Imbas Kemarau Panjang, Dispernakan KBB Ungkap Produksi Ikan Tak Mencapai Target

Produksi ikan di KBB sepanjang Januari-Agustus 2026 tercatat sebanyak 28.748 ton. Namun, angka tersebut belum sesuai target yang ditetapkan sebesar 29.648 ton. 

Imbas Kemarau Panjang, Dispernakan KBB Ungkap Produksi Ikan Tak Mencapai Target
Kepala Dispernakan KBB Wiwin Aprianti mengungkap dampak kemarau panjang terhadap produksi ikan. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - produksi ikan di Kabupaten Bandung Barat (KBB) sepanjang Januari-Agustus 2026 tercatat sebanyak 28.748 ton. Namun, angka tersebut belum sesuai target yang ditetapkan sebesar 29.648 ton. 

Kekurangan sekitar 900 ton ini dipastikan akibat kemarau panjang yang menyusutkan pasokan air ke kolam, sungai, hingga waduk, sehingga luas dan volume lahan budidaya ikut menyusut. 

Pemulihan produksi diproyeksikan baru terjadi saat musim hujan tiba, diperkirakan pada November-Desember 2026.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB Wiwin Aprianti mengungkapkan, cuaca ekstrem menjadi penyebab utama yang tidak bisa dihindari sepenuhnya, namun tetap memerlukan langkah adaptasi agar kerugian peternak tidak meluas.

"Sampai dengan akhir Agustus 2026, produksi ikan KBB tercatat 28.748 ton, sedangkan target yang ingin dicapai adalah 29.648 ton," kata Wiwin, Kamis (24/9/2026).

"Angka ini menunjukkan adanya penurunan yang nyata dibanding rencana, dan penyebab utamanya adalah kemarau panjang yang berlangsung sejak awal tahun ini," sambungnya.

Wiwin menyebut, penurunan debit air merata terjadi di sungai, sumber mata air, kolam budidaya, hingga permukaan air di Waduk Saguling dan Cirata. 

Akibatnya, kedalaman air menipis, suhu air meningkat dan lahan yang layak untuk budidaya ikan menyusut. Bahkan, banyak peternak terpaksa mengurangi jumlah benih yang ditebar atau mempercepat masa panen agar ikan tetap bertahan hidup.

"Kemarau panjang sangat berdampak langsung. Debit air menyusut, sumber air berkurang, baik di sungai, kolam maupun waduk," ujarnya.

"Volume air yang tersedia menurun, sehingga kapasitas lahan budidaya ikut berkurang. Semakin sedikit lahan yang bisa diusahakan, semakin turun pula hasil produksinya," jelasnya.

Wiwin mengakui belum ada langkah yang sepenuhnya dapat meniadakan risiko ketergantungan pada curah hujan. Menurutnya, kondisi membutuhkan diversifikasi sistem budidaya yang lebih tahan kekeringan, penyediaan sumber air cadangan.

"Termasuk pendampingan kepada pembudidaya agar tidak memaksakan tebar benih saat kondisi air tidak memadai," ujarnya.

Wiwin menyebutkan, pemulihan produksi diperkirakan baru akan terlihat jelas setelah curah hujan meningkat secara konsisten. 

"Kami memproyeksikan produksi ikan akan kembali naik signifikan saat musim hujan tiba, diperkirakan antara bulan November hingga Desember 2026," paparnya. 

"Saat itu, pasokan air akan kembali normal dan pembudidaya bisa mulai menebar benih secara optimal," ungkapnya.

Wiwin juga mengimbau para pembudidaya untuk menghemat penggunaan air, menjaga kualitas air yang tersisa, dan berkonsultasi dengan petugas lapangan sebelum menambah populasi ikan agar kerugian dapat ditekan seminimal mungkin.


Editor : Doni Ramdhani