Arus Balik Lebaran di Cirebon Meningkat di H+2, Lalu Lintas Lebih Terkendali
Suasa arus balik di jalur Pantura Kabupaten Cirebon masih relatif ramai lancar meskipun pada H+2 mengalami lonjakan jumlah kendaraan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Dishub Kabupaten Cirebon mencatat mulai terjadinya arus balik terjadi pada H+2 atau Senin 23 Maret 2026 dan kembali menurun pada H+3 atau hari ini.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Cirebon, Dadang Raiman, mengungkapkan, peningkatan voluem kendaran hingga kini atau H+3 belum signifikan seperti saat arus mudik kemarin. Pada H+1, volume kendaraan mencapai sekitar 45.022 unit dan meningkat menjadi 63.024 kendaraan pada H+2.
“Namun pada H+3, terjadi penurunan cukup tajam menjadi sekitar 15.977 kendaraan. Ini menunjukkan arus balik tidak terakumulasi dalam satu waktu, melainkan tersebar,” ujar Dadang.
Dia menambahkan, kondisi lalu lintas selama arus balik relatif lebih terkendali dibandingkan saat mudik, seiring dengan berbagai skema pengaturan lalu lintas yang diterapkan di sejumlah titik rawan kepadatan.
“Secara umum, arus balik masih dalam kondisi ramai, tetapi lebih lancar. Pengaturan lalu lintas yang dilakukan cukup efektif dalam mengurai kepadatan kendaraan,” katanya, Selasa 24 Maret 2026.
Sementara itu saat arus mudik, lanjutnya, peningkatan jumlah kendaraan sudah terdeteksi sejak H-7 atau 14 Maret 2026.
“Pada H-7 tercatat sekitar 54.822 kendaraan yang melintas. Angka ini kemudian naik menjadi 68.552 kendaraan pada H-6, dan masih berada di kisaran tinggi, yakni 66.098 kendaraan pada H-5,” ujar Dadang.
Menurutnya, lonjakan mulai terlihat lebih tajam memasuki H-4 dengan jumlah kendaraan mencapai 79.413 unit. Puncak arus mudik, lanjut dia, terjadi pada H-3 dan H-2, saat volume kendaraan berada pada titik tertinggi selama periode tersebut.
“Menjelang H-1, jumlah kendaraan justru turun cukup signifikan menjadi sekitar 55.681 unit. Bahkan pada Hari H Lebaran, 21 Maret 2026, volume lalu lintas menurun hingga sekitar 40.532 kendaraan,” ungkapnya.
Dadang menilai tren tersebut menunjukkan sebagian besar pemudik memilih melakukan perjalanan lebih awal untuk menghindari kepadatan menjelang Hari Raya.
“Ini menandakan pola pergerakan masyarakat sudah berubah. Mayoritas pemudik melintas lebih awal sehingga saat mendekati Lebaran, arus justru mulai melandai,” jelasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

