Balai Kota Bogor Punya Waste Station Berbahan Daur Ulang, Pertama di Indonesia
Balai Kota Bogor menghadirkan Waste Station berbahan material daur ulang sebagai ruang edukasi sekaligus upaya mengelola sampah dari sumbernya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Balai Kota Bogor menjadi kantor pemerintahan sekaligus kantor kepala daerah pertama di Indonesia yang memiliki fasilitas Waste Station menggunakan material konstruksi berbahan daur ulang sepenuhnya.
Fasilitas tersebut mulai diperkenalkan kepada publik pada Sabtu (26/9/2026) dan sekaligus menjadi ruang edukasi mengenai pengelolaan sampah dari sumbernya.
Waste Station merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kota Bogor bersama Rekosistem, Yayasan Materia, Ford Foundation, Parongpong RAWHAUS, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian lingkungan Hidup.
Inisiasi fasilitas ini menjadi bagian dari komitmen membangun ekosistem pengelolaan sampah sekaligus mendorong penyelesaian sampah sejak dari sumbernya.
Gagasan tersebut berawal dari pertemuan Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim dengan CEO dan Co-Founder Rekosistem Ernest Christian Layman pada tahun lalu.
“Dari pertemuan tersebut, kami kemudian mengajak para penggiat lingkungan Kota Bogor mengunjungi Rekosistem di Bogor Selatan untuk mempelajari bagaimana membangun ekosistem pengelolaan persampahan. Komitmen tersebut terus berlanjut hingga menghadirkan Waste Station di Balai Kota Bogor,” ungkap Dedie.
Dedie mengatakan, fasilitas tersebut dibangun melalui kolaborasi dengan menggunakan material konstruksi berbahan daur ulang sampah dan dapat diselesaikan dalam waktu enam jam.
Kehadiran Waste Station menjadi bagian dari upaya memastikan kebijakan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir berjalan secara berkelanjutan.
“Dengan adanya Waste Station, akses masyarakat menjadi lebih mudah. Tujuannya agar masyarakat lebih gampang, karena di sini mobilitasnya sangat tinggi. Banyak masyarakat yang beraktivitas di sekitar Balai Kota,” paparnya.
“Ketika mereka datang ke sini, botol-botol atau sampah setelah beraktivitas, seperti selesai berlari atau minum menggunakan botol, bisa langsung dibawa ke sini,” tambah Dedie.
Menurut Dedie, pemberian reward kepada masyarakat juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya memilah sampah dan menyelesaikannya dari sumbernya. Langkah tersebut sekaligus diharapkan membiasakan masyarakat tidak membuang sampah sembarangan.
Sementara itu, Pemerintah Kota Bogor juga tengah menyiapkan pengelolaan sampah melalui Waste to Energy Plant (PSEL).
“Kalau Waste to Energy Plant, kami sudah pastikan Kota Bogor akan memiliki dan saat ini dalam proses pembangunan. Dibangun dalam waktu dua tahun ke depan. Jadi ini bagian dari satu proses besar kebijakan tentang pengelolaan sampah dari hulu ke hilir di Kota Bogor,” jelas Dedie.
Waste Station Jadi Contoh Pengelolaan Sampah Perkantoran
Dedie menuturkan, selain menjadi sarana edukasi publik, Waste Station di Balai Kota Bogor juga diharapkan menjadi contoh bagi perkantoran dalam melakukan tata kelola persampahan.
Menurutnya, sampah yang dihasilkan di lingkungan perkantoran harus dapat diselesaikan sejak dari sumbernya.
“Jadi memang ini yang kami inginkan, sampah itu betul-betul terkelola dari hulu ke hilir. Kami ingin sampah yang ada di perkantoran selesai di perkantoran. Kemudian sampah yang sudah dipilah ada yang masuk ke Waste Station, ada yang diolah langsung dan memiliki nilai manfaat ekonomi, serta ada yang masuk ke PSEL,” bebernya.
Sementara itu, CEO Parongpong RAW Lab Rendy Aditya Wachid mengatakan, Waste Station tersebut dibangun menggunakan material oriplast yang berasal dari sampah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS).
Menurut Rendy, selama ini masyarakat umumnya mengenal tiga jenis sampah, yakni sampah yang dapat didaur ulang, sampah yang dapat dikomposkan, serta sampah yang dianggap tidak dapat dimanfaatkan.
Melalui Waste Station berbahan oriplast di Balai Kota Bogor, masyarakat dapat melihat bahwa sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi material baru.
“Waste Station ini menjadi contoh bahwa sampah yang tadinya tidak bisa diapakan ternyata bisa diolah menjadi material baru dengan kekuatan 15 ton per meter persegi. Fungsinya sama seperti kayu, namun tidak ada satu batang bahkan satu ranting pun kayu yang ditebang untuk membuat material ini,” tutur Rendy.
Rendy menjelaskan, produksi material tersebut dilakukan 100 persen di Indonesia dan pengolahannya tidak melalui proses pembakaran.
Melalui fasilitas tersebut, pihaknya ingin mengedukasi masyarakat bahwa material yang selama ini disebut sampah masih dapat direvitalisasi dan dimanfaatkan kembali.
“Kami juga ingin memperlihatkan bahwa kami memiliki produk yang bagus dan kuat tanpa harus mengorbankan kebutuhan generasi masa depan. Masyarakat dapat mengakses layanan ini dengan membawa sampah yang akan dikonversi menjadi uang atau saldo. Saldo tersebut dapat masuk langsung ke dompet digital maupun rekening bank melalui aplikasi Rekosistem,” pungkasnya.***
Editor : JakaPermana

