Bandung Zoo di Persimpangan: Karyawan dan Pengunjung Suarakan Harapan di Tengah Wacana Perubahan

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan, terdapat tiga skenario yang tengah dipertimbangkan terkait nasib Bandung Zoo

Bandung Zoo di Persimpangan: Karyawan dan Pengunjung Suarakan Harapan di Tengah Wacana Perubahan
Para oengunjung Bandung Zoo tengah asyik melihat satwa yang ada di taman satwa tersebut. (Cesar Yudistira/Inilahkoran)

INILAHKORAN.ID - Wacana masa depan Bandung Zoo kini menjadi perhatian publik. Pemerintah Kota Bandung bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat tengah mengkaji arah pengelolaan kawasan tersebut. Keputusan akhir terkait nasib Bandung Zoo diproyeksikan akan diumumkan dalam dua bulan ke depan.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan, terdapat tiga skenario yang tengah dipertimbangkan. Pertama, Bandung Zoo tetap dipertahankan seperti kondisi saat ini. Kedua, kawasan dikembangkan menjadi taman margasatwa dengan jumlah satwa yang lebih terbatas disertai perluasan ruang terbuka hijau. Ketiga, kawasan dialihfungsikan sepenuhnya menjadi ruang terbuka hijau (RTH).

Di tengah proses kajian tersebut, suara dari karyawan dan pengunjung mulai mengemuka.

Perwakilan karyawan Bandung Zoo menyatakan kecenderungan kuat agar kawasan tersebut tetap difungsikan sebagai kebun binatang. Juru bicara karyawan, Sulhan Syafi’i, menilai Bandung Zoo masih memiliki daya tarik tinggi bagi masyarakat.

“Harapan kami tetap seperti sekarang, Bandung Zoo tetap menjadi kebun binatang,” ujar Sulhan.

Menurutnya, tingkat kunjungan warga hingga kini masih tergolong tinggi. Meski operasional dibatasi, jumlah pengunjung di awal tahun rata-rata mencapai 1.500 orang per hari.

Sulhan juga menyoroti status Bandung Zoo yang masih berada pada kategori grade B. Penilaian tersebut, kata dia, mencerminkan pengelolaan kebun binatang yang masih layak dan memenuhi standar.

“Status grade B itu menunjukkan pengelolaan kita masih sangat baik sebagai kebun binatang,” tuturnya.

Selain fungsi konservasi, Bandung Zoo dinilai telah lama berperan sebagai ruang terbuka hijau. Kawasan ini ditumbuhi belasan ribu pohon besar yang berkontribusi pada kualitas udara Kota Bandung.

“Di sini ada belasan ribu pohon besar dengan produksi oksigen yang sangat baik,” kata Sulhan.

Ia menilai, apabila opsi pengurangan fungsi kebun binatang atau alih fungsi menjadi taman kota diterapkan, dampaknya bukan hanya pada keberlangsungan satwa, tetapi juga pada identitas Kota Bandung. Terlebih, Bandung Zoo memiliki sejarah panjang dan catatan keberhasilan konservasi, termasuk pengembangbiakan tapir.

“Kalau satwanya makin sedikit atau hanya jadi taman kota, kesan kota besar yang punya kebun binatang juga akan hilang,” ujarnya.

Meski demikian, pihak karyawan menyatakan tetap menghormati keputusan pemerintah sebagai pemegang otoritas.

“Kami tetap akan mengikuti keputusan pemerintah. Apapun opsinya, kami ikut,” ujar Sulhan.

Ia menegaskan, meskipun kecenderungan karyawan berada pada opsi pertama, yakni mempertahankan fungsi kebun binatang, mereka siap menyesuaikan diri dengan kebijakan yang ditetapkan.

Saat ini, Bandung Zoo dibuka untuk publik sebagai ruang terbuka hijau tanpa tiket masuk. Pengunjung hanya diminta berdonasi secara sukarela. Sementara itu, kebutuhan pakan satwa ditanggung oleh pemerintah melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat.

Menurut Sulhan, mekanisme bantuan dilakukan melalui penggantian biaya pembelian pakan yang langsung ditransfer ke pihak penjual. Adapun donasi dari pengunjung digunakan untuk menutup kebutuhan operasional lainnya.

“Dari sekitar 1.500 pengunjung per hari, donasi bisa terkumpul sekitar Rp 6 juta sampai Rp 8 juta,” ungkapnya.

Harapan agar Bandung Zoo tetap bertahan juga datang dari para pengunjung. Sandi (30), warga Soreang, Kabupaten Bandung, mengaku ingin kebun binatang tersebut tetap beroperasi sebagai destinasi wisata keluarga.

“Biar semua orang masih bisa liburan ke sini,” ujarnya.

Kunjungan tersebut menjadi pengalaman pertama bagi Sandi dan keluarganya. Ia mengaku terkesan bisa melihat langsung berbagai satwa.

“Senang sekali. Yang tadinya belum pernah lihat, sekarang jadi bisa lihat. Anak dan istri juga senang,” katanya.

Nada serupa disampaikan Utari (17), warga Cimahi, yang datang bersama kakaknya.

“Jangan ditutup dulu. Ini kan salah satu tujuan wisata warga Bandung dan sekitarnya,” ucapnya singkat.

“Yang penting tetap ada binatangnya,” tambah Utari.

Di tengah kajian kebijakan yang masih berjalan, suara karyawan dan pengunjung menjadi pengingat bahwa Bandung Zoo bukan sekadar ruang fisik, melainkan ruang sosial, edukatif, dan historis yang memiliki makna bagi banyak orang.


Editor : Ahmad Sayuti