Bikin Gaduh di Puncak, Mahasiswa dan Pedagang Warpat Tuntut Kemendagri Pulangkan Asmawa Tosepu ke Konawe
Sudah menjabat selama sembilan bulan, Penjabat Bupati Bogor Asmawa Tosepu dianggap tidak menghasilkan prestasi yang gemilang, dan malah hanya menghadirkan kegaduhan dan kekacauan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor-Sudah menjabat selama sembilan bulan, Penjabat Bupati Bogor Asmawa Tosepu dianggap tidak menghasilkan prestasi yang gemilang, dan malah hanya menghadirkan kegaduhan dan kekacauan.
Yang paling gaduh dan terbaru ialah penertiban bangunan tak memiliki Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) tahap II di Kawasan Puncak yang dianggap tebang pilih.
Dimana, Satpol PP hanya berani membongkar bangunan milik masyarakat kecil dan tidak berani membongkar bangunan milik investor kakap seperti bianglala PT. Jaswita Jabar dan Restoran Asep Stroberi..
Menyikapi fenomena tebang pilih tersebut, ratusan massa dari HMI-MPO Kabupaten Bogor dan perwalan pedagang Warpat Puncak pun melakukan aksi demonstrasi di Kantor Bupati Bogor.
Mereka mendesak, Kementerian Dalam Negeri memulangkan Asmawa Tosepu, hingga tidak menjabat lagu sebagai Penjabat Bupati Bogor.
"Asmawa Tosepu diduga melakukan tebang pilih dalam menegakkan Perda nomor 4 Tahun 2015 tentang ketertiban umum dan penertiban bangunan tak berPBG di Kawasan Puncak, itu salah satu alasan kami agar Kemendagri memulangkan Asmawa Tosepu ke Konawe atau Kendari, Sulawesi Tenggara," ujar Ketua HMI MPO Cabang Kabupaten Bogor Al-Azis Jaya Wiguna kepada wartawan, Jumat, 6 September 2024.
Al-Aziz Jaya Wiguna menambahkan bahwa tebang pilihnya penertiban tahap II bangunan tak berPBG telah menyayat hati masyarakat kecil, terlebih kondisi ekonomi saat ini masih terbilang sulit.
"Ratusan hinga ribuan pedagang Warpat Puncak dan karyawannya kini dalam kondisi sulit ekonominya, ini bisa menjadi pemantik konflik sosial yang tentunya kami tidak inginkan," tambah Al-Azis Jaya Wiguna.
Yuki salah satu pedagang Warpat mengaku sudah tiga minggu tidak memiliki penghasilan, hingga ia menjual alat-alat elektronik milik keluarganya.
"Saya sudah tidak memiliki penghasilan, sejak warung saya dibongkar Satpol PP pada Senin, 26 Agustus kemarin. Semua barang-barang elektronik dan perhiasan sudah habis saya jual untuk bertahan hidup," ucap Yuki.***
Editor : JakaPermana
