Bandung Membiru, Bobotoh Turun ke Jalan Sambut Hattrick Juara Persib

Euforia bobotoh pecah di Kota Bandung seusai Persib memastikan hattrick gelar liga. Flare, kembang api, dan lautan biru memenuhi jalanan.

Bandung Membiru, Bobotoh Turun ke Jalan Sambut Hattrick Juara Persib
Ribuan Bobotoh saat merayakan atas hasil juara BRI Super League yang diraih Persib Bandung di kawasan Dago, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (23/5/2026) malam. ANTARA/Rubby Jovan

INILAHKORAN.ID - Malam itu, Sabtu (23/5/2026), Bandung seperti tak ingin tidur. Langit menyala oleh kembang api, sementara flare membakar udara malam. Suara klakson, knalpot, dan teriakan suporter bersahut-sahutan dari setiap sudut kota.

Nyaris di setiap jalan, lautan manusia mendadak tumpah begitu peluit panjang di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) berbunyi. bobotoh membawa berbagai atribut; mulai dari bendera, spanduk raksasa, syal, hingga drum yang ditabuh tanpa henti.

Tangis haru bercampur tawa bahagia. Anak-anak naik ke pundak ayahnya. Para remaja mengibarkan bendera tinggi-tinggi.

Sebagian mengenakan jersey Persib lengkap dengan ikat kepala biru, sementara yang lain berdiri sambil mengangkat tangan mengikuti nyanyian kemenangan.

Para orang tua berdiri di tepi jalan dengan senyum yang sulit disembunyikan. Kota itu larut dalam satu kalimat yang diteriakkan berulang-ulang.

Persib juaraPersib juara!”

Sabtu malam benar-benar menjadi milik Bandung setelah Persib memastikan diri menjuarai Indonesia Super League untuk ketiga musim berturut-turut. 

bobotoh Turun ke Jalan  

Hasil imbang tanpa gol melawan Persijap Jepara sudah cukup membawa Maung Bandung mengunci takhta tertinggi sepak bola Indonesia.

Di kawasan Braga, suasana berubah menjadi pesta jalanan. Kembang api melesat dari berbagai arah, memercikkan cahaya di antara gedung-gedung tua kota. 

Kepulan asap flare membubung di tengah kerumunan, menciptakan suasana riuh yang bercampur haru. Dari gang-gang sempit hingga jalan utama, warga keluar rumah seolah dipanggil oleh euforia yang sama.

Keramaian menjalar ke berbagai titik. Simpang Braga–Tamblong–Suniaraja dipenuhi iring-iringan motor dan mobil yang membunyikan klakson tanpa henti.

Di Viaduct depan Kantor Pusat KAI, ribuan bobotoh menunggu konvoi sambil menyanyikan lagu kebanggaan Persib. Jalan Wastukencana, Pajajaran, hingga Cihampelas berubah menjadi sungai manusia berwarna biru.

Tak ada sekat usia malam itu. Tua dan muda berdiri berdampingan, merayakan sejarah yang baru saja tercipta.

Persib juara Tiga Musim Beruntun

Persib bukan sekadar juara. Mereka kini menjadi klub pertama yang mampu menaklukkan liga utama Indonesia selama tiga musim beruntun sejak era Liga 1 dimulai pada 2017. Sebuah dominasi yang belum pernah disentuh klub lain.

Tambahan satu poin membuat Persib menutup musim dengan 79 angka. Jumlah itu memang sama dengan milik Borneo FC Samarinda yang menang telak 7-1 atas Malut United. Namun, keunggulan head-to-head memastikan trofi tetap tinggal di Bandung.

Musim ini terasa berbeda bagi Persib. Setelah kehilangan sejumlah pilar penting, banyak yang meragukan mereka mampu menjaga kejayaan. Namun di tangan Bojan Hodak, keraguan perlahan berubah menjadi keyakinan.

Pelatih asal Kroasia itu meramu Persib menjadi tim yang lebih matang dan kolektif. Kedatangan Thom Haye memberi ketenangan di lini tengah. 

Eliano Reijnders menghadirkan visi bermain yang lebih hidup, sementara Adam Alis menjadi simbol kerja keras yang tak pernah padam.

Pertahanan Persib Paling Kokoh

Persib tak lagi hanya mengandalkan ledakan lini depan. Mereka tumbuh menjadi tim yang tahu cara menang dengan sabar dan disiplin. 

Pertahanan mereka menjadi yang paling kokoh di liga, hanya kebobolan 22 gol sepanjang musim. Lebih dari itu, Maung Bandung menutup kompetisi dengan catatan 22 pertandingan tanpa kekalahan.

Bagi bobotoh, gelar ini bukan sekadar angka atau statistik, melainkan kebanggaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sebab di Bandung, Persib bukan hanya klub sepak bola, tetapi telah menjelma menjadi denyut kota. ***


Editor : Gin gin T Ginulur