BIJB Dorong Ekonomi dan Pariwisata

Sejatinya, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati dibangun untuk pemerataan ekonomi. Dari sisi lokasi, bandara ini akan menyingkap tirai sebelah timur Jabar.

BIJB Dorong Ekonomi dan Pariwisata
Foto: Syamsuddin Nasoetion

INILAH, Bandung - Sejatinya, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati dibangun untuk pemerataan ekonomi. Dari sisi lokasi, bandara ini akan menyingkap tirai sebelah timur Jabar.

Sebagai operator, PT Angkasa Pura (AP) II menyatakan kesiapannya melayani perpindahan penerbangan maskapai jet domestik dari Bandara Husein Sastranegara ke BIJB Kertajati. Sesuai rencana, perpindahan 56 penerbangan tersebut akan dimulai awal Juli mendatang.

“Kami optimistis BIJB Kertajati ini akan menjadi menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi dan pariwisata daerah-daerah di Jawa Barat secara keseluruhan,” kata President Director AP II Muhammad Awaluddin dalam diskusi ‘Era Baru Industri Aviasi di Tanah Pasundan’ di Bandung, Sabtu (22/6/2019).

Menurutnya, seluruh stakeholder di industri penerbangan, industri pariwisata, dan masyarakat umum seharusnya melihat proses pengembangan Bandara Kertajati bukan hanya dari kacamata internal rate of return (IRR) saja. Namun, sudut pandang yang dipakai yakni economic rate of return (ERR) yang bisa mendorong ekonomi masyarakat dan daerah sekitar. 

Director of Engineering & Operation AP II Djoko Murjatmodjo menambahkan, pemerintahan daerah dan masyarakat Jabar tidak akan bisa menikmati manfaat yang lebih besar dari sektor pariwisata jika masih tetap mengandalkan Bandara Husein Sastranegara sebagai pintu masuk wisatawan ke daerahnya.

“Bandara Husein bertahun-tahun tidak berkembang. Untuk menambah landasan jadi 2.200 meter saja kita harus menebang gunung. Sementara di sana ada lapangan tembak TNI,” kata Djoko.

Sesuai instruksi Kementerian Perhubungan, AP II tidak akan mengalihkan seluruh penerbangan komersial ke BIJB Kertajati. Namun, hanya akan memindahkan penerbangan domestik bermesin jet saja.

“Mengapa internasional masih di Bandara Husein, karena mempertimbangkan kelangsungan bisnis pariwisata di Bandung. Hal-hal ini tentu kami perhatikan,” ujarnya.

Sedangkan, Direktur Bandar Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) M Pramintohadi Sukarno menjelaskan, dalam menyetujui pembangunan suatu bandara pemerintah tidak hanya membuat perencanaan untuk waktu 2-3 tahun saja. Namun, perencanaan pengembangan dibuat untuk 20-30 tahun ke depan. 

Dalam catatan Kemenhub, pertumbuhan lalu lintas udara di Jabar sudah tidak terakomodasi lagi Bandara Husein Sastranegara. Sepanjang 2016-2018, jumlah penumpang tumbuh 6% menjadi 3,86 juta pax. Kargo tumbuh 40% jadi 19,21 juta kilogram, dan lalu lintas pesawat tumbuh 11% jadi 31.865 pergerakan pesawat. 

“Jadi, mau tidak mau harus pindah karena Bandara Husein tidak bisa dikembangkan lagi,” tambahnya.

Senada dengan itu, Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Agus Taufik Mulyono meyakini pemindahan penerbangan itu tidak akan membuat industri pariwisata Bandung mati. Sebab, Kota Kembang itu sudah dikenal sebagai kota pendidikan dan wisata kulinernya.

Meski demikian, dia menyebutkan dalam waktu dekat ini para pihak terkait memperbaiki aksesibilitas dan mobilitas calon penumpang pesawat. Dia menyepakati dengan adanya rencana angkutan shuttle bus dengan penambahan simpul pemberangkatan ke BIJB Kertajati dari Bandung maupun kota-kota lainnya. 

Terkait moda transportasi tersebut, Sekretaris Dinas Perhubungan Jabar Andreas Wijanto menyebutkan saat ini terdapat 19 operator bus dan 167 armada angkutan umum yang siap melayani transportasi darat dari dan menuju BIJB Kertajati. Setiap armada itu melayani rute pp menuju Bandung, Cirebon, Majalengka, Kuningan, Tasikmalaya, Cikarang, Indramayu, Purwakarta, dan Sumedang.

“Saat ini kami sedang melakukan sosialisasi, karena dengan hadirnya Bandara Kertajati akan membuka pariwisata daerah timur Jabar,” jelas Andreas.


Editor : Doni Ramdhani