Bakti Nusantara 2024, Merajut Harapan untuk Poso

Kedatangan para relawan ini disambut meriah siswa SD hingga SMP, para guru, tenaga kesehatan dan dokter, petani hingga warga lainnya di Dongi-dongi.

Bakti Nusantara 2024, Merajut Harapan untuk Poso
Kedatangan para relawan ini disambut meriah siswa SD hingga SMP, para guru, tenaga kesehatan dan dokter, petani hingga warga lainnya di Dongi-dongi.

INILAHKORAN, Bandung- Ratusan warga desa Dongi-dongi, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah sumringah kedatangan sekitar seratus relawan dari  Yayasan Tunas Bakti Nusantara (YTBN) yang menggelar bakti sosial bertajuk Bakti Nusantara di wilayah mereka, sejak Kamis (1/8) hingga Minggu (4/8).

Kedatangan para relawan ini disambut meriah siswa SD hingga SMP, para guru, tenaga kesehatan dan dokter, petani hingga warga lainnya di Dongi-dongi.

YTBN memang punya program mengunjungi daerah tertinggal, terluar dan terdepan (3T) seperti di desa Dongi-dongi ini. Selama di lokasi, warga mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis, penyuluhan gizi dan kesehatan lingkungan, pelatihan manajemen puskesmas, peningkatan kapasitas guru, murid dan orang tua murid, kemah perdamaian dan pengadaan pojok baca di kelas. 

Para relawan dari berbagai latarbelakang pendidikan dan profesi ikut membantu memberikan pelatihan kepada masyarakat dan para siswa. Di sekolah satu atap (satap) SD dan SMP Negeri Dongi-dongi misalnya, diadakan penguatan motivasi dan pelatihan bagi para siswa, guru dan orangtua murid. 

Para murid diajarkan permainan seru sambil belajar dan bernyanyi, menggambar hingga tebak-tebakan. Mereka diajar oleh relawan yang berasal dari praktisi pendidikan hingga kwartir nasional gerakan pramuka. 

Dean Adi Putra, siswa kelas 7 SMPN Dongi-dongi merasakan keseruan acara yang digelar YTBN ini. Ia mengaku bisa bermain sambil belajar, mendapatkan ilmu dan pengalaman baru dari para relawan. "Senang juga bisa dapat buku dan peralatan sekolah gratis. Apalagi bisa dapat motivasi dari kakak-kakak yang datang. Pengen acara ini bisa ada lagi di sekolah," ungkap Dean yang bercita-cita jadi seorang polisi. 

Keseruan yang sama juga dirasakan Muhammad Jihan, siswa kelas 3 SDN Dongi-dongi. Ia mengaku bisa belajar hal baru dari para relawan YTBN. "Seru bisa bermain, belajar dan dapat makanan juga," imbuhnya. 

Kepala sekolah SD dan SMP Negeri Satu Atap, Muhammad Dirman terharu dengan pengorbanan yang dilakukan relawan YTBN. Apalagi, para guru di sekolahnya bisa mendapatkan pelatihan dari pengurus pusat Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang jadi bagian dari relawan. Dirman berharap, kualitas guru dan siswa di sekolahnya bisa meningkat usai mendapatkan pelatihan ini.

“Jujur saja, sekolah kami ini apa adanya, masih banyak kekurangan. Kami masih kekurangan guru dan ruang kelas. Semoga kedepannya ada jalan bagi sekolah ini untuk memperbaiki kualitas murid, guru dan juga fasilitas yang ada,” harap Dirman. 

Selain di sekolah, pelatihan juga digelar di balai warga. Di sini, masyarakat bisa belajar penyuluhan pertanian, kesehatan hingga edukasi asupan gizi seimbang. Mayoritas warga di Desa Dongi-dongi berprofesi sebagai petani, terutama tanaman kakao, jagung, sayur dan palawija. Hampir setiap rumah warga tumbuh pohon kakao. 

Warga mendapatkan pelatihan pembuatan dan penggunaan pupuk organik dari para penyuluh. Ketua Penyuluh  Dinas Pertanian Kabupaten Poso, Samsi menyatakan, para warga perlu diedukasi tentang manfaat penggunaan pupuk organik. Selama ini, jelas Samsi, warga masih memakai pupuk kimia untuk pertanian atau perkebunan. 

"Kami coba kenalkan manfaat pupuk organik bagi tanaman. Kalau mau lihat spontanitas misalnya tanaman cepat tumbuh, pupuk kimia memang bagus. Tapi kalau mau keberlanjutan dan hasilnya lebih sehat, pupuk organik jauh lebih baik. Makanya kami edukasi petani di sini," beber Samsi. 

Salah satu petani yang mengikuti penyuluhan ini adalah Zulfikar. Ia mengaku sudah lima tahun menjadi petani dan selalu memakai pupuk kimia. Usai mendapatkan penyuluhan, Zulfikar akan menjajal memanfaatkan pupuk organik. "Ini jadi pengalaman baru bagi saya. Apalagi membuat pupuk organik itu mudah, dari akar bambu yang banyak ada di sini sebagai bahan bakunya," jelas Zulfikar.

Sementara itu, lebih dari 150 warga desa Dongi-dongi, menyerbu layanan pemeriksaan kesehatan gratis di Rumah Sakit Lapangan. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peresmian puskesmas pembantu  (pustu) plus yang akan melayani warga sekitar. 

Salah satu warga yang datang ke RS Lapangan, Muhammat Ilham senang dengan adanya layanan pemeriksaan kesehatan gratis ini. Apalagi, selain dokter umum, disiapkan juga layanan gratis dari dokter spesialis mata, spesialis penyakit dalam dan spesialis anak. Ilham berharap nantinya keberadaan puskesmas pembantu plus bisa menyediakan fasilitas layanan kesehatan yang lengkap bagi warga sekitar. "Agar kami tak perlu lagi harus pergi jauh untuk berobat. Apalagi jika di sini ada dokter dan fasilitas yang bagus," ungkap Ilham.

Di Pustu Plus ini, dokter David Toding akan bertugas. Selama ini, ia menjadi satu-satunya dokter yang berjaga di puskesmas Desa Wuasa, Kecamatan Lore Utara, sekitar 20 kilometer dari Dongi-dongi. Padahal di desa ini ada lebih dari 3.400 warga. David akan ditemani seorang bidan dan perawat. Ia berharap, setelah beroperasi nanti, akan ada tambahan tenaga kesehatan dan dokter yang bertugas. “Karena pasti akan banyak warga yang berobat, maka sangat dibutuhkan tambahan tenaga kesehatan di Pustu Plus ini,” harap David.

Bupati Poso Verna Inkiriwang menegaskan, kehadiran Pustu Plus bukan sekadar bangunan, melainkan menjadi simbol harapan dan semangat kolaborasi. Apalagi, kehadiran Pustu Plus berbarengan dengan Bakti Nusantara Poso 2024 yang dilakukan relawan dari YTBN. “Pembangunan Pustu Plus ini adalah bagian dari upaya pembangunan sumber daya manusia. Kami optimis dengan adanya fasilitas ini, kualitas pelayanan kesehatan akan meningkat. Masyarakat juga dapat memperoleh layanan yang lebih cepat, lebih baik, dan lebih dekat dengan tempat tinggal mereka,” ungkap Verna.***


Editor : Bsafaat