BPBD Jabar Ungkap Penyebab Utama Karhutla Saat Kemarau

BPBD Jabar sebut karhutla atau kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau kebanyakan disebabkan oleh kelalaian manusia

BPBD Jabar Ungkap Penyebab Utama Karhutla Saat Kemarau
Dua orang petugas pemadam kebakaran tengah memadamkan api yang membakar lahan dan hutan. Foto ilustrasi

INILAHKORAN.ID - Musim kemarau yang mulai mengeringkan sejumlah wilayah di Jawa Barat, membawa ancaman kebakaran yang tidak bisa dianggap remeh. 

Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat menegaskan, sumber bahaya terbesar bukan berasal dari cuaca ekstrem, melainkan perilaku manusia yang abai terhadap risiko kebakaran.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun mengungkapkan, sebagian besar kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Jawa Barat selama ini dipicu aktivitas manusia. Mulai dari puntung rokok yang dibuang sembarangan, pembakaran sampah, hingga api unggun atau perapian yang ditinggalkan tanpa dipastikan benar-benar padam.

"Karhutla tuh di kita biasanya bukan seperti di luar negeri, yang akibat panas berlebihan, bergesekan kemudian menimbulkan api, tapi rata-rata akibat puntung rokok, bikin perapian kemudian lupa dimatikan dan membakar sampah," ungkap Teten, Senin (27/7/2026).

Maka dari itu, BPBD Jabar meminta masyarakat lebih disiplin dalam beraktivitas, terutama di kawasan terbuka, perkebunan, perbukitan, dan area yang dipenuhi vegetasi kering.

Selain ancaman Karhutla, BPBD Jabar juga menyoroti tingginya risiko kebakaran permukiman yang kerap dipicu instalasi listrik tidak layak pakai. Kabel yang sudah tua, sambungan listrik semrawut, serta penggunaan daya yang melebihi kapasitas menjadi faktor yang sering memicu korsleting.

"Periksa juga aliran listrik, kira-kira ditemukan listrik yang tidak stabil dan kabel-kabelnya sudah kadaluarsa segera lakukan perbaikan melalui petugas PLN," ucapnya.

Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan saat terjadi pemadaman listrik. Penggunaan lilin sebagai sumber penerangan darurat harus dilakukan secara hati-hati dan dijauhkan dari benda-benda yang mudah terbakar.

"Kalau misalnya sekarang ada pemadaman api ya jangan menggunakan lilin yang berdekatan dengan lilin atau apa pun juga yang berdekatan dengan barang-barang yang berbahaya," katanya.

Teten menjelaskan, karakteristik musim kemarau membuat kebakaran lebih cepat membesar dan meluas. Minimnya kelembapan udara, kondisi vegetasi yang mengering, serta hembusan angin yang relatif kencang dapat mempercepat penyebaran api dalam waktu singkat.

Kondisi tersebut, lanjut dia, menjadi salah satu faktor yang memperparah kebakaran, contohnya yang terjadi di Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Di mana dalam hitungan kurang dari satu jam, puluhan bangunan hangus terbakar akibat kombinasi material bangunan yang mudah terbakar dan terpaan angin.

"Apalagi yang di daerah pegunungan, jadi kejadian yang kemarin itu (kampung adat) cepat sekali, dalam waktu sejam sudah habis disamping material yang mudah terbakar, kedua anginnya," ujarnya.

Pihaknya berharap, tragedi serupa tidak terulang di wilayah lain. Kesadaran masyarakat dinilai menjadi kunci utama untuk menekan potensi kebakaran selama musim kemarau, mengingat sebagian besar insiden berawal dari kelalaian yang sebenarnya dapat dicegah.

Sementara itu, penanganan warga terdampak kebakaran di Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya terus berjalan. Pemerintah telah menyalurkan bantuan logistik dan kebutuhan dasar kepada seluruh keluarga korban, termasuk mereka yang memilih tinggal bersama kerabat.

Menurut Teten, tidak semua warga terdampak menempati fasilitas pengungsian yang telah disiapkan pemerintah. Sebagian memilih mengungsi ke rumah saudara sebagai bentuk solidaritas dan gotong royong yang masih kuat dalam kehidupan masyarakat adat setempat.

"Kita support dengan logistik-logistik yang diperlukan dan kita sebetulnya di sana sudah siapkan tenda tapi ada kearifan-kearifan lokal bahwa di sana mereka harus di saudaranya gitu ya, sebagai bagian daripada gotong royong," tutupnya. 


Editor : Ahmad Sayuti