sawah di Karawang "menganggur" karena kesulitan mendapatkan pasokan air.
Areal persawahan yang tidak ditanami tersebut antara lain tersebar di Kecamatan Pakisjaya, Batujaya, Rengasdengklok, Cibuaya, dan sejumlah kecamatan lainnya.
Kondisi serupa juga terjadi pada hamparan sawah di Kecamatan Tegalwaru, Pangkalan, Ciampel, dan sebagian wilayah Kecamatan Telukjambe Barat.
"Kalau dihitung, luas areal sawah yang menganggur pada musim kemarau tahun ini lebih dari 2 ribu hektare," kata Deden.
Editor : Ahmad Sayuti

