Bonus Atlet KBB Dipangkas, Pengurus Cabor Meradang

Kekecewaan terhadap Bupati Bandung Barat Hengki Kurniawan mengemuka saat ada wacana bonus atlet KBB dipangkas. 

Bonus Atlet KBB Dipangkas, Pengurus Cabor Meradang
Para pengurus cabor di KBB kecewa lantaran adanya informasi bonus atet KBB dipangkas. Pemangkasannya, peraih medali pada ajang Porprov XIV Jabar 2022 dari Rp50 juta menjadi Rp25 juta. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Kekecewaan terhadap Bupati Bandung Barat Hengki Kurniawan mengemuka saat ada wacana bonus atlet KBB dipangkas

Para pengurus cabor di KBB kecewa lantaran adanya informasi bonus atet KBB dipangkas. Pemangkasannya, peraih medali pada ajang Porprov XIV Jabar 2022 dari Rp50 juta menjadi Rp25 juta.

Kebijakan tersebut membuat para pengurus cabor meradang lantaran wacana bonus atlet KBB dipangkas itu tidak sesuai dengan janji Pemda KBB yang sebelumnya akan menganggarkan bonus atlet sebesar Rp 50 juta bagi para atlet peraih medali emas. 

"Dalam Surat Keputusan (SK) penetapan dana bonus buat atlet Porprov peraih medali emas itu, besarannya Rp50 juta," kata Ketua Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) KBB Dedi Suprapto kepada wartawan.

Kendati demikian, belakangan ini muncul isu bahwa besaran bonus atlet tersebut turun menjadi Rp25 juta. Menurutnya, jika hal tersebut dilakukan apa yang menjadi dasar perubahan nomenklatur dari SK sebelumnya.

"Saya gak bisa bayangkan reaksi para atlet karena surat penetapan nominal bonus atlet sudah beredar dimana mana. Sekarang mau diubah angkanya, bagaimana cara mempertanggungjawabkannya," jelasnya.

Ia menilai, jika ada perubahan anggaran menjadi turun tanpa melalui mekanisme, pihaknya tidak menutup kemungkinan akan melakukan gugatan.

"Kalau faktanya dalam nomenklatur Rp50 juta, tapi ternyata cuma Rp25 juta. Apa boleh buat. Dari pada saya busuk di depan atlet saya, lebih baik saya akan hadapi," tegasnya. 

Selain itu, jika Pemda Bandung Barat keukeuh hanya memberikan bonus sebesar Rp25 juta, maka dikhawatirkan para atlet andalan KBB pindah ke daerah lain.

Sebab, yang perlu digaris bawahi dalam persoalan bonus atlet, bukan sekedar lari ke daerah lain saja. Namun juga membunuh semangat atlet lainnya yang sedang berjuang  untuk berprestasi. 

"Ingat bukan hanya masalah nominal di sini, tapi masalah psikologis juga," ujarnya.

Sebagai Ketua Pengcab Menembak, lanjut dia, dirinya tak lantas mundur ketika Pemda Bandung Barat memandang sebelah mata perjuangan atletnya.

"Kalau saya dan atas nama lembaga, secara pribadi sekalipun bumi mau runtuh, atlet akan tetap saya perjuangkan," tegasnya. 

Ia menuturkan, perjuangan Pengcab Menembak untuk bisa meraih medali emas pada saat Porprov XIV Jabar kemarin sangat berat dengan kondisi keuangan yang sangat terbatas.

Menurutnya, pihaknya harus berjibaku, demi mengangkat nama KBB dalam olahraga berprestasi ini. Bagi Perbakin sendiri yang berhasil meraih medali 4 emas, 5 perak dan 4 perunggu, cukup kewalahan dengan anggaran seadanya.

"Di detik-detik terakhir saja, kita kewalahan dengan pengadaan peluru. Coba bayangkan, satu peluru harga yang normal saja Rp6.500 pada saat di injury time harganya sudah Rp10 ribu," sebutnya.

Meski begitu, kondisi berat tersebut dilalui Pengcab dengan satu tekad bisa membawa harum nama KBB. Jadi kalau urusan bonus saja hingga kini Pemda KBB belum memberikan kejelasan menjadi pertanyaan para cabor.

"Kita pengcab bersama atlet, pelatih dan mekanik sudah berjuang mati-matian demi mengangkat nama daerah, kok masih saja seperti ini," pungkasnya.*** (agus satia negara)


Editor : Doni Ramdhani