Aset Industri Keuangan BPR Capai Rp137 Triliun
Sejauh ini, pertumbuhan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) relatif positif. Ketua Komisariat Perbarindo Bandung Raya Mahfud Fauzi mengatakan, tak hanya pinjaman kini kehadiran BPR-BPRS juga menyediakan produk keuangan yang serupa dengan bank konvensional lain.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Sejauh ini, pertumbuhan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) relatif positif. Ketua Komisariat Perbarindo Bandung Raya Mahfud Fauzi mengatakan, tak hanya pinjaman kini kehadiran BPR-BPRS juga menyediakan produk keuangan yang serupa dengan bank konvensional lain.
Menurutnya, karakteristik BPR-BPRS yang memiliki keunikan tersendiri. Mulai dari kemudahan dalam penyaluran kredit hingga keunikan dalam menghimpun dana masyarakat dibandingkan dengan bank konvensional lain. Hal tersebut diakuinya menjadi daya tarik tersendiri sehingga BPR-BPRS relatif masih diminati.
“BPR-BPRS itu memang menyasar segmen pasar UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah). Dari hasil kinerja pada April 2019, aset industri BPR tumbuh sebesar 7,52% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi Rp137 triliun,” kata Mahfud saat Fun Walk 2019 Hari BPR-BPRS Nasional di Balai Kota Bandung, Sabtu (13/7/2019) lalu.
Dia menyebutkan, secara nasioanl jumlah BPR itu mencapai 1.600 unit. Di Jabar, jumlahnya mencapau 200an. Keseluruhan bank itu, sesuai aturan pemerintah kini berusaha untuk memiliki besaran modal inti sebesar Rp3-5 miliar untuk setiap bank.
Untuk itu, sebagai lembaga intermediasi, BPR juga mampu menghimpun dana masyarakat dengan baik. Hal ini terlihat dari jumlah dana masyarakat yang dihimpun dari sisi deposito maupun tabungan. Keduanya masing-masing tumbuh sebesar 7,39% menjadi Rp64 triliun untuk deposito dan 8,39% menjadi Rp29 triliun untuk tabungan.
Dia menjelaskan, sejauh ini jumlah nasabah yang dilayani mencapai 17,9 juta rekening. Jumlah nasabah itu didominasi penabung sebanyak 13,5 juta rekening dengan rata-rata jumlah tabungannya sebesar Rp 2 juta. Sedangkan, nasabah debitur sebanyak 3,8 juta rekening dan rata-rata pinjamannya sebesar Rp 27 juta.
Lebih detil, pertumbuhan tersebut ditopang tumbuhnya penyaluran kredit yang dilakukan industri BPR mencapai Rp103 triliun. Capaian itu tumbuh sebesar 10,84% dibandingkan posisi setahun sebelumnya.
Mahfud menambahkan, industri BPR-BPRS yang terus mengalami pertumbuhan tersebut menunjukkan jangkauan pelayanannya semakin luas. Tak hanya itu, keberadaan BPR-BPRS itu pun semakin dibutuhkan masyarakat.
Meski demikian, dia mengaku sejumlah faktor ikut mempengaruhi perkembangan industri. Seperti perkembangan teknologi informasi, pertumbuhan lembaga-lembaga keuangan mikro baru, perubahan tingkat pendapatan masyarakat, perkembangan perekonomian, dan tuntutan pelayanan perbankan yang lebih baik dari masyarakat.
“Kalau ditanya dampak akibat maraknya fintech, saya menegaskan segmentasi pasar kita berbeda. Kita pun tidak menutup kemungkinan untuk bisa berkolaborasi atau mengadopsi bisnis yang dijalankan fintech,” ucapnya.
Editor : Doni Ramdhani

