BIJB Kertajati Makin Repot, Hanya Layani 3 Penerbangan Domestik dan 2 Mancanegara, Dishub Jabar Ungkap Sebabnya...
Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka sudah semakin kerepotan, karena keterbatasan destinasi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka sudah semakin kerepotan, karena keterbatasan destinasi.
Di BIJB Kertajati, hanya ada lima maskapai yakni Super Air Jet yang melayani penerbangan ke Medan (Sumatera Utara), Denpasar (Bali) dan Balikpapan (Kalimantan Timur). Lalu Citilink hanya melayani rute Balikpapan, Scoot untuk tujuan Singapura dan Air Asia serta Malaysia Airlines yang melayani penerbangan ke Kuala Lumpur, Malaysia.
Menyikapi situasi tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Jabar Dhani Gumelar mengungkapkan, kondisi ini terjadi karena maskapai penerbangan sedang tidak baik-baik saja.
"Keterbatasan suku cadang, kenaikan avtur itu menjadi penyebab," ujar Dhani di Kota Bandung, Kamis 19 Juni 2025.
Sehingga membuat maskapai menjadi berpikir ulang, sebelum membuka rute baru. Selain itu, masalah supply and demand juga menjadi masalah.
"Terus kedua juga, dengan beberapa kecelakaan. Kejadian kecelakaan kemarin, terutama dari Boeing ya, itu menyebabkan turunnya permintaan pesawat," ucapnya.
"Nah itu mungkin yang menjadi penyebab dari sisi global gitu ya," imbuhnya.
Dari internal, jarak antara BIJB dengan Bandara Halim Perdanakusumah dan Bandara Soekarno-Hatta yang dekat, menjadi penyebab masyarakat cenderung memilih ke sana.
"Sehingga pilihannya, masyarakat lebih cenderung ke Jakarta karena menggunakan Whoosh," kata dia.
Maka dari itu, Pemprov Jabar kata Dhani tengah mengupayakan memaksimalkan BIJB Kertajati untuk penerbangan umrah dan haji.
Peluang ini sangat terbuka, karena tingginya traffic arus di Bandara Soekarno-Hatta yang sudah sangat padat.
"Jadi otomatis itu dialihkan ke sini, ke Kertajati," ucapnya.
Disinggung mengenai Bandara Husein Sastranegara, Dhani menjelaskan bahwa kondisi bandara tersebut sudah tidak memungkinkan untuk pesawat besar bermesin jet. Makanya penerbangan di sana dikurangi.
Dimana kini Bandara Husein hanya melayani penerbangan pesawat bermesin baling-baling, salah satunya tujuan Pangandaran dan Bandara Halim.
"Nah mungkin itu nanti yang akan coba kita dorong lagi, misalkan untuk penerbangan yang cukup dekat, yang tidak menggunakan pesawat jet itu bisa menggunakan Bandara Husein. Tapi tetap untuk yang penerbangan jauh-jauh tetap menggunakan kereta jet," kata dia.
Sisi lain, Wali Kota Bandung M Farhan mengusulkan agar membuka kembali penerbangan di Bandara Husein Sastranegara. Kondisi ini dilakukan agar sektor pariwisata Kota Bandung kembali bangkit dan lebih maksimal.
Merespons hal tersebut, Pemprov Jawa Barat memastikan usulan ini nantinya akan disampaikan kepada pemerintah pusat. Namun, Pemprov mengharapkan nantinya melahirkan kebijakan yang sama-sama menguntungkan untuk Bandung dan Jabar.
"Kita tunggu kebijakan pemerintah pusat. Semoga ada solusi yang menguntungkan kedua daerah," ujar Asisten Daerah 2 Setda Jabar Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sumasna di Kota Bandung, Kamis 19 Juni 2025.
Menurutnya, Pemprov Jabar sangat berkepentingan untuk meramaikan BIJB untuk warga Jabar bagian timur dan warga Jawa Tengah bagian Barat.
"Faktor itu juga harus menjadi pertimbangan, terutama setiap musim haji karena pasarnya jelas," ucapnya.
Meski demikian, Sumasna juga memahami kepentingan Kota Bandung sebagai Ibu Kota Provinsi Jabar, bandara adalah faktor pendukung utama pereokonomian, terutama sektor pariwisata.
"Ya, saya paham kepentingan Kota Bandung. Oleh karena itu, mari kita berharap bersama ada solusi yang menguntungkan kedua daerah," kata dia.
Diketahui, Wali Kota Bandung, Farhan mengusulkan agar Bandara Husein Sastranegara kembali dibuka untuk penerbangan kkomersial
Menurutnya, masyarakat Jawa Barat selama ini dipaksa menggunakan Kertajati yang letaknya jauh dari pusat kegiatan ekonomi. Akibatnya, justru banyak warga memilih terbang melalui Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta.
"Jadi yang perlu dilakukan sekarang adalah buka segera Bandara Husein. Karena dengan segera membuka Husein, maka sektor pariwisata Kota Bandung akan bergerak," kata Farhan di Balai Kota Bandung beberapa waktu lalu.
Farhan mengungkapkan, selama ini terbukti bahwa pasar penerbangan terbesar di Jawa Barat berada di Kota Bandung. Oleh karena itu, menutup bandara yang melayani kebutuhan warga Bandung dan sekitarnya dinilai sebagai keputusan yang tidak masuk akal.
"Dengan ditutupnya Husein dan dipaksa semua orang pindah ke Kertajati untuk terbang, terbukti bahwa market terbesar untuk penerbangan itu ada di Kota Bandung. Jadi nggak masuk akal kalau bandara Kota Bandung itu ditutup," tegasnya.
Farhan juga menyoroti beban anggaran yang harus ditanggung Pemerintah Provinsi Jawa Barat akibat kerugian operasional Kertajati yang mencapai lebih dari Rp60 miliar setiap tahun. Bahkan, menurutnya, angka kerugian itu bisa lebih besar dari yang dilaporkan.***
Editor : JakaPermana
