INILAHKORAN, Bogor-Dengan berat tubuh 260 Kg akibat meningkatnya timbunan lemak dibawah perutnya selama lima bulan lebih, Singgih Sugiarto hanya bisa melakukan segala aktivitas termasuk buang air kecil maupun besar di atas kasurnya yang tipis.
Ayah satu orang anak itu pun tak bisa mencari nafkah untuk keluarga kecilnya, ia terpaksa mengungsi ke rumah orang tua dan di rawat oleh ibu kandungnya di Gang Oli RT 03 RW 13 Kampung Pos, Pabuaran, Cibinong, Kabupaten Bogor.
Sementara sang istri juga harus merawat ibu mertuanya yang sakit stroke di Jampang Surade, Kabupaten Sukabumi. Untungnya, sang istri masih bisa bekerja menjadi guru honorer.
Pria berusia 42 tahun itu pun butuh uluran bantuan atau donasi uang puluhan juta rupiah untuk melakukan operasi bedah lemak (Liposuction), ia berharap bobot tubuhnya kembali normal hingga bisa bekerja lagi.
"Sudah lima bulan terakhir saya hanya duduk dan tidur di atas kasur, karena berat saya terus bertambah hingga 260 Kg seiring meningkatnya timbunan lemak di bawah perut. Saya berharap donas Bupati, Wali Kota Bogor hingga Gubernur Jawa Barat agar saya dapat melakukan operasi bedah lemak," kata Singgih kepada wartawan, Senin, (07/02/2022).
Singgih yang aslinya warga Babakan Peundeuy RT 03 RW 03 Baranangsiang, Bogor Timur, Kota Bogor ini khawatir, dirinya mengalami anfal atau serangan jantung karena kerap mengalami sesak nafas akibat makin membesarnya lemak dibawah perutnya.
"Saya takut kena serangan jantung, karena timbunan lemak dibawah perut membuat saya sering mengalami sesak nafas," sambungnya.
Alumni Fakultas Agama Islam UIKA ini menuturkan bahwa dirinya bingung atas tubuhnya, karena walaupun tumbuh timbunan lemak di bawah perutnya, oleh dokter di Rumah Sakit Fatmawati, dirinya dinyatakan sehat.
"Saya dinyatakan sehat oleh dokter dan diperbolehkan pulang, namun saya hingga kini tidak bisa apa-apa, bahkan semua aktivitas saya, dilakukan di tempat tidur dengan bantuan ibu," tutur Singgih.
Hj. Rubianto (72 tahun) ibu Singgih memaparkan dirinya hampir tidak bisa istirahat dan kerap berjaga malam hari di ruang tamu rumahnya, karena anak ke 4 dari 5 bersaudara tersebut butuh perawatan dan kasih sayangnya.
"Saya bingung, Singgih mau dirawat di rumah sakit duitnya kurang. Sudah setua ini, saya masih merawat Singgih hampir setiap saat. Dia setengah jam sekali buang air kecil di dalam kamarnya dan saya yang selalu membersihkan," papar Hj Rubianto.
Ia melanjutkan, dengan modal uang pensiunan almarhum ayah Singgih yang merupakan anggota TNI Angkatan Darat. Tidak memungkinkan untuk membayar jasa perawat.
"Boro-boro buat bayar jasa perawat, uang pensiun TNI Angkatan Darat almarhum suami hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari, itu pun dicukup-cukupi karena besar uang pensiunnya hanya Rp 1 juta perbulan," lanjutnya. (Reza Zurifwan)***