BLACKPINK dan BTS Sengaja Hilangkan Unsur Korea dalam Rilisan Terbaru K-Pop?
Saat ini banyak orang menilai bahwa BLACKPINK dan BTS sengaja hilangkan unsur Korea dalam K-Pop dirilisan terbaru mereka.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Di tahun 2026, grup global BLACKPINK dan BTS akhirnya melakukan comeback grup yang sangat dinantikan.
Rilisan terbaru dari BLACKPINK dan BTS telah memicu kembali perdebatan daring tentang apa sebenarnya yang diwakili oleh huruf "K" dalam K-Pop.
Saat BTS bersiap untuk comeback mereka dan BLACKPINK merilis lagu baru mereka 'GO', beberapa pengguna internet mulai mempertanyakan apakah genre ini perlahan-lahan kehilangan identitas Koreanya.
Di manakah elemen-elemen “K”? Diskusi dimulai setelah daftar lagu untuk album BTS mendatang, 'ARIRANG', yang dijadwalkan rilis pada 20 Maret 2025, terungkap.
Beberapa kritikus menyatakan kebingungan atas judul album tersebut, mencatat bahwa tidak satu pun judul lagu yang tampaknya menyertakan kata-kata Korea meskipun album tersebut merujuk pada lagu rakyat Korea yang ikonik, 'ARIRANG'.
Karena judul yang simbolis secara budaya, beberapa pendengar mengharapkan unsur Korea yang lebih kuat di seluruh proyek tersebut.
Kritik serupa baru-baru ini muncul terkait lagu terbaru BLACKPINK, 'GO'. Lagu tersebut menuai komentar daring yang menyatakan bahwa lagu itu tidak terasa seperti 'K-Pop'.
Para kritikus menunjuk pada struktur lagu yang asing bagi pendengar Korea dan ketiadaan lirik Korea sebagai alasan mengapa lagu tersebut terasa terlepas dari identitas genre tersebut.
Hal ini memunculkan pertanyaan yang lebih besar: apa sebenarnya arti huruf “K” dalam K-Pop? Bagi banyak pengamat, bahasa mungkin merupakan penanda identitas yang paling jelas.
Bahkan ketika grup idola menyertakan member internasional, lirik berbahasa Korea secara tradisional menandakan bahwa grup tersebut termasuk dalam industri hiburan Korea.
Oleh karena itu, bahasa menjadi salah satu elemen budaya yang paling terlihat yang membedakan K-Pop dari musik pop global.
Signifikansi Budaya di Luar K-Pop
Perbandingan yang bermanfaat dapat ditemukan dalam karier artis Latin Bad Bunny. Meskipun musiknya sering menggabungkan struktur pop global, dia terus tampil terutama dalam bahasa Spanyol.
Identitas linguistik tersebut membantu memperkuat signifikansi budayanya dan bahkan berkontribusi pada pengakuan bersejarahnya di Grammy Awards, di mana dia memenangkan penghargaan bergengsi 'Album of the Year'.
Namun, jika kita meneliti K-Pop murni dari perspektif musik, mendefinisikan elemen "K" -nya menjadi jauh lebih rumit.
Melodi yang menarik dan pola ritme yang sering dikaitkan dengan K-Pop, yang terkadang digambarkan oleh pendengar Korea sebagai "cita rasa" yang unik dan adiktif, sebagian besar merupakan reinterpretasi dari gaya musik pop Barat.
Dari popularitas awal new jack swing di K-Pop generasi pertama hingga tren selanjutnya seperti EDM dan hip-hop, sebagian besar genre yang mendominasi dunia idola Korea berasal dari pasar musik Barat.
Bahkan suara elektronik yang umum di K-Pop saat ini mengikuti tren global yang lebih luas. Terlepas dari eksperimen sesekali seperti lagu 'Daechwita' milik Suga BTS, yang menggabungkan elemen musik tradisional Korea, genre ini selalu ada berdampingan dengan pop global.
Grup boy band besar Amerika pada tahun 1990-an, seperti NSYNC, mempopulerkan konsep para penampil muda yang menarik bernyanyi dan menari bersama sebagai sebuah grup.
Sementara itu, sistem pelatihan terorganisir yang banyak digunakan di K-Pop saat ini dipengaruhi oleh industri hiburan Jepang.
Pendiri SM Entertainment, Lee SooMan, terkenal mengambil inspirasi dari agensi Jepang Johnny's, di mana para trainee yang dikenal sebagai "Junior" dilatih secara ekstensif dan bahkan tampil sebagai penari latar sebelum debut.
Mengingat bahwa baik musik maupun sistem di balik K-Pop mengandung pengaruh global yang kuat, hal ini menimbulkan pertanyaan lain: dapatkah grup seperti BTS dan BLACKPINK benar-benar dipisahkan dari label 'K-Pop,' hanya karena musik mereka terkadang kurang memiliki unsur Korea yang jelas?
Terlepas dari perdebatan ini, pengaruh global K-Pop tetap tak terbantahkan. Penggemar dari seluruh dunia terus mengunjungi Korea Selatan, berkontribusi pada pariwisata dan konsumsi budaya.
Menurut Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan, negara tersebut menyambut lebih dari 18,5 juta pengunjung asing tahun lalu, melampaui rekor sebelumnya sebesar 17,5 juta yang ditetapkan pada tahun 2019 selama puncak booming global K-Pop.
Dampak ekonomi dari industri ini juga signifikan. Data pemerintah dari Survei Industri Konten 2025 menunjukkan bahwa industri musik Korea Selatan menghasilkan pendapatan sebesar 13,27 triliun won pada tahun 2024.
Bahkan momen budaya kecil pun dapat menghasilkan efek riak global. Misalnya, ketika Jungkook BTS membagikan resep yang menampilkan saus Buldak pedas di media sosial, penjualan produk tersebut di luar negeri dilaporkan melonjak.
Namun, bagi banyak pendengar Korea di usia akhir 20-an dan 30-an, masih ada nostalgia terhadap suara khas K-Pop tahun 2010-an.
Beberapa merasa bahwa "nuansa K-Pop" yang familiar dari era itu telah memudar dalam beberapa tahun terakhir. Namun kenyataannya, lanskap pop global juga telah berubah secara dramatis sejak saat itu.
Seiring K-Pop terus berkembang di seluruh dunia, industri ini mungkin menghadapi pertanyaan penting: bagaimana menyeimbangkan popularitas global dengan identitas budaya?
Jika genre ini berharap menghasilkan artis yang mampu memenangkan penghargaan global besar seperti Grammy, para pemimpin industri mungkin perlu mempertimbangkan kembali di mana K-Pop seharusnya berada di antara aksesibilitas internasional dan keaslian Korea.***
Editor : Irma Nurfajri

