Arab Saudi Ubah Tarif Bea Masuk, Kemendag Bidik Peluang Ekspor Teknologi Pertanian

Kemendag memafaatkan perubahan bea masuk impor komiditas oleh Pemerintah Arab Saudi untuk memasok produl pertanian

Arab Saudi Ubah Tarif Bea Masuk, Kemendag Bidik Peluang Ekspor Teknologi Pertanian
Suasan adi terminal peti kemas tempat pengiriman barang ekspor ke luar negari. Foto net

INILAHKORAN.ID - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menilai perubahan tarif bea masuk yang diterapkan Arab Saudi terhadap komoditas impor membuka peluang baru bagi Indonesia. 

Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan Arab Saudi terhadap teknologi budi daya, sistem rantai dingin (cold chain), pakan, benih, serta berbagai jasa pendukung sektor pertanian dan akuakultur.

Atase Perdagangan RI di Riyadh, Zulvri Yenni menjelaskan, kebijakan tersebut sengaja dirancang untuk memperkuat sektor pertanian dan akuakultur domestik Arab Saudi. Dampaknya, kebutuhan akan sarana produksi dan teknologi pendukung di negara tersebut dipastikan ikut melonjak.

"Berbagai kebutuhan yang akan mengiringi kebijakan ini dapat menjadi peluang kerja sama baru yang menjanjikan antara pelaku usaha Indonesia dan Arab Saudi," kata Zulvri dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Kamis (16/7/2026).

Zulvri memastikan bahwa kebijakan perubahan tarif bea masuk bagi seluruh negara mitra dagang ini masih berjalan sesuai dengan koridor aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Arab Saudi Nomor 1447-88-10 tertanggal 15 Juni 2026, aturan baru ini telah resmi berlaku sejak 26 Juni 2026. Penyesuaian tarif tersebut menyasar 51 komoditas, termasuk ternak hidup, daging, ikan, udang, produk susu, telur, buah-buahan, bunga, serta produk olahan pertanian lainnya.

Kendati ada penyesuaian tarif, Zulvri tetap optimistis pelaku usaha tanah air mampu menembus pasar Arab Saudi. Ia pun mengajak para eksportir Indonesia untuk semakin agresif memanfaatkan celah pasar yang ada.

Untuk memenangkan kompetisi, pelaku usaha Indonesia diimbau untuk lebih memperhatikan efisiensi biaya, kepatuhan ketat terhadap standar keamanan pangan, serta pengembangan produk yang memiliki nilai tambah tinggi (value-added products).

"Indonesia masih memiliki peluang besar untuk memperluas ekspor produk pangan dan perikanan bernilai tambah. Khususnya pada produk-produk yang belum mampu diproduksi secara mandiri dan memadai oleh industri domestik Arab Saudi, salah satu contohnya adalah kerupuk udang," tutur Zulvri.

Sebagai informasi, hubungan dagang kedua negara menunjukkan tren yang solid. Sepanjang periode Januari hingga Mei 2026, total nilai perdagangan antara Indonesia dan Arab Saudi telah tercatat sebesar 2,19 miliar dolar AS, dengan kontribusi ekspor Indonesia mencapai 843 juta dolar AS.

Sementara pada sepanjang tahun 2025 lalu, total perdagangan kedua negara menyentuh angka 6,53 miliar dolar AS, dengan nilai ekspor Indonesia ke Arab Saudi sebesar 2,88 miliar dolar AS. 

Adapun komoditas ekspor utama Indonesia ke negara timur tengah tersebut sejauh ini didominasi oleh kendaraan dan komponennya, lemak dan minyak hewani/nabati, kapal laut, aneka makanan olahan, serta kayu dan produk olahannya.


Editor : Ahmad Sayuti