Berpenampilan Gagah, Senopati jadi Raja Pejantan pada Kontes Ternak di Lembang

Senopati, seekor domba Garut dengan penampilan gagah dan bertanduk gayor atau bentuk pangkal tanduknya ke belakang melingkar ke bawah mencuri perhatian orang-orang yang hadir dalam kontes ternak di Jalan Kayu Ambon, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kamis 25 Juli 2024.

Berpenampilan Gagah, Senopati jadi Raja Pejantan pada Kontes Ternak di Lembang
Senopati, seekor domba Garut dengan penampilan gagah dan bertanduk gayor atau bentuk pangkal tanduknya ke belakang melingkar ke bawah mencuri perhatian orang-orang yang hadir dalam kontes ternak di Jalan Kayu Ambon, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kamis 25 Juli 2024./Agus Satia Negara

INILAHKORAN, Ngamprah - Senopati, seekor domba Garut dengan penampilan gagah dan bertanduk gayor atau bentuk pangkal tanduknya ke belakang melingkar ke bawah mencuri perhatian orang-orang yang hadir dalam kontes ternak di Jalan Kayu Ambon, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kamis 25 Juli 2024.

Domba berwarna putih itu diketahui milik Tata Irawan (55) warga Kampung Cipada Girang, Desa Cipada, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat.

Kehadiran Senopati dalam  kontes ternak yang diadakan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jawa Barat itu mampu menjadi magnet dan dilirik banyak warga yang hadir.

"Domba ini baru satu kali ini saja ikut kontes ternak dan langsung jadi raja pejantan, juara satu," kata Tata kepada wartawan, Kamis 25 Juli 2024.

Menurut Tata, Senopati bisa juara lantaran juri menilai ada keistimewaan seperti bulu putih mengkilap, tipe tanduk, dan badannya bagus, sehingga jika seperti itu sudah masuk kriteria domba Garut yang kasep atau tampan.

"Jadi yang dinilai dalam kontes itu pertama kesehatan, kemudian rengreng tanduk, pulesnya, badan, dan tulang-tulangnya juga, semuanya dinilai karena ini kan domba kasep," sebutnya.

Kendati menjadi juara, sambung Tata, tidak ada treatment khusus yang diberikan untuk domba kesayangannya itu. Bahkan, perawatannya sama dengan domba Garut yang lain seperti makan dikasih rumput, ampas tahu dan tempe, serta daun nangka.

"Kemudian sekali-kali diberi vitamin, dan obat cacing, jadi tidak ada yang luar biasa. Domba saya rawat dari kecil, sehingga tahu kebiasaan dan maunya seperti apa," tuturnya.

Tata mengaku, membeli domba Garut itu saat usianya enam bulan dan kini sudah berusia dua tahun. Dia sengaja memberikan nama Senopati supaya bisa disebut raja hingga akhirnya nama tersebut kenyataan jadi raja pejantan.

Menurutnya, dengan menjadi raja pejantan, tentu harga jual domba ini bakal naik tetapi pihaknya enggan menyebutkan harga meski sudah ada beberapa orang pecinta domba Garut yang memberikan penawaran.

"Kalau ada yang minat silakan hubungi saya langsung karena saya tidak mau merusak harga pasaran domba, kemarin ramai ada yang nawar tapi belum saya lepas," tuturnya.

Pj Gubernur Jabar, Bey Machmudin mengatakan, bagi pemenang kontes ternak ini tentu ada harga jual yang cukup tinggi bagi ternak-ternaknya, sehingga kondisi ini pun nantinya bisa meningkatkan ekonomi masyarakat.

"Dari kontes ini kita lihat ada harga yang cukup tinggi bagi pemenang kontes dan ini menjadi baik bagi semua masyarakat karena jadi ada perputaran ekonomi," ujar Bey.

Selain kontes domba Garut, ada juga kontes sapi perah, ayam dan lain-lain, sehingga digelarnya kegiatan ini nantinya bisa jadi swasembada pangan khususnya daging sapi, daging kambing, telur, susu, dan olahannya.

"Acara ini sangat baik dan juga banyak pengunjung dan dari acara ini sebetulnya kita mampu swasembada pangan," ujarnya.

"Seharusnya, ke depan gizi masyarakat di Jawa Barat bisa lebih baik lagi dan angka stunting bisa ditekan," katanya.***


Editor : JakaPermana