Bekasi Ikut Rasakan Tumpahan Minyak Pertamina

Semburan gas dan tumpahan minyak di proyek YYA-1, Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang dioperatori oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) di Pantai Utara Jawa, Karawang Jawa Barat telah berdampak ke delapan daerah.

Bekasi Ikut Rasakan Tumpahan Minyak Pertamina
Ilustrasi/Antara Foto

INILAH, Jakarta - Semburan gas dan tumpahan minyak di proyek YYA-1, Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang dioperatori oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) di Pantai Utara Jawa, Karawang Jawa Barat telah berdampak ke delapan daerah.

Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Karliansyah, hal itu diketahui setelah tim turun ke lapangan.

"Sejak Sabtu minggu lalu kami sudah di lapangan (terkait peristiwa ini)," kata Karliansyah dalam pesan singkat, Minggu (28/7/2019).

Menurut dia, dari delapan daerah itu mayoritas ada di Karawang, yakni ada enam daerah. Sedangkan dua daerah lainnya ada di Bekasi. Tapi dia belum merinci laut di daerah tersebut yang tercemari.

"Delapan desa sudah terdampak (dari) tumpahan minyak, dua Desa di Kab. Bekasi dan enam Desa di Kab. Karawang," ujar dia.

Namun demikian, dia belum bisa merinci seberapa besar dampaknya. Begitu juga mengenai kerugian lingkungan beserta kerugian masyarakat sekitar yaitu nelayan atas kejadian ini. Sebab, sekarang ini tim masih melakukan kajian.

Pertamina sendiri beberapa waktu lalu mengatakan belum tahu dengan pasti mengenai penyebab kebocoran gas yang disertai semburan minyak ke laut. Bahkan Pertamina selaku induk dari Pertamina Hulu Energi sampai mengambil alih penanganan masalah ini.

"Saat ini (penanganan) ditarik ke level korporat sebagai komitmen Pertamina menyelesaikan masalah ini seintensif mungkin," kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fajriyah Usman beberapa waktu lalu.

Nah, sampai sekarang ini, belum ada keterangan lagi dari Pertamina apakah masalah ini sudah bisa ditangani atau belum. Yang pasti pada saat jumpa pers Kamis 25 Juli lalu semburan gad beserta minyak belum bisa teratasi.

Plt Dirjen Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto sebelumnya mengatakan, potensi gelembung gas disertai minyak di proyek YYA-1, Blok Offshore North West Java (ONWJ), berpotensi seperti bencana tumpahan minyak di Teluk Meksiko, Amerika Serikat yang difilmkan dengan judul Deep Horizon.

"Pernah menonton Deep Horizon nggak? Kejadian buruknya bisa seperti (film) itu," kata Djoko,di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Nah, untuk mencegah resiko terburuk itu, kata dia, anak usaha Pertamina itu saat ini tengah dilakilam upaya pencegahan. Salah satunya dilakukan pengeboran miring.

Namun, upaya tersebut mengakibatkan anjungan lepas pantai yang ada di YYA Blok ONWJ yang dioperatori Pertamina Hulu Energi (PHE) mengalami kemiringan, saat ini kemiringannya sudah mencapai 8 drajat.

"Sekarang sedang diupayakan dilakukan bor miring untuk menutup kebocoran gas blow out. Risikonya anjungan miring 8 drajat miringnya," tutur Djoko.

Menurut Djoko, Kementerian ESDM dan Pertamina sudah menurunkan tim untuk mengatasi gelembung gas tersebut, upaya tahap awal adalah menyelamatkan pekerja untuk menghindari korban jiwa, kemudian berikutnya adalah mengantisipasi kerusakan lingkungan.

"Tim kami sedang berada di lokasi sejak hari kejadian kan Jumat (12 Juli 2019), kami sudah mengirim ke sana. Masih di Pertamina crisis center," kata dia.

Sumur YYA-1 merupakan sumur reaktifasi di sekitar 2 Kilo Meter (KM) dari Pantai Utara Jawa, Karawang Jawa Barat. Gelembung gas muncul sejak Jumat (12/7/2019), dalam proses mengeboran untuk mengaktifkan kembali sumur YYA-1 untuk diproduksi kandungan minyak dan gasnya (migas). (Inilah.com)


Editor : Bsafaat