BJBS Bidik 5.000 Jamaah Umrah

Sepanjang 2020 ini, PT Bank Jabar Banten Syariah (BJBS) bertekad mampu meningkatkan tren positif. Untuk itu, strategi utama yang kini dijalankan yakni fokus memperkuat pembiayaan haji dan umrah.

BJBS Bidik 5.000 Jamaah Umrah
Foto: Syamsuddin Nasoetion

INILAH, Bandung - Sepanjang 2020 ini, PT Bank Jabar Banten Syariah (BJBS) bertekad mampu meningkatkan tren positif. Untuk itu, strategi utama yang kini dijalankan yakni fokus memperkuat pembiayaan haji dan umrah.

Direktur Utama BJBS Indra Falatehan mengatakan, potensi pembiayaan haji dan umrah di Jabar itu relatif signifikan. Saat ini, Jabar berada di peringkat pertama sebagai daerah dengan jumlah penduduk muslim terbesar di Indonesia. Hal tersebut menjadi alasan yang menjadikan sistem ekonomi berbasis syariah berpotensi besar untuk dapat tumbuh berkembang.

Menurutnya, pada 2019 lalu realisasi pembiayaan haji BJBS jauh melampaui dari target. Semula, target yang dipatok sebanyak 1.000 jamaah calon haji. Namun, pada realisasinya mencapai 2.300 jamaah calon haji.

“Berdasarkan catatan itu, untuk pembiayan umrah pada 2020 ini kita menargetkan bisa mencapai 5.000 jamaah umrah. Untuk itu, dari 170an agen travel umrah kita sudah menggandeng dan bekerja sama dengan 17 agen travel umrah,” kata Indra di Bandung, Kamis (23/1/2020).

Dia meyakini pihaknya mampu merealisasikan target sasaran tahun ini. Terlebih, kini BJBS ditunjuk Kementerian Agama sebagai Bank Penerima Setoran Biaya Perjalanan Ibadah Umrah (BPS-BPIU). Sebelumnya, pada awal 2019 lalu BJBS ditunjuk Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menjadi Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaran Ibadan Haji (BPS-BPIH). 

Selain itu, Indra menyebutkan saat ini masyarakat kebanyakan meneggandrungi tren haji dan umrah yang dipengaruhi adanya experience spending. Fenomena ini terbentuk akibat daya beli masyarakat yang semakin membaik dan meningkatnya minat ibadah serta gaya hidup islami. Plus, angka pemberangkatan haji dan umrah di Jabar menunjukan grafik peningkatan di setiap tahunnya.

“Meski demikian, saya percaya prinsip ekonomi syariah tidak semata perihal mengikuti tren. Pada prinsipnya ada keberkahan ibadah dan ketenangan hati yang menjadi tujuan utama dari nilai-nilai syariah,” ucapnya.

Guna menggenjot kinerja tersebut, BJBS menyediakan beragam produk dan layanan yang menunjang praktik ibadah haji umrah. Satu diantaranya yakni aplikasi sistem komputerisasi pengelolaan terpadu umrah dan haji khusus (Siskopatuh) yang berperan sebagai media pembayaran biaya perjalanan dan asuransi. Aplikasi yang diakuinya milik Kementerian Agama itu berperan dalam mengawasi dan meningkatkan layanan umrah.

“Kenapa kita fokus pembiayaan umrah, itu karena dua alasan. Selain akan menambah NoA (number of account), pendapatan kita pun bisa meningkat dengan adanya fee based dari travel umrah yang nilainya signifikan,” ujar Indra seraya menyebutkan pada 2020 ini pun pihaknya akan fokus menggarap sektor pendidikan dan jasa kesehatan.

Selain fokus pada potensi haji dan umrah, Direktur Operasional dan Bisnis BJBS Dadang Iskandar mengaku pihaknya pun mendorong pertumbuhan di era digital banking. Kini, BJB berkomitmen untuk menjadikan layanan teknologi informasi memiliki peran penting dalam menopang bisnis perseroan. 

Terlebih, saat ini BJBS mengantongi ISO 20000-1:2011 IT Service Management System. Sertifikasi tersebut diakuinya diperlukan untuk meningkatkan kualitas dan keandalan layanan information technology (IT) kepada nasabah.

“Dengan adanya ISO 20000-1:2011 IT Service Management System itu diharapkan dapat meningkatkan pelayanan yang optimal bagi nasabah dan stakeholder,” kata Dadang.

Selain itu, Dadang menambahkan peningkatan layanan TI di bank bjb syariah untuk mempersiapkan pengembangan bisnis dalam rangka menghadapi tantangan era digital yang saat ini semakin berkembang pesat sehingga dengan adanya Sertifikasi ISO 20000-1:2011 IT Service Management System bank bjb syariah mampu masuk dalam persaingan pasar ekonomi digital.

Secara umum, pada 2019 lalu BJBS mencatatkan pertumbuhan positif dengan membukukan laba bruto sebesar Rp42,4 miliar dan peningkatan aset menjadi Rp7,7 triliun. Peningkatan aset tersebut didorong pertumbuhan dana pihak ketiga yang terealisasi sebesar Rp5,7 triliun. 

Pertumbuhan tersebut juga didukung dari sektor pembiayaan yang mampu menyalurkan Rp5,4 triliun sepanjang tahun lalu. Adapun komposisi pembiayaan berasal dari segmen produktif sebesar 32% dan konsumtif 68%. (dnr)


Editor : Doni Ramdhani