Apresiasi Warga Kampung Adat Cireundeu yang Konsumsi Rasi, Komunitas Aliran Kepercayaan Jabar: Mereka Pelopor Konsep Ketahanan Pangan

Kebiasaan warga Kampung Adat Cireundeu mengonsumsi beras singkong atau rasi menuai beragam apresiasi dari pelbagai pihak. Salah satunya dari komunitas Aliran Kepercayaan Perjalanan Provinsi Jawa Barat.

Apresiasi Warga Kampung Adat Cireundeu yang Konsumsi Rasi, Komunitas Aliran Kepercayaan Jabar: Mereka Pelopor Konsep Ketahanan Pangan
Kebiasaan warga Kampung Adat Cireundeu mengonsumsi beras singkong atau rasi menuai beragam apresiasi dari pelbagai pihak. Salah satunya dari komunitas Aliran Kepercayaan Perjalanan Provinsi Jawa Barat.

INILAHKORAN, Cimahi - Kebiasaan warga kampung adat Cireundeu mengonsumsi beras singkong atau rasi menuai beragam apresiasi dari pelbagai pihak. Salah satunya dari komunitas Aliran Kepercayaan Perjalanan Provinsi Jawa Barat.

Pasalnya, tradisi mengonsumsi rasi tak sekadar simbol kemandirian namun juga cerminan nyata dari ketahanan pangan nusantara.

"Di Cireundeu itu mereka enggak makan nasi. Mereka makan berasingan atau singkong, hasil bumi. Mau harga beras naik setinggi langit pun, Cireundeu tetap tenang," kata Koordinator Aliran Kepercayaan Perjalanan Provinsi Jawa Barat, Kiki Tarki, Selasa 15 Juli 2025.

Kiki menilai, warga kampung adat Cireundeu merupakan pelopor konsep pangan mandiri jauh sebelum jargon itu populer dalam kebijakan pemerintah.

"Singkong Cireundeu punya nilai berbeda. Bukan sekadar komoditas ekonomi, tapi simbol kemandirian, kearifan lokal, dan kebanggaan komunitas," ujarnya.

"Selain itu ada mie kong (mie singkong) dan hasil panen luar biasa," imbuhnya.

Kiki mengaku, pihaknya tengah berupaya menjadikan kampung adat Cireundeu sebagai Pusat Konservasi Budaya Adat dan Lingkungan.

Rencananya, sambung Kiki, pihaknya bakal membangun kawasan hutan bambu serta monumen peringatan tragedi TPA Leuwigajah 2005.

"Karena peristiwa kelam itu menjadi titik tolak lahirnya Undang-Undang Pengelolaan Sampah dan Hari Peduli Sampah Nasional," paparnya.

Kendati perkembangan dunia terus berubah dengan begitu cepat, ungkap Kiki, namun warga kampung adat Cireundeu memilih berjalan perlahan namun penuh keyakinan.

"Mereka tidak menolak modernitas, tapi juga tidak ingin tercerabut dari akar tradisi.
Kita ini lahir kawalani negara. Setia pada Pancasila dan UUD 1945, tapi tak lupa pada akar spiritualitas bangsa," tegasnya.

Pangampih kampung adat Cireundeu, Abah Widi mengatakan, rasi tak hanya sekadar pilihan pangan, namun juga sebuah simbol kemandirian sekaligus perlawanan terhadap ketergantungan bangsa ini pada satu jenis bahan pokok, yakni beras.

"Mungkin bisa diubah pola pikirnya, mindset-nya. Kita makan kan tidak harus beras, contohnya ya abah dan orang-orang Cireundeu," jelasnya.

"Kami sudah puluhan tahun makan singkong dan hidup dengan baik. Sehat, enggak ketergantungan sama beras. Singkong bisa jadi alternatif," sambungnya.

Abah Widi menerangkan, keputusan warga kampung adat Cireundeu untuk tidak mengonsumsi nasi bukan karena kondisi ekonomi yang lemah. Sebaliknya, mereka justru memiliki sawah, lahan, dan hasil bumi yang cukup.

Namun, mereka memilih jalur berbeda sesuai dengan tuntunan adat yang diwariskan leluhur.

"Cireundeu itu bukan miskin, bukan tidak bisa beli beras, bukan tidak punya sawah. Tapi di dalamnya, ada sebuah tuntunan bukan hanya untuk Cirendeu tapi untuk masyarakat yang ada di negara kita," terangnya.

"Dari singkong, leluhur menyampaikan jangan sampai ketergantungan dengan namanya beras," sambungnya.***


Editor : JakaPermana