Bima Keluarkan Surat Terbuka Soal MIAH, Cari Jalan Terbaik dan Hindari Korban Kekerasan
Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menanggapi adanya pemaparan dari Ustadz Yazid Jawas soal Masjid Imam Ahmad bin Hambal (MIAH), tanggapan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor - Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menanggapi adanya pemaparan dari Ustadz Yazid Jawas soal Masjid Imam Ahmad bin Hambal (MIAH), tanggapan itu dibuat orang nomor satu Kota Bogor dengan membuat surat terbuka yang berjudul 'Surat Terbuka Bima Arya' pada Sabtu (30/7/2022) sore.
Dalam surat tersebut Bima terus berikhtiar untuk mencari jalan terbaik agar MIAH bisa terbangun dan tidak ada korban kekerasan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim. Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta'inu wanastaghfiruhu wana'udzubillahi min syuruuri anfusinaa wamin sayyiaati a'maalina. Man yahdillah falaa mudhillalahu wamin yudhillhu falaa haadiyalahu. Asyhadu ala ilaha illallah, wa asyahdu anna muhammdan abduhuu warosuluh. Saudara-saudaraku, surga adalah cita-cita seluruh umat manusia. Menempuh jalan menuju Surga membutuhkan perjuangan yang tidak sedikit," ungkap Bima kepada INILAH pada Sabtu (30/7/2022) sore.
Baca Juga: Persib Kalah, Robert Albert Cuma Bilang Begini
Bima melanjutkan, untuk itu tidak putus doa agar semua masyarakat panjatkan. Salah satunya adalah doa yang diambil dari sebuah Hadits. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang menjadi pegangan urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku; serta jadikanlah kehidupanku mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan kematianku sebagai kebe basanku dari segala keburukan'.
"Saudara-saudaraku. Dalam kasus pembangunan MIAH, saya menerima banyak sekali pertanyaan yang mempertanyakan status pembangunan masjid tersebut. Izinkan saya ungkapkan dari hati yang terdalam, sebagai umat muslim, apa tujuan saya menghalang-halangi pembangunan masjid? Kalau cita-cita saya adalah surga, lantas untuk apa saya menghalang-halangi pembangunan masjid tersebut?. Dimana kerabat dan banyak sahabat saya bersama sama warga juga beribadah di sana dan belajar juga dengan Al Ustadz Fadhil Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah," terangnya.
Baca Juga: Ditipu Ditawari Kerja, 60 WNI Disekap Kartel Judi di Kamboja
Bima menjelaskan, sebagai pemimpin sebuah kota (ulil amri) sudah sepatutnya menjalankan roda pemerintahan bersama para Ulama. Dan itu yang selama ini dirinya lakukan di Kota Bogor. Persoalan pembangunan MIAH bukan keputusan dirinya sendiri dan secara pribadi, tapi keputusan bersama berbagai pihak untuk menjaga kondusifitas kota, mencegah konflik kekerasan dan situasi anarkis di lokasi tersebut.
"Betul MIAH secara hukum sudah menang. Tapi pembangunan Masjid ini tidak hanya terkait keputusan pengadilan, tapi ikhtiar agar pembangunan masjid ini penuh berkah. menjadikan rumah Allah ini adalah tempat yang paling indah untuk mengabdi, beribadah, melantunkan, mengkaji kalamullah dan bermunajah kepada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. An Nuur: 36, yang berisi bertasbih kepada Allah di mas jid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di da lamnya, pada waktu pagi dan waktu petang," jelasnya.
Bima membeberkan, Qadarullah Wa Ma Sya'a Fa'al, realita di lapangan menunjukan realitas sosial yang harus jadi perhatian bersama. Penolakan pembangunan Masjid begitu kuat disuarakan tidak saja oleh jamaah di sekitar lokasi tetapi juga dari wilayah di Jawa Barat.
Baca Juga: Marc Klok Kecewa Berat Persib Kalah 3-1 Dari Madura United
"Dengan segala kerendahan hati saya sampaikan, ilmu agama saya tidak cukup untuk memberikan respon yang Allah syariatkan, karena disini bukan siapa yang benar dan siapa yang salah, tapi bagaimana rumah Allah ini terbangun karena kesadaran bersama bahwa kita semua ingin kumpul di surganya. Dari pemahaman saya yang penuh dengan keterbatasan ilmu, saya bisa membaca bahwa penolakan tersebut juga menyentuh pada aspek pemahaman umat Islam tentang akidah dan intrepretasinya. Komunikasi yang terhambat juga meningkatkan eskalasi konflik," bebernya.
Bima juga memaparkan, bersama-sama dengan Forkopimda sudah berkali-kali dirinya berikhtiar untuk menjembatani perbedaan tersebut. Juga memberikan opsi-opsi solusi agar bisa tercapai kesepakatan, tapi sampai detik ini belum berbuah hasil.
"Saya ingat nasehat di sebuah majelis bahwa ulama mengatakan 'Masuklah melalui pintunya'. Sebagai pemimpin Insya Allah saya akan terus berusaha mencari pintu yang Allah ridhoi, tanpa mengedepankan hawa nafsu yang dikhawatirkan terjadi hal-hal yang memudharatkan kita semua. Bukan surga dan ridho Allah yang didapat, tapi bahkan murka Allah karena kita masuk dari pintu yang salah dan cara tanpa ilmu," paparnya.
"Siapa yang akan menjadi korban di sana. Allahu'alam Bishawab semoga Allah jaga. jangan sampai ada korban yang bahkan mereka tidak tahu menahu tentang ini, tapi hanya sekedar mencari nafkah untuk keluarganya. Semoga saya Jujur kepada Allah, ini bukan soal takut kehilangan popularitas atau tekanan kelompok tertentu, tapi benar-benar untuk menghindari hal-hal yang memudharatkan," tambah Bima.
Baca Juga: Buntut Kekalahan Persib, Taggar #ReneOut Menggema di Twitter
Bima menjabarkan, yang jadi kekhawatirkan adalah konflik kekerasan. Siapa yang akan menjadi korban di sana?, tentunya bukan Jemaah MIAH karena masjid belum terbangun, tapi pekerja bangunan yang ada di sana dan penjaga lokasi pembangunan masjid yang berasal dari wilayah Indonesia Timur. Insya Allah ini bukan soal takut kehilangan popularitas atau tekanan kelompok ter tentu. Tapi untuk menghindari jatuhnya korban. Mencegah terjadinya mudarat yang lebih besar.
"Apabila itu terjadi, maka konflik akan semakin panjang dan bahkan bisa meluas ke wilayah lain dan berdampak pada ukhuwah islamiyah yang senantiasa kita jaga bersama. Jikapun masjid dibangun dan kemudian bisa digunakan tempat ibadah, tapi apabila tidak terbangun harmoni dengan lingkungan dan warga maka akan terus berpotensi menimbulkan ledakan konflik," tutur Bima.
Bima menegaskan, itulah yang mendasari kesepakatan Wali Kota, seluruh unsur Forkopimda dan DPRD Kota Bogor dan MUI Kota Bogor untuk menggunakan Undang-Undang no 7/2012 tentang Penanganan Konflik Sosial dalam ikhtiar penyelesaian masalah ini. Wali kota menetapkan lokasi pembangunan masjid sebagai daerah konflik, mengevakuasi para pekerja dan penjaga serta terus mengupayakan proses mediasi diantara pihak yang ter libat konflik. Sejak hampir setahun ini dirinya ingin bertemu dengan Al Ustadz Fadhil Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizahullah.
"Saya ingin menyampaikan hal-hal yang saya khawatirkan dan mencari titik temu sesuai dengan nasihat Beliau. Tapi Qadarullah Wa Ma Sya'a Fa'al sampai tulisan ini disusun. Allah belum takdirkan saya bertemu beliau hafidzahullah. Demi Allah saya ingin kedamaian di Kota Bogor. Saya terima dengan ikhlas hujatan para Jemaah MIAH yang menganggap saya menghalang-halangi pembangunan MIAH, tapi mari kita sama-sama untuk menundukan hati ini, kita sama-sama sadari Allah kita sama dan Rasul kita sama Allah maha mengetahui yang ada di dalam hati hamba-Nya dan kita sama-sama sedang di uji dalam hal yang tidak mudah ini karena Allah menginginkan kita semua ke surganya," tegasnya.
Bima juga mengatakan, sebagai penutup, ijinkan dirinya menukil sabda Rasullullah Shallallahu'alaihi wasallam dalam sebuah Hadits, dari Alqamah bin Waqqash al-Laitsy. Aku mendengar Umar berkata aku mendengar Rasulullah bersabda isinya perbuatan tergantung dengan niat. Seseorang yang hijrahnya karena dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya mendapatkan apa yang memotivasinya melakukan hijrah. Seseorang yang hijrahnya menuju Allah dan Rasul-Nya, maka hi jrahnyapun menuju Allah dan Rasul-Nya.
"Semoga di bulan Muharam ini, bulan yang penuh berkah, Allah mudahkan kita untuk mendapatkan jalan keluar yang penuh dengan keberkahan. Mari kita saling berdoa agar kita di lindungi dari bisikan-bisikan syaithon yang meng inginkan kita terpecah sesama hambaNya. Allahul musta an. Hanya kepada Allah kami memohon pertolongan, Subhaabakallahumma wabihamdika, ashadu anlaa ilaaha illa anta astagfiruka waatuubu ilaik," pungkasnya. (rizki mauludi)***
Editor : inilahkoran

