INILAH, Bandung - Usaha rintisan Bagidata kini memiliki dua aplikasi andalan. Yakni, permission-based marketing dan applicant profiling.
CEO Bagidata Ikhwan Reza mengatakan, dua layanan itu diawali kebingungan pihaknya saat menerima SMS spam karena dirinya tak pernah memberikan nomor ponsel tersebut kepada tenaga pemasaran.
“Dengan Bagidata, justru pemilik nomor ponsel dengan sadar menyerahkan datanya yang kemudian mendapatkan keuntungan dari data mereka. Keuntungannya berupa poin dan uang yang langsung bisa ditarik ke rekening mereka,” katanya, Kamis (7/3/2019).
Menurutnya, pada 2019 ini Bagidata menargetkan ada 100.000 pengguna. Sebagai startup digital binaan internal PT Telkom target tersebut relatif realistis. Saat ini, rintisan Digital Amoeba itu masuk fase validasi produk dengan pendapatan mendapai ratusan juta rupiah.
Dia menuturkan, Bagidata justru ingin menyadarkan masyarakat bahwa data pribadi itu berharga sekaligus pengguna internet berhak mendapatkan sesuatu dari data mereka. Sebab, selama ini data pengguna internet diperoleh tanpa izin, tricky, dan diam-diam.
Ikhwan menjelaskan, setiap orang berhak mengontrol data mereka. Atas pemikiran itu, saat ini sudah tersedia dua layanan Bagidata yakni permission-based marketing dan applicant profiling. Untuk mengembangkan aplikasi itu dia dibantu Chief Product Officer Risky Gelar Maliq, Chief Marketing Officer Adilla Kasandra, dan Chief Technical Officer Dindin Zaenudin.
Permission-based marketing diakuinya merupakan aplikasi pemilik data dapat memberikan data media sosial, struk belanja, tiket pesawat, dan lainnya. Saat mendapatkan promosi, para pemilik data mendapatkan keuntungan dalam bentuk uang dan poin. Saat ini, tercatat ada 18 ribu lebih pengguna layanan tersebut.
Sedangkan, applicant profiling yaitu layanan yang membantu perusahaan melihat lebih dalam dari data media sosial yang sudah diberikan pelamar di perusahaannya. Dengan melihat analisis sentimen dan perilaku, perusahaan dapat mengenal calon yang paling tepat dan sesuai dengan nilai-nilai perusahaannya.
“Untuk permission based marketing, kami menargetkan milenial. Jadi, mereka tinggal unduh layanan kami di Google Play Store. Sementara, target applicant profiling tentu saja perusahaan-perusahaan yang kini sudah ada klien dari perusahaan telekomunikasi, startup travel, entertainment, kuliner, sosial, dan lainnya,” jelasnya.
Sejauh ini, Ikhwan mengaku sekalipun layanan ini relatif baru namun tidak banyak keluhan dari pengguna maupun kendala operasional perusahaan. Untuk itu, pihaknya menargetkan bisa menjadi perusahan big data terkemuka untuk layanan personal profiling sehingga masyarakat bisa memperoleh manfaat dari data personalnya.