INILAH, Bogor – Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian melakukan digitalisasi operasional karantina untuk mencegah masuk dan tersebarnya hama penyakit yang mengancam kelestarian, kesehatan dan juga perekonomian bangsa.
"Seiring peningkatan arus lalu lintas produk pertanian, digitalisasi operasional karantina merupakan pilihan strategis dalam menjamin akurasi, percepatan layanan dan jaminan kesehatan serta keamanan produk pertanian kita," ungkap Kepala Barantan Banun Harpini usai menyampaikan paparan evaluasi nasional capaian kinerja 4 tahun dan Karantina Pertanian di Era Industri 4.0 di IICC IPB Botani, Kota Bogor, Senin (19/11/2018).
Banun melanjutkan, hal tersebut dilakukan karena seiring peningkatan arus lalu lintas produk pertanian, hal itu menjadi fokus layanan karantina sebagai otoritas yang menjamin kelestarian dan kesehatan sumber daya hayati serta keamanan pangan dan pakan produk pertanian. Setelah tersusunnya Rancang Bangun Teknologi Informasi di tahun 2016, Barantan terus mengembangkan sistem informasi dalam layanannya.
"Arsitektur IT disiapkan diseluruh lini operasional baik perkantoran maupun operasional, pelayanan publik, pengawasan dan pengendalian dalam bentuk road map pembangunan sistem informasi. Kini layanan perkarantinaan yang otomatis, atau Indonesia Quarantine Full Automation System dan IQFAST," terangnya.
Banun menjelaskan, IQFAST adalah rumah besar sistem Informasi karantina yang telah dibangun dan digunakan diseluruh unit pelaksana teknis karantina pertanian di seluruh Indonesia. Dan sistem yang memungkinkan monitoring arus lalu lintas komoditas pertanian diseluruh pintu pemasukan dan pengeluaran secara real time.
"Ya, ini menjadi titik tolak pengembangan big data perkarantinaan kedepan. Pengawasan dan pengendalian waktu tunggu atau dwelling time menjadi dapat dikendalikan. Dari data yang dilansir Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan, waktu tunggu di pelabuhan Tanjung Priok di tahun 2018 rata-rata 0.55 hari setelah sebelumnya di tahun 2017 rata-rata 3,63 hari," jelasnya.
Banun membeberkan, tidak hanya ditatanan operasional layanan, Barantan juga tengah mengembangkan sistim elektronik di bidang perkantoran antara lain adalah E-Simonev, E-persuratan, E-personal dan E-Plan. Sementara dibidang Operasional yaitu E-Sijaka, E-Prior Notice, E-TPK, E-Simponi Barantan serta E-Kalkulasi PNBP.
"Aplikasi untuk layanan publik yang juga telah berjalan, antara lain PPK Online, E-Layanan Prioritas, E-APIKH, E-SAB dan Website dilingkup Kantor Pusat. Inovasi juga dilakukan di unit pelaksana teknis yakni SiCermat, Quarantine Tracker, PrioQlik dan untuk yang disebut terakhir telah mendapatkan penghargaan dari Presiden sebagai Top 40 Inovasi di lingkup Kementerian dan Lembaga," bebernya.
Banun menambahkan, untuk aplikasi pengendalian yang telah tersedia berupa E-Analysing Point, E-SPI, E-SAKIP, telah dapat berkontribusi kepada kementerian pertanian terkait dengan opini laporan keuangan WTP dari BPK selama 2 Tahun berturut-turut di tahun 2016 dan 2017 serta menerima penghargaan sebagai K/L bebas gratifikasi terbaik dari KPK pada Tahun 2017.
"Ada juga E-Cert untuk memfasilitasi perdagangan ekspor komoditas pertanian, sudah dilakukan pada tiga negara mitra dagang yaitu Australia, New Zealand dan Belanda. Kedepan menyusul Amerika Serikat, Jepang dan Singapura yang dijamin oleh otoritas certificate digital, Badan Sandi dan Siber Nasional (BSSN). Dan penjaminan ini semakin mendorong terwujudnya pelayanan karantina berkelas dunia," pungkasnya.